Bakteriologi Enterobacteriaceae (Escherichia Coli, Salmonella, Shigella)
MAKALAH ILMU DASAR
KEPERAWATAN III
KONSEP BAKTERIOLOGI
ENTEROBACTERIACEAE (ESCHERICHIA COLI, SALMONELLA, SHIGELLA)

DOSEN PEMBIMBING
AINUN MASFUFAH, S.Si.,
M.Ked.Trop
DISUSUN OLEH
KELOMPOK 1 :
Moh Jimly Asshiddiqy (16142010070)
Nanda Pratama Hidayatullah (16142010071)
Rischa Kurnia Badriana (16142010077)
Yuliani Firdaus (16142010087)
SEKOLAH TINGGI ILMU
KESEHATAN NGUDIA HUSADA MADURA
TAHUN AJARAN 2017
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum
Wr.Wb
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat dan rahmatNya kami dapat
menulis makalah ini yang berjudul ‘KONSEP BAKTERIOLOGI
ENTEROBACTERIACEAE (ESCHERICHIA COLI, SALMONELLA, SHIGELLA)”
hingga selesai. Meskipun dalam makalah ini kami mendapat banyak yang menghalangi, namun
mendapat pula bantuan dari beberapa pihak baik secara moral, materil maupun
spiritual.
Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih pada dosen
pembimbing serta semua pihak yang telah memberikan sumbangan dan saran atas
selesainya penulis makalah ini. Di dalam penulisan makalah ini kami menyadari bahwa masih ada
kekurangan-kekurangan mengingat keterbatasannya pengetahuan dan pengalaman kami. Oleh sebab itu, sangat di harapkan kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun untuk melengkapkan makalah
ini dan berikutnya.
Bangkalan
18 Maret 2017
Kelompok
1
DAFTAR ISI
KONSEP BAKTERIOLOGI
ENTEROBACTERIACEAE (ESCHERICHIACOLI, SALMONELLA, SHIGELLA)
Kata Pengantar.................................................................................................................. i
Daftar Isi............................................................................................................................ ii
BAB 1
PENDAHULUAN
Latar belakang................................................................................................................ 1.1
Rumusan masalah........................................................................................................... 1.2
Tujuan............................................................................................................................. 1.3
Manfaat........................................................................................................................... 1.4
BAB 2
PEMBAHASAN TINJAUAN PUSTAKA
Definisi Enterobacteriaceae........................................................................................... 2.1
Bakteri Escherichia coli.................................................................................................. 2.2
Anatomi dan Morfologi Bakteri Escherichia coli......................................................... 2.3
Patogenesis dan Patologi Bakteri Escherichia coli....................................................... 2.4
Gambaran Klinis
Escherichia coli................................................................................. 2.5
Diagnosis Escherichia
coli.............................................................................................. 2.6
Pengobatan dan
Pencegahan Escherichia coli............................................................. 2.7
Definisi Bakteri
Salmonella typhi.................................................................................. 2.8
Anatomi dan Morfologi
Salmonella typhi..................................................................... 2.9
Patogenesis dan Patologi
Salmonella typhi................................................................. 2.10
Gambaran Klinis
Salmonella typhi............................................................................. 2.11
Daignosis Salmonella
typhi........................................................................................... 2.12
Pengobatan dan
Pencegahan Salmonella typhi.......................................................... 2.13
Definisi Bakteri
Shigella dysentrieae........................................................................... 2.14
Anatomi dan Morfologi
Shigella dysentrieae............................................................. 2.15
Patogenesis dan Patologi
Shigella dysentrieae............................................................ 2.16
Gambaran Klinis Shigella
dysentrieae........................................................................ 2.17
Daignosis Shigella
dysentrieae..................................................................................... 2.18
Pengobatan dan
Pencegahan Shigella dysentrieae.................................................... 2.19
BAB 3
PENUTUP
Kesimpulan...................................................................................................................... 3.1
Saran...............................................................................................................................
3.2
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................... 4.1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bakteri patogen pada saluran cerna merupakan
golongan bakteri yang dapat menyebabkan penyakit infeksi pada saluran cerna
manusia. Jenis bakteri yang paling sering menyebabkan penyakit infeksi pada
saluran cerna adalah bakteri-bakteri famili Enterobacteriaceae. Bakteri ini
dapat hidup dalam usus manusia dan hewan, dalam tanah, dan dalam air. Karena
hidup dalam usus besar manusia, bakteri-bakteri ini sering disebut dengan
bakteri enterik.
Sebagian besar bakteri enterik tidak
menimbulkan penyakit pada hopes bila bakteri tetap berada dalam usus besar.
Akan tetapi, dalam kondisi tertentu, apabila bakteri dapat masuk ke dalam
bagian tubuh lain, banyak bakteri enterik dapat menyebabkan penyakit pada
jaringan tubuh manusia.
Beberapa spesies Enterobacteriaceae yang sering menyebabkan infeksi pada
saluran cerna manusia adalah adalah Escherichia
coli, Salmonella, Shigella, dan
Yersinia enterolitica.
Enterobacteriaceae
merupakan bakteri Gram-negatif yang bersifat anaerob fakultatif dan oksidase negatif.
Bakteri ini sering ditemukan pada feses dan bagian tubuh yang terinfeksi. Semua
bakteri enterik meragi glukosa menjadi asam dengan atau tanpa disertai
pembentukan gas; mereduksi nitrat menjadi nitrit; ada yang membentuk intol dan
ada yang tidak. Perbedaan jenis karbohidrat yang dapat difermentasi, produk
akhir metabolisme, dan substrat yang digunakan menjadi dasar pembagian spesies
Enterobacteriaceae. Beberapa serotipe dapat dibedakan berdasarkan struktur
antigen bakteri, yaitu antigen O (lipoposakarida), antigen H (flegel), dan
antigen K (kapsul).
Beberapa
jenis bakteri lain yang juga dapat menimbulkan kelainan pada saluran cerna
adalah Vibrio, Clostridium, Bacillus,
Campylobacter, dan Helicobacter.
Staphylococcus dapat menyebabkan gangguan pencernaan akibat keracunan
makanan yang ditimbulkan oleh bakteri ini.
1.2 Rumusan
Masalah
1.
Apa definisi pada
bakteri Enterobactericeae?
2.
Apa saja
macam-macam bakteri yang tergolong pada bakteri Enterobactericeae?
3.
Bagaimana anatomi
dan morfologi pada bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, dan Shigella
dysentriae?
4.
Bagimana
patogenesis dan patologi pada bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, dan
Shigella dysentriae?
5.
Bagaimana gambaran
klinis pada bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, dan Shigella
dysentriae?
6.
Bagiamana diagnosis
laboratorium pada bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, dan Shigella
dysentriae?
7.
Apa saja cara
pengobatan dan bagaimana cara pencegahan pada bakteri Escherichia coli,
Salmonella typhi, dan Shigella dysentriae?
1.3 Tujuan
1.
Mengetahui definisi
dari Enterobaktericeae.
2.
Mengetahui
macam-macam bakteri pada bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, dan
Shigella dysentriae.
3.
Mengetahui anatomi
dan morfologi pada bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, dan Shigella
dysentriae.
4.
Mengatahui
patogenensis dan patologi pada bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, dan
Shigella dysentriae.
5.
Mengetahui gambaran
klinis pada bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, dan Shigella
dysentriae.
