Bakteriologi Enterobacteriaceae (Escherichia Coli, Salmonella, Shigella)

MAKALAH ILMU DASAR KEPERAWATAN III
KONSEP BAKTERIOLOGI ENTEROBACTERIACEAE (ESCHERICHIA COLI, SALMONELLA, SHIGELLA)
DOSEN PEMBIMBING
AINUN MASFUFAH, S.Si., M.Ked.Trop
DISUSUN OLEH
KELOMPOK 1          :

Moh Jimly Asshiddiqy            (16142010070)
Nanda Pratama Hidayatullah  (16142010071)
Rischa Kurnia Badriana          (16142010077)
Yuliani Firdaus                       (16142010087)








SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NGUDIA HUSADA MADURA
TAHUN AJARAN 2017



KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb
            Puji dan syukur kami panjatkan kepada  Allah SWT, karena atas berkat dan rahmatNya kami dapat menulis makalah ini yang berjudul ‘KONSEP BAKTERIOLOGI ENTEROBACTERIACEAE (ESCHERICHIA COLI, SALMONELLA, SHIGELLA)”
 hingga selesai. Meskipun dalam makalah ini kami mendapat banyak yang menghalangi, namun mendapat pula bantuan dari beberapa pihak baik secara moral, materil maupun spiritual.
            Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih pada dosen pembimbing serta semua pihak yang telah memberikan sumbangan dan saran atas selesainya penulis makalah ini. Di dalam penulisan makalah ini kami menyadari bahwa masih ada kekurangan-kekurangan mengingat keterbatasannya pengetahuan dan pengalaman kami. Oleh sebab itu, sangat di harapkan kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun untuk melengkapkan makalah ini dan berikutnya.
Bangkalan 18 Maret 2017


Kelompok 1















DAFTAR ISI
KONSEP BAKTERIOLOGI ENTEROBACTERIACEAE (ESCHERICHIACOLI, SALMONELLA, SHIGELLA)
Kata Pengantar.................................................................................................................. i
Daftar Isi............................................................................................................................ ii
BAB 1
PENDAHULUAN
Latar belakang................................................................................................................ 1.1
Rumusan masalah........................................................................................................... 1.2
Tujuan............................................................................................................................. 1.3
Manfaat........................................................................................................................... 1.4
BAB 2
PEMBAHASAN TINJAUAN PUSTAKA
Definisi Enterobacteriaceae........................................................................................... 2.1
Bakteri Escherichia coli.................................................................................................. 2.2
Anatomi dan Morfologi Bakteri Escherichia coli......................................................... 2.3
Patogenesis dan Patologi Bakteri Escherichia coli....................................................... 2.4
Gambaran Klinis Escherichia coli................................................................................. 2.5
Diagnosis Escherichia coli.............................................................................................. 2.6
Pengobatan dan Pencegahan Escherichia coli............................................................. 2.7
Definisi Bakteri Salmonella typhi.................................................................................. 2.8
Anatomi dan Morfologi Salmonella typhi..................................................................... 2.9
Patogenesis dan Patologi Salmonella typhi................................................................. 2.10
Gambaran Klinis Salmonella typhi............................................................................. 2.11
Daignosis Salmonella typhi........................................................................................... 2.12
Pengobatan dan Pencegahan Salmonella typhi.......................................................... 2.13
Definisi Bakteri Shigella dysentrieae........................................................................... 2.14
Anatomi dan Morfologi Shigella dysentrieae............................................................. 2.15
Patogenesis dan Patologi Shigella dysentrieae............................................................ 2.16
Gambaran Klinis Shigella dysentrieae........................................................................ 2.17
Daignosis Shigella dysentrieae..................................................................................... 2.18
Pengobatan dan Pencegahan Shigella dysentrieae.................................................... 2.19


BAB 3
PENUTUP
Kesimpulan...................................................................................................................... 3.1
Saran............................................................................................................................... 3.2
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................... 4.1





























BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
                        Bakteri patogen pada saluran cerna merupakan golongan bakteri yang dapat menyebabkan penyakit infeksi pada saluran cerna manusia. Jenis bakteri yang paling sering menyebabkan penyakit infeksi pada saluran cerna adalah bakteri-bakteri famili Enterobacteriaceae. Bakteri ini dapat hidup dalam usus manusia dan hewan, dalam tanah, dan dalam air. Karena hidup dalam usus besar manusia, bakteri-bakteri ini sering disebut dengan bakteri enterik.
                        Sebagian besar bakteri enterik tidak menimbulkan penyakit pada hopes bila bakteri tetap berada dalam usus besar. Akan tetapi, dalam kondisi tertentu, apabila bakteri dapat masuk ke dalam bagian tubuh lain, banyak bakteri enterik dapat menyebabkan penyakit pada jaringan tubuh manusia.
                        Beberapa spesies Enterobacteriaceae yang sering menyebabkan infeksi pada saluran cerna manusia adalah adalah Escherichia coli, Salmonella, Shigella, dan Yersinia enterolitica.
                        Enterobacteriaceae merupakan bakteri Gram-negatif yang bersifat anaerob fakultatif dan oksidase negatif. Bakteri ini sering ditemukan pada feses dan bagian tubuh yang terinfeksi. Semua bakteri enterik meragi glukosa menjadi asam dengan atau tanpa disertai pembentukan gas; mereduksi nitrat menjadi nitrit; ada yang membentuk intol dan ada yang tidak. Perbedaan jenis karbohidrat yang dapat difermentasi, produk akhir metabolisme, dan substrat yang digunakan menjadi dasar pembagian spesies Enterobacteriaceae. Beberapa serotipe dapat dibedakan berdasarkan struktur antigen bakteri, yaitu antigen O (lipoposakarida), antigen H (flegel), dan antigen K (kapsul).
                        Beberapa jenis bakteri lain yang juga dapat menimbulkan kelainan pada saluran cerna adalah Vibrio, Clostridium, Bacillus, Campylobacter, dan Helicobacter. Staphylococcus dapat menyebabkan gangguan pencernaan akibat keracunan makanan yang ditimbulkan oleh bakteri ini.





1.2 Rumusan Masalah
1.      Apa definisi pada bakteri Enterobactericeae?
2.      Apa saja macam-macam bakteri yang tergolong pada bakteri Enterobactericeae?
3.      Bagaimana anatomi dan morfologi pada bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, dan Shigella dysentriae?
4.      Bagimana patogenesis dan patologi pada bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, dan Shigella dysentriae?
5.      Bagaimana gambaran klinis pada bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, dan Shigella dysentriae?
6.      Bagiamana diagnosis laboratorium pada bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, dan Shigella dysentriae?
7.      Apa saja cara pengobatan dan bagaimana cara pencegahan pada bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, dan Shigella dysentriae?

1.3 Tujuan
1.      Mengetahui definisi dari Enterobaktericeae.
2.      Mengetahui macam-macam bakteri pada bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, dan Shigella dysentriae.
3.      Mengetahui anatomi dan morfologi pada bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, dan Shigella dysentriae.
4.      Mengatahui patogenensis dan patologi pada bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, dan Shigella dysentriae.
5.      Mengetahui gambaran klinis pada bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, dan Shigella dysentriae.
6.      Mengatahui diagnosis laboratorium pada bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, dan Shigella dysentriae.
7.      Mengatahui cara pengobatan dan pencegahan pada bakteri Escherichia coli, Salmonella typhi, dan Shigella dysentriae.

1.4 Manfaat
            Manfaat dari pembuatan makalah ini, baik bagi kami maupun bagi teman-teman sebagai sarana wawasan dan pengetahuan mengenai beberapa hal yang berkenaan dengan macam-macam bakteri Enterobactericeae yang sering ditemukan pada kalangan mahasiswa/mahasiswi maupun pada kalangan masyarakat.
BAB 2
PEMBAHASAN TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Enterobacteriaceae
                   Anggota dari famili Enterobacteriaceae adalah bakteri Gram negatif fakultatif anaerobik berbentuk batang yang dapat bersifat motif dan non motif; strain bakteri motil mempunyai flagella peritrik. Semua spesies berkembang biak pada media buatan dan mengubah glukosa, dimana mereka berbentuk asam atau asam dan gas. Bakteri-bakteri tersebut juga memproduksi enzim katalase. Dengan beberapa pengecualian pada genus Erwinia, anggota dari Enterobacteriaceae mereduksi nitrat menjadi nitrit. Komposisi antigeniknya terdiri dari sebuah mozaik hubungan serologik yang saling mengisi diantara beberapa genus. Famili ini termasuk saprofit, parasit hewan dan beberapa parasit tanaman.
                   Pengkajian hormologi DNA telah menunjukkan bahwa kebanyakan spesies dalam genus Enterobacteriaceae setidaknya 20% saling berhubungan satu dengan yang lain dan dengan tipe spesiesnya, yaitu Escherichia coli. Hampir semua spesies mempunyai antigen enterobacterial. Hanya sejumlahkecil genus yang mempunyai spesies yang menyebabkan penyakit pada hewan. Bakteri-bakteri tersebut adalah Enterobacter, Escherichia, Klebsiela, Proteus, Salmonella, Seratia dan Yersinia.
                   Secara keseluruhan kelompok ini memiliki sifat khas yaitu mampu tumbuh secara aerobik maupun anaerobik (anerobik fakultatif) pada beraneka macam karbohidrat. Anggota dari genus Enterobacter, Serratia, Proteus dan Erwinia umumnya dapat diisolasi dari tanah dan air, karenanya sering mencemari bahan pangan segar.
                   Spesies Erwinia menyebabkan busuk lunak dan nekrosis dari sayuran dan buah-buahan karena produksi enzim pemecahan polisakarida. Spesies Serratia membentuk pigmen kemerah-merahan dipermukaan beberapa bahan pangan. Spesies proteus  (Proteus vulgaris) telah diidentifikasi dalam kerusakan telur dan daging, juga sering menyebabkan pembusukan protein buah pangan. Beberapa genus Enterobactericeae berbahaya bagi kesehatan masyarakat karena menimbulkan wabah keracunan pangan dan penyakit infeksi yang ditularkan melalui makanan yang cukup serius. Organisme seperti ini yang umumnya terdapat dalam alat pencernaan ternak, termasuk spesies Salmonella dan Shigella, Escherichia coli dan Yersinia enterolitica.