6.
Mengatahui
diagnosis laboratorium pada bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, dan
Shigella dysentriae.
7.
Mengatahui cara
pengobatan dan pencegahan pada bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, dan
Shigella dysentriae.
1.4 Manfaat
Manfaat dari pembuatan makalah ini, baik bagi kami maupun
bagi teman-teman sebagai sarana wawasan dan pengetahuan mengenai beberapa hal
yang berkenaan dengan macam-macam bakteri Enterobactericeae yang sering
ditemukan pada kalangan mahasiswa/mahasiswi maupun pada kalangan masyarakat.
BAB 2
PEMBAHASAN TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Enterobacteriaceae
Anggota dari famili Enterobacteriaceae adalah
bakteri Gram negatif fakultatif anaerobik berbentuk batang yang dapat bersifat
motif dan non motif; strain bakteri motil mempunyai flagella peritrik. Semua
spesies berkembang biak pada media buatan dan mengubah glukosa, dimana mereka
berbentuk asam atau asam dan gas. Bakteri-bakteri tersebut juga memproduksi
enzim katalase. Dengan beberapa pengecualian pada genus Erwinia, anggota dari Enterobacteriaceae mereduksi nitrat menjadi
nitrit. Komposisi antigeniknya terdiri dari sebuah mozaik hubungan serologik
yang saling mengisi diantara beberapa genus. Famili ini termasuk saprofit,
parasit hewan dan beberapa parasit tanaman.
Pengkajian hormologi DNA telah menunjukkan bahwa
kebanyakan spesies dalam genus Enterobacteriaceae setidaknya 20% saling
berhubungan satu dengan yang lain dan dengan tipe spesiesnya, yaitu Escherichia coli. Hampir semua spesies mempunyai
antigen enterobacterial. Hanya sejumlahkecil genus yang mempunyai spesies yang
menyebabkan penyakit pada hewan. Bakteri-bakteri tersebut adalah Enterobacter, Escherichia, Klebsiela,
Proteus, Salmonella, Seratia dan Yersinia.
Secara keseluruhan kelompok ini memiliki sifat
khas yaitu mampu tumbuh secara aerobik maupun anaerobik (anerobik fakultatif)
pada beraneka macam karbohidrat. Anggota dari genus Enterobacter, Serratia,
Proteus dan Erwinia umumnya dapat diisolasi dari tanah dan air, karenanya sering
mencemari bahan pangan segar.
Spesies Erwinia menyebabkan busuk lunak dan
nekrosis dari sayuran dan buah-buahan karena produksi enzim pemecahan
polisakarida. Spesies Serratia membentuk pigmen kemerah-merahan dipermukaan
beberapa bahan pangan. Spesies proteus
(Proteus vulgaris) telah diidentifikasi dalam kerusakan telur dan
daging, juga sering menyebabkan pembusukan protein buah pangan. Beberapa genus
Enterobactericeae berbahaya bagi kesehatan masyarakat karena menimbulkan wabah
keracunan pangan dan penyakit infeksi yang ditularkan melalui makanan yang
cukup serius. Organisme seperti ini yang umumnya terdapat dalam alat pencernaan
ternak, termasuk spesies Salmonella dan
Shigella, Escherichia coli dan Yersinia enterolitica.
2.2 Bakteri Escherichia coli
Escherichia coli adalah bakteri yang berbentuk
batang pendek (Basil) tergolong dalam Gram negatif dan hidup dalam saluran
pencernaan atau usus baik pada hewan dan manusia. Escherichia coli yang
mencemari bahan makanan bersala dari tinja manusia, sehingga keberadaannya pada
bahan makanan atau ikan segar menunjukkan adanya ancaman kesehatan pada
konsumen (manusia), sebab dapat diartikan bahwa bahan makanan telah tercemar
oleh tinja manusia, oleh karena itu Escherichia coli dipakai sebagai indikator
cemaran yang berbahaya bagi manusia dan hewan.
Ancaman yang dapat membahayakan kesehatan
konsumen, sebab beberapa strain Escherichia coli bersifat patogen yang dapat
menyerang manusia maupun hewan. Hal ini disebabkan oleh kemampuan bakteri
Escherichia coli memproduksi toxin yang dapat menyebabkan timbulnya gastro
enteritis pada manusia dan hewan yang ditandai dengan gejala diare, demam
kadang disertai muntah bahkan kematian.
Binatang ternak terutama sapi, domba, dan kambing
merupakan reservoar bakteri EHEC. Kotoran hewan yang mengandung bakteri ini
dapat mengonstaminasi daging atau susu yang kemudian diolah kurang sempurna.
Sayuran dari kebun-kebun yang diairi air sungai
yang terkontaminasi kotoran hewan, juga berpeluang memicu diare. Karena itu,
mereka yang gemar memakan sayuran segar atau lalapan harus mencuci bersih
sayuran itu sebelum dimakan. Sedangkan penggemar produk hewan dianjurkan
memanaskan bahan makanan itu secara merata pada suhu yang dianjurkan para
peternak sapi, domba, atau kambing juga harus selalu mencuci tangan setelah
bekerja di kandang ternak.

Gambar : Bakteri Escherichia coli
Klasifikasi
Ilmiah Escherichia coli :
Domain : Bacteria
Phylum : Proteobacteria
Order : Enterobacteriales
Family : Enterobactericeae
Genus : Eschericha
Spesies : Escherichia coli
2.3
Anatomi dan Morfologi
Escherichia coli
Escherichia
coli termasuk dalam famili Enterobacteriaceae.
Bakteri ini merupakan bakteri Gram-negatif, berbentuk batang pendek (kokobasil),
mempunyai flagel, berukuran 0,4-0,7 µm x 1,4 µm, dan mempunyai simpai. Escherichia
coli tumbuh dengan baik di hampir semua media perbenihan, dapat meragi
laktosa, dan bersifat mikroaerofilik
Escherichia
coli adalah kuman oportunitis yang banyak ditemukan di dalam usus besar manusia
sebagai flora normal. Sifatnya unik karena dapat menyebabkan infeksi primer
pada usus misalnya diare pada anak-anak dan travelersdiarhea. Selama
bertahun-tahun Escherichia coli
dicurigai sebagai salah satu penyebab diare yang timbul pada manusia khususnya
pada anak-anak yang mengakibatkan kematian.
2.4
Patogenesis dan Patologi
Escherichia coli
Hampir semua hewan berdarah panas dapat
dikolonisasi oleh Escherichia coli
hanya dalam beberapa jam atau beberapa hari setelah dilahirkan. Kolonisasi pada
bayi dapat terjadi oleh bakteri yang ada dalam makanan atau air atau dengan
kontak langsung melalui pengasuh bayi. Kolonisasi Escherichia coli dalam saluran cerna manusia biasanya terjadi
setelah 40 hari dilahirkan. Escherichia coli
dapat melekat pada usus besar dan dapat bertahan selama beberapa bulan
bahkan beberapa tahun. Perubahan populasi Escherichia
coli terjadi dalam periode lama. Hal ini dapat terjadi setelah infeksi usus
atau setelah penggunaan kemoterapi atau anti mikroba yang dapat membunuh flora
normal.