2.2  Bakteri Escherichia coli
                   Escherichia coli adalah bakteri yang berbentuk batang pendek (Basil) tergolong dalam Gram negatif dan hidup dalam saluran pencernaan atau usus baik pada hewan dan manusia. Escherichia coli yang mencemari bahan makanan bersala dari tinja manusia, sehingga keberadaannya pada bahan makanan atau ikan segar menunjukkan adanya ancaman kesehatan pada konsumen (manusia), sebab dapat diartikan bahwa bahan makanan telah tercemar oleh tinja manusia, oleh karena itu Escherichia coli dipakai sebagai indikator cemaran yang berbahaya bagi manusia dan hewan.
                   Ancaman yang dapat membahayakan kesehatan konsumen, sebab beberapa strain Escherichia coli bersifat patogen yang dapat menyerang manusia maupun hewan. Hal ini disebabkan oleh kemampuan bakteri Escherichia coli memproduksi toxin yang dapat menyebabkan timbulnya gastro enteritis pada manusia dan hewan yang ditandai dengan gejala diare, demam kadang disertai muntah bahkan kematian.
                   Binatang ternak terutama sapi, domba, dan kambing merupakan reservoar bakteri EHEC. Kotoran hewan yang mengandung bakteri ini dapat mengonstaminasi daging atau susu yang kemudian diolah kurang sempurna.
                   Sayuran dari kebun-kebun yang diairi air sungai yang terkontaminasi kotoran hewan, juga berpeluang memicu diare. Karena itu, mereka yang gemar memakan sayuran segar atau lalapan harus mencuci bersih sayuran itu sebelum dimakan. Sedangkan penggemar produk hewan dianjurkan memanaskan bahan makanan itu secara merata pada suhu yang dianjurkan para peternak sapi, domba, atau kambing juga harus selalu mencuci tangan setelah bekerja di kandang ternak.
Image result for  escherichia coli
Gambar : Bakteri Escherichia coli

                                                            Klasifikasi Ilmiah Escherichia coli :
                                                            Domain           : Bacteria
                                                            Phylum            : Proteobacteria
                                                            Order               : Enterobacteriales
                                                            Family             : Enterobactericeae
                                                            Genus              : Eschericha
                                                            Spesies            : Escherichia coli

2.3  Anatomi dan Morfologi Escherichia coli
       Escherichia coli termasuk dalam famili Enterobacteriaceae. Bakteri ini merupakan bakteri Gram-negatif, berbentuk batang pendek (kokobasil), mempunyai flagel, berukuran 0,4-0,7 µm x 1,4 µm, dan mempunyai simpai. Escherichia coli tumbuh dengan baik di hampir semua media perbenihan, dapat meragi laktosa, dan bersifat mikroaerofilik
       Escherichia coli adalah kuman oportunitis yang banyak ditemukan di dalam usus besar manusia sebagai flora normal. Sifatnya unik karena dapat menyebabkan infeksi primer pada usus misalnya diare pada anak-anak dan travelersdiarhea. Selama bertahun-tahun Escherichia coli dicurigai sebagai salah satu penyebab diare yang timbul pada manusia khususnya pada anak-anak yang mengakibatkan kematian.