Lebih dari 700 serotipe antigenik Escherichia coli telah dikenal
berdasarkan perbedaan struktur antigen O (antigen somatik), H (antigen flagel),
dan K (antigen kapsul, selubung). Sebagai contoh, Escherichia coli serotipe O157:H7 menunjukkan bahwa serotipe
bakteri ini dibedakan berdasarkan jenis antigen O157 dan antigen H7.
Beberapa galur Escherichia
coli menjadi penyebab infeksi pada manusia, seperti infeksi saluran kemih,
infeksi meningitis pada neonatus, dan infeksi intestin (gastroenteritis).
Ketiga penyakit infeksi tersebut sangat bergantung pada ekspresi faktor
virulensi masing-masing serotipe Escherichia
coli, termasuk adanya adhesin,
invasin, jenis toksin yang diproduksi dan kemampuan mengatasi pertahanan tubuh
hospes.
Infeksi Escherichia
coli sering kali berupa diare yang disertai darah, kejang perut, demam, dan
terkadang dapat menyebabkan gangguan pada ginjal. Infeksi Escherichia coli pada beberapa penderita, anak-anak dibawah 5
tahun, dan orang tua dapat menimbulkan komplikasi yang disebut dengan sindrom
uremik hemolitik. Sekitar 2-7% infeksi Escherichia
coli menimbulkan komplikasi.
Selain diare, penyakit-penyakit lain yang
disebabkan oleh Escherichia coli adalah infeksi saluran kemih, pneumonia,
meningitis pada bayi baru lahir dan infeksi luka terutama luka didalam abdomen
(Jawetz, Melnick dan Adelberg’s 2005)
Sebagian besar penyakit yang disebabkan oleh
infeksi Escherichia coli ditularkan
melalui makanan yang tidak dimasak dan daging yang terkontaminasi. Penularan
penyakit dapat terjadi melalui kontak langsung dan biasanya terjadi di tempat
yang memiliki sanitasi dan lingkungan yang kurang bersih.
Escherichia
coli adalah spesies yang
paling penting dari genus Escherichia dan merupakan flora normal yang dapat
menyebabkan infeksi pada saluran kencing, luka, bakterimia, septisemia dan
meningitis serta infeksi gastrointestinal (Gaani A, 2003). Sehubungan dengan infeksi intestin
(infeksi pada usus) dikenal lima jenis Escherichia
coli, yaitu :
a.
Escherichia coli Enteropatogenic (EPEC)
Jenis ini merupakan penyebab utama
diare pada bayi. EPEC memiliki fimbria, toksin yang tahan terhadap panas (ST),
dan toksin yang tidak tahan panas (LT), serta menggunakan adhesin, yang dikenal dengan intimin, untuk melekat pada sel mukosa
usus. Infeksi EPEC mengakibatkan diare berair yang biasanya dapat sembuh
sendiri, tetapi ada juga yang menjadi kronis. Lama diare yang disebabkan oeh
EPEC dapat diperpendek dengan pemberian antibiotik.
b.
Escherichia coli Enterotoksigenik (ETEC)
ETEC merupakan bakteri penyebab diare pada anak dan wisatawan yang bepergian ke daerah yang bersanitasi buruk. Oleh karena itu, diare yang disebabkan oleh jenis bakteri ini dinamakan diare wisatawan. Faktor kolonisasi ETEC yang spesifik untuk manusia adalah fimbiral adhesin. Faktor ini menyebabkan ETEC dapat melekat pada epitel usus halus sehingga biasanya menyebabkan diare tanpa demam. Beberapa galur bakteri ini menghasilkan eksotoksin yang tidak panas (LT). Struktur molekul dan fungsi LT mirip dengan protein toksin kolera (86 kDa). Subunit melekat pada gangliosida GMI pada brush border sel epitel usus halus dan memudahkan subunit A masuk ke dalam sel sehingga dapat mengaktifkan adenilat siklase.
ETEC merupakan bakteri penyebab diare pada anak dan wisatawan yang bepergian ke daerah yang bersanitasi buruk. Oleh karena itu, diare yang disebabkan oleh jenis bakteri ini dinamakan diare wisatawan. Faktor kolonisasi ETEC yang spesifik untuk manusia adalah fimbiral adhesin. Faktor ini menyebabkan ETEC dapat melekat pada epitel usus halus sehingga biasanya menyebabkan diare tanpa demam. Beberapa galur bakteri ini menghasilkan eksotoksin yang tidak panas (LT). Struktur molekul dan fungsi LT mirip dengan protein toksin kolera (86 kDa). Subunit melekat pada gangliosida GMI pada brush border sel epitel usus halus dan memudahkan subunit A masuk ke dalam sel sehingga dapat mengaktifkan adenilat siklase.
ETEC juga memproduksi toksin yang
tahan terhadap panas (ST). Toksin ini tahan dalam air mendidih selama 30 menit.
Enterotoksin yang stabil terhadap pemanasan ini merupakan peptida yang memiliki
bobot molekul sekitar 4000 dalton. Karena ukurannya yang kecil inilah, toksin
ST diperkirakan sulit diinaktikan oleh pemanasan. Toksin ini dapat menyebabkan
konsentrasi guanosin monofosfat siklik dalam sitoplasma hospes meningkat
konsentrasi adenosin monofosfat setempat (cAMP). Hal ini menimbulkan
hipersekresi air dan klorida secara terus menerus dan lama dan disertai
penghambatan resorpsi natrium. Lumen usus teregang oleh cairan dan
mengakibatkan hipermotilitas dan diare.
Untuk menghindari diare wisatawan, sangat dianjurkan untuk berhati-hati
dalam memilih makanan yang memungkinkan terkontaminasi oleh ETEC. Profilaksis
dengan suatu antimikroba dapat efektif, tetapi mungkin juga menimbulkan
peningkatan resistensi bakteri pada antibiotik..
c.
Escherichia coli Enteroinvasif (EIEC)
Mekanisme patogenik EIEC mirip dengan patogenesis infeksi yang disebabkan oleh Shigella. EIEC masuk dan berkembang dalam epitel sel-sel kolon sehingga menyebabkan kerusakan pada sel kolon. Gejala klinis yang ditimbulkan oleh infeksi EIEC mirip dengan gejala diare yang disebabkan oleh Shigella. Gejala diare biasanya disertai dengan demam.
Mekanisme patogenik EIEC mirip dengan patogenesis infeksi yang disebabkan oleh Shigella. EIEC masuk dan berkembang dalam epitel sel-sel kolon sehingga menyebabkan kerusakan pada sel kolon. Gejala klinis yang ditimbulkan oleh infeksi EIEC mirip dengan gejala diare yang disebabkan oleh Shigella. Gejala diare biasanya disertai dengan demam.
d.
Escherichia coli Enterohemoragik (EHEC)
Jenis bakteri ini menghasilkan suatu toksin yang dikenal dengan verotoksin. Nama verotoksin sesuai dengan efek sitotoksik toksin ini pada sel vero, yaitu sel ginjal yang diperoleh dari ginjal monyet Afrika (African green monkey). EHEC dapat menyebabkan kolitis berdarah (yakni diare berat yang disertai perdarahan) dan sindrom uremik hemolitik (yakni gagal ginjal akut yang disertai anemia hemolitik mikroangiapatik dan trombositopenia). Banyak kasus kolitis berdarah dan komplikasinya dapat dicegah dengan memasak daging sampai matang sebelum dikonsumsi.