2.4  Patogenesis dan Patologi Escherichia coli
                   Hampir semua hewan berdarah panas dapat dikolonisasi oleh Escherichia coli hanya dalam beberapa jam atau beberapa hari setelah dilahirkan. Kolonisasi pada bayi dapat terjadi oleh bakteri yang ada dalam makanan atau air atau dengan kontak langsung melalui pengasuh bayi. Kolonisasi Escherichia coli dalam saluran cerna manusia biasanya terjadi setelah 40 hari dilahirkan. Escherichia coli dapat melekat pada usus besar dan dapat bertahan selama beberapa bulan bahkan beberapa tahun. Perubahan populasi Escherichia coli terjadi dalam periode lama. Hal ini dapat terjadi setelah infeksi usus atau setelah penggunaan kemoterapi atau anti mikroba yang dapat membunuh flora normal.
                   Lebih dari 700 serotipe antigenik Escherichia coli telah dikenal berdasarkan perbedaan struktur antigen O (antigen somatik), H (antigen flagel), dan K (antigen kapsul, selubung). Sebagai contoh, Escherichia coli serotipe O157:H7 menunjukkan bahwa serotipe bakteri ini dibedakan berdasarkan jenis antigen O157 dan antigen H7.
                   Beberapa galur Escherichia coli menjadi penyebab infeksi pada manusia, seperti infeksi saluran kemih, infeksi meningitis pada neonatus, dan infeksi intestin (gastroenteritis). Ketiga penyakit infeksi tersebut sangat bergantung pada ekspresi faktor virulensi masing-masing serotipe Escherichia coli, termasuk adanya adhesin, invasin, jenis toksin yang diproduksi dan kemampuan mengatasi pertahanan tubuh hospes.
                   Infeksi Escherichia coli sering kali berupa diare yang disertai darah, kejang perut, demam, dan terkadang dapat menyebabkan gangguan pada ginjal. Infeksi Escherichia coli pada beberapa penderita, anak-anak dibawah 5 tahun, dan orang tua dapat menimbulkan komplikasi yang disebut dengan sindrom uremik hemolitik. Sekitar 2-7% infeksi Escherichia coli menimbulkan komplikasi.
                   Selain diare, penyakit-penyakit lain yang disebabkan oleh Escherichia coli adalah infeksi saluran kemih, pneumonia, meningitis pada bayi baru lahir dan infeksi luka terutama luka didalam abdomen (Jawetz, Melnick dan Adelberg’s 2005)
                   Sebagian besar penyakit yang disebabkan oleh infeksi Escherichia coli ditularkan melalui makanan yang tidak dimasak dan daging yang terkontaminasi. Penularan penyakit dapat terjadi melalui kontak langsung dan biasanya terjadi di tempat yang memiliki sanitasi dan lingkungan yang kurang bersih.
                   Escherichia coli adalah spesies yang paling penting dari genus Escherichia dan merupakan flora normal yang dapat menyebabkan infeksi pada saluran kencing, luka, bakterimia, septisemia dan meningitis serta infeksi gastrointestinal (Gaani A, 2003).        Sehubungan dengan infeksi intestin (infeksi pada usus) dikenal lima jenis Escherichia coli, yaitu :
a.     Escherichia coli Enteropatogenic (EPEC)
Jenis ini merupakan penyebab utama diare pada bayi. EPEC memiliki fimbria, toksin yang tahan terhadap panas (ST), dan toksin yang tidak tahan panas (LT), serta menggunakan adhesin, yang dikenal dengan intimin, untuk melekat pada sel mukosa usus. Infeksi EPEC mengakibatkan diare berair yang biasanya dapat sembuh sendiri, tetapi ada juga yang menjadi kronis. Lama diare yang disebabkan oeh EPEC dapat diperpendek dengan pemberian antibiotik.
b.    Escherichia coli Enterotoksigenik (ETEC)
ETEC merupakan bakteri penyebab diare pada anak dan wisatawan yang bepergian ke daerah yang bersanitasi buruk. Oleh karena itu, diare yang disebabkan oleh jenis bakteri ini dinamakan diare wisatawan. Faktor kolonisasi ETEC yang spesifik untuk manusia adalah fimbiral adhesin. Faktor ini menyebabkan ETEC dapat melekat pada epitel usus halus sehingga biasanya menyebabkan diare tanpa demam. Beberapa galur bakteri ini menghasilkan eksotoksin yang tidak panas (LT). Struktur molekul dan fungsi LT mirip dengan protein toksin kolera (86 kDa). Subunit melekat pada gangliosida GMI pada brush border sel epitel usus halus dan memudahkan subunit A masuk ke dalam sel sehingga dapat mengaktifkan adenilat siklase.
ETEC juga memproduksi toksin yang tahan terhadap panas (ST). Toksin ini tahan dalam air mendidih selama 30 menit. Enterotoksin yang stabil terhadap pemanasan ini merupakan peptida yang memiliki bobot molekul sekitar 4000 dalton. Karena ukurannya yang kecil inilah, toksin ST diperkirakan sulit diinaktikan oleh pemanasan. Toksin ini dapat menyebabkan konsentrasi guanosin monofosfat siklik dalam sitoplasma hospes meningkat konsentrasi adenosin monofosfat setempat (cAMP). Hal ini menimbulkan hipersekresi air dan klorida secara terus menerus dan lama dan disertai penghambatan resorpsi natrium. Lumen usus teregang oleh cairan dan mengakibatkan hipermotilitas dan diare.
Untuk menghindari diare wisatawan, sangat dianjurkan untuk berhati-hati dalam memilih makanan yang memungkinkan terkontaminasi oleh ETEC. Profilaksis dengan suatu antimikroba dapat efektif, tetapi mungkin juga menimbulkan peningkatan resistensi bakteri pada antibiotik..
c.     Escherichia coli Enteroinvasif (EIEC)
Mekanisme patogenik EIEC mirip dengan patogenesis infeksi yang disebabkan oleh Shigella. EIEC masuk dan berkembang dalam epitel sel-sel kolon sehingga menyebabkan kerusakan pada sel kolon. Gejala klinis yang ditimbulkan oleh infeksi EIEC mirip dengan gejala diare yang disebabkan oleh Shigella. Gejala diare biasanya disertai dengan demam.
d.    Escherichia coli Enterohemoragik (EHEC)
Jenis bakteri ini menghasilkan suatu toksin yang dikenal dengan verotoksin. Nama verotoksin sesuai dengan efek sitotoksik toksin ini pada sel vero, yaitu sel ginjal yang diperoleh dari ginjal monyet Afrika (African green monkey). EHEC dapat menyebabkan kolitis berdarah (yakni diare berat yang disertai perdarahan) dan sindrom uremik hemolitik (yakni gagal ginjal akut yang disertai anemia hemolitik mikroangiapatik dan trombositopenia). Banyak kasus kolitis berdarah dan komplikasinya dapat dicegah dengan memasak daging sampai matang sebelum dikonsumsi.
e.     Escherichia coli Enteroagregatif (EAEC)
Bakteri ini menimbulkan diare akut dan kronis dan merupakan penyebab utama diare pada masyarakat di negara berkembang. EAEC melekat pada sel manusia dengan pola khas dan menyebabkan diare yang tidak berdarah, tidak menginvasi, dan tidak menyebabkan inflamasi pada mukosa intestin. EAEC diperkirakan memproduksi EAST (entero aggregative ST toxin), yang merupakan suatu enterotoksin yang tidak tahan panas. Disamping itu, EAEC juga memproduksi hemolisin yang diperkirakan mirip dengan hemolisin yang dirpoduksi oelh galur Escherichia coli yang dapat menyebabkan infeksi salura kemih. Peranan toksin dan hemolisin dalam virulensi EAEC belum diketahui dengan jelas. Demikian juga, pernanan galur EAEC sebagai penyebab penyakit pada manusia maish kontroversial.

                        Escherichia coli yang menyebabkan infeksi ekstraintestin :
a.    Escherichia coli Uropatogenik (UPEC)
     UPEC menyebabkan kira-kira 90% infeksi saluran kandung kemih mulai dari sistitis sampai pielonefritis. Bakteir yang berkolonisasi berasal dari tinja atau daerah perinium saluran urine yang masuk ke dalam kandung kemih. Kemungkinan wanita mengalami infeksi UPEC pada kandung kemih empat belas kali lebih besar daripada pria karena wanita mempunyai saluran uretra yang lebih pendek. UPEC biasanya menyebabkan infeksi sistitis tanpa gejala serius pada wanita yang saluran intestinnya telah terinfeksi UPEC sebelumnya. Bakteri yang terdapat pada daerah periureteral tersebut pada akhirnya masuk ke dalam kandung ekmih ketika melakukan hubungan seksual. Dengan bantuan adhesin, UPEC dapat berkolonisasi pada kandung kemih penderita. Protein penting adhesin yang dikaitkan dengan patogenisitas UPEC adalah P-fimbria atau PAP (pili yang menyebabkan pielonefritis ^pyelonephritis-associated pili^). P-fimbria dapat berkaitan dengan antigen P yang terdapat pada sel darah merah yang mengandung residu D-galaktosa-D-galaktosa. Fimbria ini tidak saja dapat berkaitan dengan sel darah merah,tetapi juga dapat berkaitan dengan senyawa galaktosa yang terdapat pada permukaan sel-sel epitel saluran kemih. UPEC biasanya menghasilkan siderofor yang dianggap berperan penting selama proses kolonisasi. Bakteri ini juga menghailkan hemolisin yang bersifat sitotoksik terhadap membran sel hospes. Aktifitas hemolisin tidak hanya terbatas pada kemampuan melisis sel darah merah, tetapi juga a-hemolisin Escherichia coli dapat melisis limfosit, sedangkan b-hemolisin dapat menghambat aktifitas fagosistosis dan kemotaksis neutrofil.
b.      Escherichia coli meningitis neonatus (NMEC)
     NMEC dapat menyebabkan meningitis pada bayi baru lahir. Galur bakteri ini dapat menginfeksi 1 dalam 2000-4000 bayi. Perjalanan infeksi biasanya terjadi setelah Escherichia coli masuk ke dalam pembuluh darah melalui nasofaring atau saluran gastrointestinal dan kemudian masuk ke dalam sel-sel otak. Antigen kapsul K 1 dianggap sebagai faktor virulensi utama yang menyebabkan meningitis pada bayi. Antigen K1 dapat menghambat fagositosis, reaksi komplemen, dan respons reaksi imunitas hospes. Selain itu, siderofor dan endotoksin juga berperan penting dalam patogenesis NMEC.