Jenis bakteri ini menghasilkan suatu toksin yang dikenal dengan verotoksin. Nama verotoksin sesuai dengan efek sitotoksik toksin ini pada sel vero, yaitu sel ginjal yang diperoleh dari ginjal monyet Afrika (African green monkey). EHEC dapat menyebabkan kolitis berdarah (yakni diare berat yang disertai perdarahan) dan sindrom uremik hemolitik (yakni gagal ginjal akut yang disertai anemia hemolitik mikroangiapatik dan trombositopenia). Banyak kasus kolitis berdarah dan komplikasinya dapat dicegah dengan memasak daging sampai matang sebelum dikonsumsi.
e.
Escherichia coli Enteroagregatif (EAEC)
Bakteri ini menimbulkan diare akut dan kronis dan merupakan penyebab utama diare pada masyarakat di negara berkembang. EAEC melekat pada sel manusia dengan pola khas dan menyebabkan diare yang tidak berdarah, tidak menginvasi, dan tidak menyebabkan inflamasi pada mukosa intestin. EAEC diperkirakan memproduksi EAST (entero aggregative ST toxin), yang merupakan suatu enterotoksin yang tidak tahan panas. Disamping itu, EAEC juga memproduksi hemolisin yang diperkirakan mirip dengan hemolisin yang dirpoduksi oelh galur Escherichia coli yang dapat menyebabkan infeksi salura kemih. Peranan toksin dan hemolisin dalam virulensi EAEC belum diketahui dengan jelas. Demikian juga, pernanan galur EAEC sebagai penyebab penyakit pada manusia maish kontroversial.
Bakteri ini menimbulkan diare akut dan kronis dan merupakan penyebab utama diare pada masyarakat di negara berkembang. EAEC melekat pada sel manusia dengan pola khas dan menyebabkan diare yang tidak berdarah, tidak menginvasi, dan tidak menyebabkan inflamasi pada mukosa intestin. EAEC diperkirakan memproduksi EAST (entero aggregative ST toxin), yang merupakan suatu enterotoksin yang tidak tahan panas. Disamping itu, EAEC juga memproduksi hemolisin yang diperkirakan mirip dengan hemolisin yang dirpoduksi oelh galur Escherichia coli yang dapat menyebabkan infeksi salura kemih. Peranan toksin dan hemolisin dalam virulensi EAEC belum diketahui dengan jelas. Demikian juga, pernanan galur EAEC sebagai penyebab penyakit pada manusia maish kontroversial.
Escherichia coli yang menyebabkan infeksi
ekstraintestin :
a.
Escherichia coli Uropatogenik (UPEC)
UPEC menyebabkan kira-kira 90% infeksi saluran kandung kemih
mulai dari sistitis sampai pielonefritis. Bakteir yang berkolonisasi berasal
dari tinja atau daerah perinium saluran urine yang masuk ke dalam kandung kemih.
Kemungkinan wanita mengalami infeksi UPEC pada kandung kemih empat belas kali
lebih besar daripada pria karena wanita mempunyai saluran uretra yang lebih
pendek. UPEC biasanya menyebabkan infeksi sistitis tanpa gejala serius pada
wanita yang saluran intestinnya telah terinfeksi UPEC sebelumnya. Bakteri yang
terdapat pada daerah periureteral tersebut pada akhirnya masuk ke dalam kandung
ekmih ketika melakukan hubungan seksual. Dengan bantuan adhesin, UPEC dapat berkolonisasi pada kandung kemih penderita.
Protein penting adhesin yang
dikaitkan dengan patogenisitas UPEC adalah P-fimbria atau PAP (pili yang
menyebabkan pielonefritis
^pyelonephritis-associated pili^). P-fimbria dapat berkaitan dengan antigen
P yang terdapat pada sel darah merah yang mengandung residu D-galaktosa-D-galaktosa.
Fimbria ini tidak saja dapat berkaitan dengan sel darah merah,tetapi juga dapat
berkaitan dengan senyawa galaktosa yang terdapat pada permukaan sel-sel epitel
saluran kemih. UPEC biasanya menghasilkan siderofor yang dianggap berperan
penting selama proses kolonisasi. Bakteri ini juga menghailkan hemolisin yang
bersifat sitotoksik terhadap membran sel hospes. Aktifitas hemolisin tidak
hanya terbatas pada kemampuan melisis sel darah merah, tetapi juga a-hemolisin
Escherichia coli dapat melisis
limfosit, sedangkan b-hemolisin dapat menghambat aktifitas fagosistosis dan
kemotaksis neutrofil.
b.
Escherichia coli meningitis neonatus (NMEC)
NMEC dapat menyebabkan meningitis pada bayi baru lahir. Galur
bakteri ini dapat menginfeksi 1 dalam 2000-4000 bayi. Perjalanan infeksi
biasanya terjadi setelah Escherichia coli
masuk ke dalam pembuluh darah melalui nasofaring atau saluran gastrointestinal
dan kemudian masuk ke dalam sel-sel otak. Antigen kapsul K 1 dianggap sebagai
faktor virulensi utama yang menyebabkan meningitis pada bayi. Antigen K1 dapat
menghambat fagositosis, reaksi komplemen, dan respons reaksi imunitas hospes.
Selain itu, siderofor dan endotoksin juga berperan penting dalam patogenesis
NMEC.
2.5
Gambaran Klinis
Escherichia coli
Bakteri
Escherichia coli sering kali berupa diare yang disertai darah, kejang perut,
demam dan terkadang menyebabkan gangguan pada ginjal. Sekitar 2-7% infeksi
Escherichia coli menimbulkan komplikasi. Bakteri Escherichia coli tularkan melalui
makanan yang tidak dimasak dan daging yang terkontaminasi. Penularan penyakit
dapat terjadi melalui kontak langsung dan biasanya terjadi di tempat yang
memiliki sanitasi dan lingkungan yang kurang bersih.
2.6
Diagnosis Escherichia
coli
Diagnosis
laboratorium penyakit diare yang disebabkan oleh Escherichia coli masih sulit
dilakukan secara rutin, karena pemeriksaan secara tradisional dan serologi
seringkali tidak mempu mendeteksi kuman penyebabnya. Deteksi sebagian besar
strain Escherichia coli pathogen memerlukan metode khusus untuk
mengidentifikasi toksin yang dihasilkan. Sampai saat ini metode yang ada masih
memerlukan tes dengan binatang percobaan dan kultur jaingan yang cukup mahal
dan kurang praktis. Beberapa metode baru berdasarkan tes imunologi dan teknik
hibridasi DNA sudah dikembangkan, tetapi belum beredar dipasaran luas, misalnya
: tes Elisa (anzyme-lingked immunosorbent assay), particle agglunitanation
methods Co-aggluntination dengan protein A Staphylococcus aureus yang telah
berikatan dengan antibody terhadap enteroksin Escherichia coli, hibridasi DNA pada koloni kuman atau langsung
pada specimen tinja (Karsinah, H.M Lucky, Suharto dan H.W. Mardiastuti 1994).
2.7
Pengobatan dan
Pencegahan Escherichia coli
Pengobatan :
Kuman Escherichia coli yang diisolasi dari infeksi
di dalam masyarakat biasanta sensitive terhadap obat-obat anti mikroba yang
digunakan utnuk organisme gram negatif, meskipun terdapat juga strain-starin
resisten, terutama pada pasien dengan riwayat pengobatan antibiotik sebelumnya.