2.5  Gambaran Klinis Escherichia coli
                   Bakteri Escherichia coli sering kali berupa diare yang disertai darah, kejang perut, demam dan terkadang menyebabkan gangguan pada ginjal. Sekitar 2-7% infeksi Escherichia coli menimbulkan komplikasi. Bakteri Escherichia coli tularkan melalui makanan yang tidak dimasak dan daging yang terkontaminasi. Penularan penyakit dapat terjadi melalui kontak langsung dan biasanya terjadi di tempat yang memiliki sanitasi dan lingkungan yang kurang bersih.

2.6  Diagnosis Escherichia coli
                   Diagnosis laboratorium penyakit diare yang disebabkan oleh Escherichia coli masih sulit dilakukan secara rutin, karena pemeriksaan secara tradisional dan serologi seringkali tidak mempu mendeteksi kuman penyebabnya. Deteksi sebagian besar strain Escherichia coli pathogen memerlukan metode khusus untuk mengidentifikasi toksin yang dihasilkan. Sampai saat ini metode yang ada masih memerlukan tes dengan binatang percobaan dan kultur jaingan yang cukup mahal dan kurang praktis. Beberapa metode baru berdasarkan tes imunologi dan teknik hibridasi DNA sudah dikembangkan, tetapi belum beredar dipasaran luas, misalnya : tes Elisa (anzyme-lingked immunosorbent assay), particle agglunitanation methods Co-aggluntination dengan protein A Staphylococcus aureus yang telah berikatan dengan antibody terhadap enteroksin Escherichia coli,  hibridasi DNA pada koloni kuman atau langsung pada specimen tinja (Karsinah, H.M Lucky, Suharto dan H.W. Mardiastuti 1994).

2.7  Pengobatan dan Pencegahan Escherichia coli
Pengobatan :
                   Kuman Escherichia coli yang diisolasi dari infeksi di dalam masyarakat biasanta sensitive terhadap obat-obat anti mikroba yang digunakan utnuk organisme gram negatif, meskipun terdapat juga strain-starin resisten, terutama pada pasien dengan riwayat pengobatan antibiotik sebelumnya. Pada pasien yang terkena diare, perlu dijaga keseimbangan cairan dan elektrolitnya (Karsinah. H.M. Lucky, Suharto dan H.W. Mardiastuti, 1994).

Pencegahan :
                   Untuk menghidari supaya tidak tertular Escherichia coli, berikut cara pencegahan yang bisa dilakukan adalah :
a.       Pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif, sampai umur 4 – 6 bulan. Pemberian ASI mempunyai banyak keuntungan bagi bayi atau ibunya. Bayu yang mendapat ASI lebih sedikit dan lebih ringan episode diarenya dan lebih rendah resiko kematiannya. Jika dibanding bayi yang tidak mendapat ASI. Dalam 6 bulan pertama, kehidupan resiko mendapat diare yang membutuhkan perawatan dirumah sakit dapat mencapai 30 kali lebih besar pada bayi yang tidak disusui daripada bayu yang mendapat ASI penuh. Hal ini disebabkan karena ASI tidak membutuhkan botol, dot, dan air yang mudah terkontaminasi dengan bakteri yang mungkin menyebabkan diare. ASI juga mengandung antibodi yang melindungi bayi terhdapa infeksi terutama diare, yang tidak terdapat pada susu sapi atau formula. Saat usia bayi mencapai 4 – 6 bulan, bayi harus menerima buah-buahan dan makanan lain untuk memenuhi kebutuhan gizi yang meningkat, tetapi ASI harus tetap terus diberikan paling tidak sampai umur dua tahun.
b.      Hindaarkan penggunaan susu botol. Seringkali para ibu membuat susu yang tidak langsung habis sekali minum, sehingga memungkinkan tumbuhnya bakteri. Juga dot yang jatuh, langsung diberikan pada bayi, tanpa dicuci. Botol juga harus dicuci dan direbus untunk mencegah pertumbuhan kuman.
c.       Penyimpanan dan penyiapan makanan pendamping ASI dengan baik mengurangi paparan dan perkembangan bakteri
d.      Penggunaan air bersih untuk minum. Pasokan air yang cukup, bisa membantu membiasakan hidup bersih seperti cuci tangan, mencuci perlatan makan, membersihkan WC dan kamar mandi.
e.       Mencuci tangan (sesudah buang air besar dan membuang tinja bayi, sebelum menyiapkan makanan.
f.       Membuang tinja, termasuk tinja bayi secara benar. Tinja merupakan sumber infeksi tanpa gejala. Oleh karena itu pembuangan tinja anak merupakan aspek penting pencegahan diare.




2.8 Salmonella typhi
                   Salmonella merupakan bakteri Gram-negatif. Karena habitat aslinya yang berada di dalam usus manusia maupun binatang, bakteri ini dikelompokkan ke dalam electrobacteriaceae (Brooks, 2005).
                   Salmonella adalah enterobacteriaceae yang terdistribusi secara luas di dalam lingkungan dan meliputi lebih dari 2000 sterotipe. Salmonella merupakan bakteri patogen paling utama yang terdapat di air limbah yang dapat menyebabkan demam typus dan paratypus dan gastroenteritis (radang lambung/perut). Konsentrasi Salmonella di dalam air limbah berkisar dari beberapa sel sampai mencapai 8000 organisme per100 ml air limbah.
Image result for salmonella typhi
                                                            Klasifikasi Ilmiah Salmonella typosa :
                                                            Domain           : Bacteria
                                                            Phylum            : Proteobacteria
                                                            Classis             : Gramma proteobakteria
                                                            Order               : Enterobacteriales
                                                            Family             : Enterobactericeae
                                                            Genus              : Salmonella
                                                            Spesies            : Salmonella typosa

2.9 Anatomi dan Morfologi Salmonella typhi
                   Salmonella yang termasuk dalam famili Enterobaceriaceae merupakan bakteri patogen bagi manusia dan hewan. Angka kesakitan akibat infeksi bakteri Salmonella sangat tinggi. Penyakit ini tidak saja terjadi di negara berkembang, tetapi juga berjangkit di negara maju. Angka kejadin infeksi Salmonella di seluruh dunia mencapai lebih dari 12,5 juta per tahun dan di Amerika Serikat diperkirakan sekitar 2 juta penderita salmonelosis setiap tahun.
Infeksi Salmnonella terjadi pada saluran cerna dan terkadang menyebar lewat peredaran darah ke seluruh organ tubuh. Infeksi Salmonella pada manusia bervariasi, yaitu dapat berupa infeksi yang dapat sembuh sendiri (gastroenteritis), tetapi dapat juga menjadi kasus yang serius apabila terjadi penyebaran sistemik (demam enterik). Dalam kondisi seperti ini, diperlakukan penanggulangan yang tepat dengan antibiotik pilihan.
                   Dalam perkembangannnya, taksonomi Salmonella cukup rumit sehingga terdapat beberapa tata nama yang berbeda. Kauffman-White meggolongkan Samonella berdasarkan kekhasan antigenik, sedangkan Ewing, dkk menyatakan bahwa terdapat tiga spesies Salmonella, yaitu Salmonella choleraesuis, Salmonella enteritidis, dan Salmonella typhi. Melalui pemetaan genetika, Samonella disimpulkan termasuk dalam genus Arizona berdasarkan persamaan struktur genetik, filogenik, dan petunjuk evolusinya.
Salmonella merupakan bakteri Gram-negatif, tidak berspora, tidak mempunyai simpai, tanpa fimbria, dan mempunyai flagel peritrik, kecuali Salmonella pullorum dan Salmonella gallinarum. Ukuran 1-3,5 µm x 0,5 – 0,8 µm. Besar koloni dalam media perbenihan rata-rata 2,4 mm.
                   Sifat Salmonella typhi antara lain dapat bergerak, tumbuh pada suasana aerob dan anaerob fakultatif, memberikan hasil positif pada reaksi fermentasi manitol dan bitol, dan memberikan hasil negatif pada reaksi indol, DNAse, fenilalanin deaminase, urease, Voges Proskauer, dan reaksi fermentasi sukrosa dan laktosa. Salmonella typhi tidak tumbuh dalam larutan KCN, hanya sedikit membentuk gas H2S, dan tidak membentuk gas fermentasi pada glukosa.
                   Salmonella tumbuh pada suasan aerob atau anaerob fakultatif, pada suhu 15-410C. Suhu pertumbuhan optimum 37,50C dengan pH media 6-8. Salmonella mempunyai gerak positif, dapat tumbuh dengan cepat pada perbenihan biasa, tidak meragi laktosa, manitol, dan dekstrin. Sebagian besar isolat Salmonella dari spesimen klinik membentuk H2S. Pembentukan H2S bervariasi. Hanya 50% Salmonella enteritidis serotipe A yang membentuk H2S.
                   Dalam perbenihan agar Salmonella-Shigella, agar Endo, dan agar MacConkey, koloni Salmonella berbentuk bulat, kecil, dan tidak berwarna. Pada media Wilson Blair agar, koloni Salmonella berwarna hitam.
Salmonella mati pada suhu 560C dan pada keadaan kering. Dalam air, Salmonella dapat bertahan selama 4 minggu. Bakteri ini hidup subur dalam media yang mengandung garam empedu berkonsentrasi tinggi dan tahap terhadap brilliant green, natrium tetrationat, dan natrium deoksiolat. Senyawa-senyawa ini mengambat pertumbuhan bakteri coliform sehingga dapat digunakan untuk mengisolasi bakteri Salmonella dari tinja dalam media. Spesies Salmonella dapat ditentukan dengan uju reaksi biokimia atau uji serologi, sedangkan penentuan tipe faga berguna dalam bidang epidemiologi.