Pada pasien yang terkena diare, perlu dijaga keseimbangan cairan dan
elektrolitnya (Karsinah. H.M. Lucky, Suharto dan H.W. Mardiastuti, 1994).
Pencegahan :
Untuk
menghidari supaya tidak tertular Escherichia coli, berikut cara pencegahan yang
bisa dilakukan adalah :
a.
Pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif, sampai
umur 4 – 6 bulan. Pemberian ASI mempunyai banyak keuntungan bagi bayi atau
ibunya. Bayu yang mendapat ASI lebih sedikit dan lebih ringan episode diarenya
dan lebih rendah resiko kematiannya. Jika dibanding bayi yang tidak mendapat
ASI. Dalam 6 bulan pertama, kehidupan resiko mendapat diare yang membutuhkan
perawatan dirumah sakit dapat mencapai 30 kali lebih besar pada bayi yang tidak
disusui daripada bayu yang mendapat ASI penuh. Hal ini disebabkan karena ASI
tidak membutuhkan botol, dot, dan air yang mudah terkontaminasi dengan bakteri
yang mungkin menyebabkan diare. ASI juga mengandung antibodi yang melindungi
bayi terhdapa infeksi terutama diare, yang tidak terdapat pada susu sapi atau
formula. Saat usia bayi mencapai 4 – 6 bulan, bayi harus menerima buah-buahan
dan makanan lain untuk memenuhi kebutuhan gizi yang meningkat, tetapi ASI harus
tetap terus diberikan paling tidak sampai umur dua tahun.
b.
Hindaarkan penggunaan susu botol. Seringkali para ibu
membuat susu yang tidak langsung habis sekali minum, sehingga memungkinkan
tumbuhnya bakteri. Juga dot yang jatuh, langsung diberikan pada bayi, tanpa
dicuci. Botol juga harus dicuci dan direbus untunk mencegah pertumbuhan kuman.
c.
Penyimpanan dan penyiapan makanan pendamping ASI dengan
baik mengurangi paparan dan perkembangan bakteri
d.
Penggunaan air bersih untuk minum. Pasokan air yang
cukup, bisa membantu membiasakan hidup bersih seperti cuci tangan, mencuci
perlatan makan, membersihkan WC dan kamar mandi.
e.
Mencuci tangan (sesudah buang air besar dan membuang
tinja bayi, sebelum menyiapkan makanan.
f.
Membuang tinja, termasuk tinja bayi secara benar. Tinja
merupakan sumber infeksi tanpa gejala. Oleh karena itu pembuangan tinja anak
merupakan aspek penting pencegahan diare.
2.8 Salmonella typhi
Salmonella
merupakan bakteri
Gram-negatif. Karena habitat aslinya yang berada di dalam usus manusia maupun
binatang, bakteri ini dikelompokkan ke dalam electrobacteriaceae (Brooks,
2005).
Salmonella
adalah
enterobacteriaceae yang terdistribusi secara luas di dalam lingkungan dan
meliputi lebih dari 2000 sterotipe. Salmonella
merupakan bakteri patogen paling utama yang terdapat di air limbah yang dapat
menyebabkan demam typus dan paratypus dan gastroenteritis (radang
lambung/perut). Konsentrasi Salmonella di
dalam air limbah berkisar dari beberapa sel sampai mencapai 8000 organisme
per100 ml air limbah.

Klasifikasi
Ilmiah Salmonella typosa :
Domain : Bacteria
Phylum : Proteobacteria
Classis : Gramma proteobakteria
Order :
Enterobacteriales
Family : Enterobactericeae
Genus : Salmonella
Spesies : Salmonella typosa
2.9 Anatomi dan Morfologi
Salmonella typhi
Salmonella yang termasuk dalam
famili Enterobaceriaceae merupakan bakteri patogen bagi manusia dan hewan.
Angka kesakitan akibat infeksi bakteri Salmonella
sangat tinggi. Penyakit ini tidak saja terjadi di negara berkembang, tetapi
juga berjangkit di negara maju. Angka kejadin infeksi Salmonella di seluruh dunia mencapai lebih dari 12,5 juta per
tahun dan di Amerika Serikat diperkirakan sekitar 2 juta penderita salmonelosis
setiap tahun.
Infeksi Salmnonella terjadi pada saluran cerna
dan terkadang menyebar lewat peredaran darah ke seluruh organ tubuh. Infeksi Salmonella pada manusia bervariasi,
yaitu dapat berupa infeksi yang dapat sembuh sendiri (gastroenteritis), tetapi
dapat juga menjadi kasus yang serius apabila terjadi penyebaran sistemik (demam
enterik). Dalam kondisi seperti ini, diperlakukan penanggulangan yang tepat
dengan antibiotik pilihan.
Dalam
perkembangannnya, taksonomi Salmonella cukup
rumit sehingga terdapat beberapa tata nama yang berbeda. Kauffman-White
meggolongkan Samonella berdasarkan
kekhasan antigenik, sedangkan Ewing, dkk menyatakan bahwa terdapat tiga spesies
Salmonella, yaitu Salmonella choleraesuis, Salmonella enteritidis, dan Salmonella typhi. Melalui pemetaan genetika, Samonella disimpulkan termasuk dalam genus Arizona berdasarkan
persamaan struktur genetik, filogenik, dan petunjuk evolusinya.
Salmonella merupakan bakteri Gram-negatif, tidak berspora,
tidak mempunyai simpai, tanpa fimbria, dan mempunyai flagel peritrik, kecuali Salmonella pullorum dan Salmonella gallinarum. Ukuran 1-3,5 µm x 0,5 – 0,8 µm. Besar koloni dalam media perbenihan rata-rata
2,4 mm.
Sifat Salmonella typhi antara lain dapat
bergerak, tumbuh pada suasana aerob dan anaerob fakultatif, memberikan hasil
positif pada reaksi fermentasi manitol dan bitol, dan memberikan hasil negatif
pada reaksi indol, DNAse, fenilalanin deaminase, urease, Voges Proskauer, dan reaksi
fermentasi sukrosa dan laktosa. Salmonella
typhi tidak tumbuh dalam larutan KCN, hanya sedikit membentuk gas H2S,
dan tidak membentuk gas fermentasi pada glukosa.
Salmonella tumbuh pada suasan
aerob atau anaerob fakultatif, pada suhu 15-410C. Suhu pertumbuhan
optimum 37,50C dengan pH media 6-8. Salmonella mempunyai gerak positif, dapat tumbuh dengan cepat pada
perbenihan biasa, tidak meragi laktosa, manitol, dan dekstrin. Sebagian besar
isolat Salmonella dari spesimen
klinik membentuk H2S. Pembentukan H2S bervariasi. Hanya
50% Salmonella enteritidis serotipe A
yang membentuk H2S.
Dalam perbenihan
agar Salmonella-Shigella, agar Endo, dan agar MacConkey, koloni Salmonella berbentuk bulat, kecil, dan
tidak berwarna. Pada media Wilson Blair
agar, koloni Salmonella berwarna
hitam.
Salmonella mati pada suhu 560C dan pada keadaan
kering. Dalam air, Salmonella dapat
bertahan selama 4 minggu. Bakteri ini hidup subur dalam media yang mengandung
garam empedu berkonsentrasi tinggi dan tahap terhadap brilliant green, natrium tetrationat, dan natrium deoksiolat.
Senyawa-senyawa ini mengambat pertumbuhan bakteri coliform sehingga dapat digunakan untuk mengisolasi bakteri Salmonella dari tinja dalam media.
Spesies Salmonella dapat ditentukan
dengan uju reaksi biokimia atau uji serologi, sedangkan penentuan tipe faga
berguna dalam bidang epidemiologi.
2.10 Patogenesis dan
Patologis Salmonella typhi
Salmonelosis adalah
infeksi yang disebabkan oleh Salmonella
yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi.
Orang yang terinfeksi akan mengalami gejala demam, diare, kram perut, pusing,
sakit kepala, dan rasa mual setelah 12 sampai 72 jam terinfeksi. Gejala ini
dapat berlangsung selama 7 hari. Penderita salmonelosis umumnya dapat sembuh
tanpa perawatan dokter. Akan tetapi, sebagian penderita dapat mengalami diare
yang yang sangat parah sehingga harus dirawat di rumah sakit. Infeksi para
terutama terjadi pada anak-anak dan penderita yang memiliki sistem pertahanan
tubuh yang lemah.
Virulensi Salmonella disebabkan oleh (a) kemampuan
mengivasi sel-sel epitel inang, (b) mempunyai antigen permukaan yang terdiri
atas simpai lipopolisakarida, (c) kemampuan melakukan replikasi interseluler,
(d) menghasilkan beberapa toksin spisifik, (e) kemampaun berkolonisasi pada
ileum dan kolon, (f) dan kemampuan menginvasi lapisan epitel intestin dan
berkembang di dalam sel-sel limfoid.
Manifestasi klinik
samonelosis terdiri atas beberapa sindrom, anatara lain gastroetenritis, demam
enterik, septisemia, dan penderita yang tidak menampakkan gejala sakit.

Gambar : Mekanisme diare
akibat infeksi Salmonella.
2.11 Gambaran Klinis
Salmonella typhi
Pada masa inkubasi penyakit ini berkisar antara
12-48 jam atau lebih. Gejalan yang timbul pertama kali adalah mual dan muntah
yang mereda dalam beberapa jam, kemudian diikuti dengan nyeri abdomen dan
demam. Diare merupakan gejala yang paling menonjol. Pada kasus berat, diare
dapat bercampur darah. Penderita seringkali kambuh sendiri dalam 1-5 hari,
tetapi dapat menjadi berat bila terjadi gangguan keseimbangan elektrolit dan
dehidrasi. Bakteri penyebab dapat diisolasi dari tinja penderita dalam beberapa
minggu, sedangkan pada pembawa bakteri (carrier),
bakteri dapat ditemukan dalam tinja lebih dari 1 tahun.
2.12 Diagnosis
Salmonella typhi
Berbagai penyakit
infeksi dapat menyebabkan diare, demam, dan sakit perut. Oleh sebab itu,
pemeriksaan laboratorium untuk menentukan etiologi penyakit infeksi sangat
penting dalam menunjang diagnosis klinik.
Spesimen
pemeriksaan yang harus diambil adalah darah, urine, dan tinja. Untuk kasus
demam enterik dan septisemia, darah biasanya mengandung Salmonella di minggu pertama, sedangkan pada biakan urine, bakteri
ditemukan di minggu kedua. Biakan bakteri yang diisolasi tinja biasanya akan
menunjukkan hasil positif di minggu kedua atau ketiga, sedangkan pada gastroenteritis,
bakteri akan positif di minggu pertama. Isolasi dan identifikasi Salmonella biasanya dilakukan dengan
teknik perbenihan dan uji serologi.
2.13 Pengobatan dan
Pencegahan Salmonella typhi
Infeksi Salmonella biasanya berlangsung selama
5-7 hari dan pasien memerlukan perawatan jika mengalami dehidrasi berat dan
infeksi telah menyebar dari usus. Penggantian cairan da elektrolit sangat
penting jika penderita mengalami diare parah. Banyak antibiotik efektif terhadap
Salmonella. Kloramfenikol atau
ampisilin merupakan antibiotik pilihan untuk mengatasi salmonelosis. Pembawa
bakteri (carrier) dalam usus sering
dapat diobati dengan ampisilin atau amoksisilin probenesid. Akan tetapi,
pembawa bakteri dalam kandung empedu memerluka tindakan pembedahan
(kolesistektomi) selain pemberian ampisilin.
Imunisasi dengan
vaksin monovalen Salmonella typhi
memberikan proteksi cukup baik. Vaksin akan merangsang produksi antibodi
terhadap antigen Vi, O, dan H. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa antibodi
terhadap antigen H dapat memberikan perlindungan terhadap Salmonella typhi, tetapi antibodi terhadap antigen Vi dan antigen O
tidak.
Pencegahan dapat
dilakukan dengan upaya menjaga kebersihan makanan dan minuman serta upaya carrier yang berpotensi menjadi sumber
infeksi. Ada dua jenis carrier, yaitu
convalescent carrier (bakteri dapat
ditemukan dalam tinja dalam waktu yang bervariasi) dan chronic carrier (bakteri dapat ditemukan dalam tinja dalam satu
tahun). Selain itu, pencegahan juga dapat dilakukan dengan memerikan imunisasi
vaksin manovalen Salmonella typhi.
Upaya pengobatan dilakukan
dengan cara berikut :
a.
Obat standart : kloramfenikol
b.
Demam tifoid : ampisilin, amoksisilin,
trimetoprim-sulfametoksazol
c.
Carrier tanpa batu empedu :
ampisilin, amoksisilin, probenesid.
d.
Carrier disertai kolelitiasis :
antibiotik dan pembedahan.
2.14 Shigella dysentrieae
Genus Shigella
ditemukan sebagai penyebab bacillary oleh ahli mikrobiologi Jepang, Kiyoshi
Shiga pada 1898. Shigella adalah
penyakit yang ditularkan melalui makanan atau air. Organisme Shigella menyebabkan disentri basiler
dan menghasilkan respons inflamasi pada kolon melalui eterotoksin dan invasi
bakteri.
Bakteri Shigella
dysentrie dapat menyebabkan penyakit disentri basilar. Disentri basilar
adalah infeksi usus besar oleh bakteri patogen genus Shigella. Shigella dysenteriae merupakan penyebab penyakit yang
paling ganas dan menimbulkan epidemi hebat di daerah tropis dan subtropis
(Soedarto, 1996). Pengobatan infeksi dapat digunakan dengan antibiotik yang
telah diresepkan secara luas seperti pada saat sekarang ini (Gould and Brooker,
2003).
Shigellosis adalah infeksi enterik invasif akut yang disebabkan oleh
bakteri yang masuk ke dalam genus Shigella,
secara klinis ditunjukkan dengan diare yang sering berdarah. Shigellosis banyak menjadi endemik di
banyak negara berkembang dan juga menjadi epidemi yang menyebabkan cukup
morbiditas dan kematian.
Makanan yang sering
terkontaminasi Shigella adalah salad, sayuran segar (mentah), susu dan produk
susu, serta air yang terkontaminasi. Sayuran segar yang tumbuh pada tanah
terplusi dapat menjadi faktor penyebab penyakit, seperti disentri basiler atau Shigellosis yang disebabkan oleh Shigella. Menurut USFDA (1999),
diperkirakan 300.000 kasus Shigellosis
terjadi di Amerika Serikat setiap tahun.
Dengan perlakuan
secara biokimia Shigella relative
menjadi tidak aktif bila dibandingkan dnegan spesies Escherichia. Studi-studi yang berkaitan tentang DNA telah
menunjukkan bahwa mereka masuk dalam genus yang sama, namun pengelompokan
keduanya tetap dipertahankan karena tidak seperti Escherichia, kebanyakan Shigella
adalah patogen dan berpotensi menyebabkan penyakit yang parah.
Gambar : Bakteri Shigella dysentrieae
Klasifikasi
Ilmiah Shigella dysenteriae :
Domain : Bacteria
Phylum : Proteobacteria
Classis : Gramma proteobakteria
Order :
Enterobacteriales
Family
: Enterobactericeae
Genus : Shigella
Spesies : Shigella dysenterieae
2.15 Anatomi dan Morfologi Shigella dysentrieae
Shigella
dysenteriae merupakan spesies
bakteri Shigella yang paling umum
ditemukan di Asia Timur dan Amerika Tengah. Bakteri ini merupakan bakteri
patogen usus yang umumnya dikenal sebagai bakteri penyebab disentri (disentri
basiler).
Shigella
dysenteriae termasuk dalam
famili Enterobacteriaceae dan tribus Escherichia.
Genus Shigella dinamakan sesuai
dengan ahli bakteriologi berkebangsaan Jepang, Kiyoshi Shiga, yang menemukan
basilus disentri pada tahun 1897. Genus Shigella
dibedakan dari genus-genus lain karena menyebabkan gejala klinik yang khas.
Hingga saat ini, telah ditemukan 4 spesies Shigella,
yaitu Shigella dysenteriae, Shigella
flexneri, Shigella boydii, dan Shigella
sonnei. Keempat spesies tersebut dibedakan berdasarkan komponen utama yang
dimiliki oleh antigen O yang terdapat pada setiap genus Shigella. Setiap spesies dari genus Shigella dibedakan menjadi beberapa serotipe berdasarkan komponen
minor antigen O. Shigella dysenteriae mempunyai
10 jenis serotipe.
Shigella
dysenteriae merupakan bakteri
Gram-negatif berukuran 0,5 – 0,7 µm x 2,3 µm
2.16 Patogenesis dan Patologis Shigella dysentrieae
Shigellosis disebut
juga Disentri basiler, disentri sendiri artinya salah satu dari berbagai
gangguan yang ditandai dengan peradangan usus, terutama kolon dan disertai
nyeri perut, tenesmus dan buang air besar yang sering mengandung darah dan
mucus. Habitat alamiah bakteri disentri adalah usus besar manusia, tempat
bakteri tersebut dapat menyebabkan disentri basiler. Infeksi S.dysenteriae
praktis selalu terbatas pada saluran pencernaan, dan invasi bakteri ke dalam
darah sangat jarang. S.dysenteriae menimbulkan penyakit yang sangat
menular dengan dosis infektif dari bakteri S.dysenteriae adalah kurang
dari 103 organisme dan merupakan golongan Shigella sp yang
cenderung resisten terhadap antibiotic (Jewetz et al., 2005).
Proses
patologik yang penting adalah invasi epitel selaput lendir, mikrobases pada
dinding usus besar dan ileum terminal yang cenderung mengakibatkan nekrosis
selaput lender, ulserasi superficial, pendarahan, pembentukan “pseudomembran”
pada daerah ulkus. Ini terdiri dari fibrin, leukosit, sisa sel, selaput lender
yang nekrotik dan bakteri. Waktu proses patologik berkurang, jaringan granulasi
akan mengisis ulkus sehingga terbentuk jaringan parut (Jewetz et al., 2005)
Secara
klasik, Shigellosis timbul dengan gejala adanya nyeri abdomen, demam,
BAB berdarah, dan feses berlendir. Gejala awal terdiri dari demam, nyeri
abdomen, dan diare cair tanpa darah, kemudian feses berdarah setelah 3 – 5 hari
kemudian. Lamanya gejala rata-rata pada orang dewasa adalah 7 hari, pada kasus
yang lebih parah menetap selama 3 – 4 minggu. Shigellosis kronis dapat
menyerupai kolitis ulseratif, dan status karier kronis dapat terjadi.
Manifestasi
ekstraintestinal Shigellosis dapat terjadi, termasuk gejala pernapasan,
gejala neurologis seperti meningismus, dan Hemolytic Uremic Syndrome.
Artritis oligoartikular asimetris dapat terjadi hingga 3 minggu sejak
terjadinya disentri. Pulasan cairan feses menunjukkan polimorfonuklear dan sel
darah merah. Kultur feses dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi dan
sensitivitas antibiotik.
Penata
laksanaan Shigellosis dengan pemberian antibakteri seperti
kotrimoksazol, ciprofloksasin, ampisilin, asam nalidixic atau ceftriaxone dapat
membantu memperpendek masa sakit dan sekresi patogen serta meringankan
penyakit. Obat-obat antibakteri tersebut harus digunakan pada situasi tertentu
dengan indikasi yang jelas, indikasi tersebut antara lain untuk mengurangi
beratnya penyakit, untuk melindungi kontak dan indikasi epidemiologis.
Resistensi bakteri Shigella sp terhadap antibiotic dengan segala
aspeknya bukanlah merupakan suatu hal yang baru, dimana selama 5 dekade
terakhir bakteri Shigellasp telah resisten terhadap berbagai antibakteri
baru yang pada awalnya sangat efektif terhadap infeksi Shigella sp yang
resisten terhadap multiantibiotik, seperti S. dysenteriae tipe 1,
ditemukan di seluruh dunia dan timbul sebagai akibat pemakaian antibiotika yang
tidak rasional. Akibat sering terjadinya resistensi terhadap suatu antibakteri
maka pemilihan antibakteri yang tepat perlu dilakukan, dimana pemilihan
antibakteri tergantung kepada gambaran resistensi bakteri setempat sesuai
prevalensi infeksi yang terjadi pada daerah tersebut (James, 2001).
Sesudah
masa inkubasi yang pendek (1-2 hari), ada serangan tiba-tiba berupa sakit
perut, demam, dan diare cair. Diare terjadi akibat pengaruh eksotoksin dalam
usus kecil. Eksotoksin merupakan sebuah protein antigenik (merangsang produksi
antitoksin) dan mematikan pada binatang percobaan. Pada manusia, eksotoksin
dapat menghambat penyerapan gula dan asam amino pada usus kecil (Jawetz et
al., 2005).
Patogenesis Shigella dysenteriae dapat
mencakup tiga hal, yaitu :
a. Endotoksin
Pada waktu terjadi autolisis, semua
Shigella mengeluarkan lipopolisakaridanya yang toksik. Endotoksin ini
mungkin menambah iritasi pada dinding usus.
b. Eksotoksin (Shigella dysentriae)
S.
Dysentriae tipe 1 (basil Shiga) memproduksi eksotoksin
tidak tahan panas yang dapat mempengaruhi saluran pencernaan dan sistem saraf
pusat. Eksotoksin merupakan protein yang bersifat antigenik (merangsang
produksi antitoksin) dan mematikan hewan percobaan. Sebagai enterotoksin, zat
ini dpat menimbulkan diare, sebagaimana halnya enterotoksin.
Terapi
dengan rehidrasi yang adekuat secara oral atau intravena, tergantung dari
keparahan penyakit. Derivat opiat harus dihindari. Terapi antimikroba diberikan
untuk mempersingkat berlangsungnya penyakit
danpenyebaranbakteri.Trimetoprim-sulfametoksazole atau fluoroquinolon dua kali
sehari selama 3 hari merupakan antibiotik yang dianjurkan.
Antibiotik terpilih untuk infeksi Shigella adalah
ampisilin, kloramfenikol, sulfametoxazol-trimetoprim. Beberapa sumber lain
menyebutkan bahwa kanamisin, streptomisin dan neomisin merupakan antibiotik
yang dianjurkan untuk kasus-kasus infeksi Shigella. Masalah resistensi
kuman Shigella terhadap antibiotik dengan segala aspeknya bukanlah
merupakan suatu hal yang baru. Shigella yang resisten terhadap
multiantibiotik (seperti S. dysentriae 1) ditemukan di seluruh dunia dan
sebagai akibat pemakaian antibiotika yang tidak rasional.
2.17 Gambaran Klinis Shigella dysentrieae
Setelah
masa inkubasi yang pendek (1-3 hari) secara mendadak timbul nyeri perut, demam
dan tinja encer. Tinja encer tersebut berhubungan dengan kerja eksotoksin dalam
usus halus. Sehari atau beberapa hari kemudian, karena infeksi meliputi eleum
dan kolon, maka jumlah tinja meningkat. Tinja kurang encer tetapi sering
mengandung lendir dan darah.
Tiap
gerakan usus disertai dengan ‘mengejan’ dan tenesmus (spasmus rektum), yang
menyebabkan nyeri perut bagian bawah. Demam dan diare sembuh secara spontan
dalam 2-5 hari pada lebih dari setengah kasus dewasa. Namun, pada anak-anak dan
orang tua, kehilangan air dan elektrolit dapat menyebabkan dehidrasi, asidosis,
dan bahkan kematian.
Kebanyakan orang pada tahap penyembuhan, mengeluarkan kuman disentri dalam
waktu yang singkat, tetapi beberapa diantaranya tetap menjadi pembawa kuman
usus hingga menahun dan dapat mengalami serangan penyakit berulang-ulang. Pada
penyembuhan infeksi, kebanyakan orang membentuk antibody terhadap Shigella dalam darahnya, tetapi antibody
ini tidak melindungi terhadap reinfeksi.
2.18 Diagnosis Shigella dysentrieae
a.
Bahan : tinja
segar, lendir, dan usapan rektum untuk pembiakan. Sejumlah besar leukosit dan
darah merah sering dapat terlihat secara mikroskopik dalam tinja. Bahan serum, bila
diinginkan, harus diambil tiap 10 hari untuk menujukkan kenaikan titer
aglutinasi antibodi.
b.
Biakan : bahan
digoreskan pada perbenihan differensial (misalnya : Mac Hectoen atau agar
Salmonella-Shigella yang menekan Enterobacteriaceae lain dan organisme
gram-positif. Koloni-koloni yang tidak berwarna (laktosa negatif) dinolukasikan
ke dalam perbenihan agar triplet gula besi.
c.
Serologi : orang
normal mempunyai aglutinin terhadap berbagai spesies Shigella. Tetapi
serangkaian penetapan titer antibodi dengan selang waktu 10 hari dapat
menunjukkan kenaikan antibodi spesifik. Serologi tidak digunakan untuk
mendiagnosis infeksi Shigella.
2.19 Pengobatan dan Pencegahan Shigella dysentrieae
Infeksi sigelosis merupakan
infeksi yang berasal dari makanan dan air. Oleh karena itu, pencegahan infeksi
ini dapat dilakukan dengan berbagai cara berikut.
a.
Menjaga kebersihan
lingkungan
b.
Menjaga kebersihan
makanan dan minuman
c.
Melindungi makanan
dan minuman dari pencemar seperti lalat
d.
Melakukan klorinasi
air minum
e.
Membuang dan
mengolah limbah dengan memperhatikan sanitasi lingkungan.
Infeksi sigelosis umumnya dapat sembuh sendiri
dalam waktu 2-7 hari, terutama pada penderita dewasa. Pada penderita anak-anak
atau berusia lanjut, penyakit dapat berlangsung lama, bahkan penderita gizi
buruk dapat mengakibatkan kematian. Antibiotik, seperti ampisilin, tetrasiklin,
dan trimetroprim-sulfametoksazol, dapat digunakan untuk mengobati infeksi dan
mengurangi angka kematian. Akan tetapi, sebelum penggunaan antibiotik, uji
kepekaan bakteri terhadap antibiotik perlu dilakukan. Hal ini karena semakin banyak
ditemukan galur bakteri yang resisten terhadap antibiotik tertentu.
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Escherichia coli, Salmonella typhi, dan Shigella
dysentrieae merupakan bakteri penyebab penyakit yang mudah ditemui di Indonesia
yaitu merupakan salah satu penyebab penyakit pada saluran pencernaan atau usus.
Bakteri ini sering menyebabkan infeksi pada saluran cerna. Bakteri ini dapat
hidup dalam usus besar manusia dan hewan, dalam tanah dan dalam air. Karena
hidup dalam usus besar manusia, bakteri-bakteri ini sering disebut dengan
bakteri enterik.
Bakteri Escherichia coli juga dapat membantu dalam
proses pencernaan termasuk pembusukan sisa-sisa makanan dalam usus besar.
Fungsi utama yang lain dari Escherichia coli adalah membantu memproduksi
vitamin K melalui proses pembusukan sisa makanan. Vitamin K berfungsi untuk
pembekuan darah misalnya saat terjadi perdarahan seperti luka/mimisan vitamin K
bisa membantu menghentikannya.
Sedangkan pada Salmonella typhi merupakan penyebab
penyakit pada saluran pencernaan. Salmonella typhi bisa berada dalam air, es,
debu, sampah kering yang bila organisme ini masuk pada vehicle yang cocok
(daging, kerang dan sebagainya) akan berkembang biak mencapai dosis infeksi.
Infeksi Salmonella dapat berakibat fatal pada bayi, balita, ibu hamil dan
kandungannya serta orang lanjut usia. Hal ini disebabkan karena kekebalan tubuh
mereka yang menurun.
3.2 Saran
Sebagai
mahasiswa/mahasiswi kesehatan yang sepantasnya kita memahami dan mengerti
berbagai hal mengenai penyakit-penyakit yang sering ditemui pada masyarakat
sehingga kita mampu memberikan berbagai pengarahan untuk terhindar dari
penyakit-penyakit pada saluran pencernaan seperti diare.
DAFTAR PUSTAKA
Batzing, B, L. 2002. Microbiology:
An Introduction. USA: Brooks/Cole Thomson Learning
Jawetz, E., Melnick, J. L., and Adelberg, E.A.2002. Medical Microbiologi. 22nd
Ed. USA: Lange Medical Publications, McGraw-Hill
Cano. R.J Colome J.S., Microbiologi, St.Paul New York, Los Angeles, San Francisco, West
Publishing Company, 1986.
Entjang Indan, dr. 2001. Mikrologi & Parasitologi. Citra Aditya Bakti : Bandung
Pelezar, M. J., dan Chan E. C.
S 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta:
UI Press.
http://www.ilmukesehatan.com/artikel/makalah-salmonella-typhosa.html

Komentar
Posting Komentar