2.10 Patogenesis dan Patologis Salmonella typhi
                   Salmonelosis adalah infeksi yang disebabkan oleh Salmonella yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Orang yang terinfeksi akan mengalami gejala demam, diare, kram perut, pusing, sakit kepala, dan rasa mual setelah 12 sampai 72 jam terinfeksi. Gejala ini dapat berlangsung selama 7 hari. Penderita salmonelosis umumnya dapat sembuh tanpa perawatan dokter. Akan tetapi, sebagian penderita dapat mengalami diare yang yang sangat parah sehingga harus dirawat di rumah sakit. Infeksi para terutama terjadi pada anak-anak dan penderita yang memiliki sistem pertahanan tubuh yang lemah.
                   Virulensi Salmonella disebabkan oleh (a) kemampuan mengivasi sel-sel epitel inang, (b) mempunyai antigen permukaan yang terdiri atas simpai lipopolisakarida, (c) kemampuan melakukan replikasi interseluler, (d) menghasilkan beberapa toksin spisifik, (e) kemampaun berkolonisasi pada ileum dan kolon, (f) dan kemampuan menginvasi lapisan epitel intestin dan berkembang di dalam sel-sel limfoid.
Manifestasi klinik samonelosis terdiri atas beberapa sindrom, anatara lain gastroetenritis, demam enterik, septisemia, dan penderita yang tidak menampakkan gejala sakit.
Gambar : Mekanisme diare akibat infeksi Salmonella.

2.11 Gambaran Klinis Salmonella typhi
                   Pada masa inkubasi penyakit ini berkisar antara 12-48 jam atau lebih. Gejalan yang timbul pertama kali adalah mual dan muntah yang mereda dalam beberapa jam, kemudian diikuti dengan nyeri abdomen dan demam. Diare merupakan gejala yang paling menonjol. Pada kasus berat, diare dapat bercampur darah. Penderita seringkali kambuh sendiri dalam 1-5 hari, tetapi dapat menjadi berat bila terjadi gangguan keseimbangan elektrolit dan dehidrasi. Bakteri penyebab dapat diisolasi dari tinja penderita dalam beberapa minggu, sedangkan pada pembawa bakteri (carrier), bakteri dapat ditemukan dalam tinja lebih dari 1 tahun.

2.12 Diagnosis Salmonella typhi
                   Berbagai penyakit infeksi dapat menyebabkan diare, demam, dan sakit perut. Oleh sebab itu, pemeriksaan laboratorium untuk menentukan etiologi penyakit infeksi sangat penting dalam menunjang diagnosis klinik.
                   Spesimen pemeriksaan yang harus diambil adalah darah, urine, dan tinja. Untuk kasus demam enterik dan septisemia, darah biasanya mengandung Salmonella di minggu pertama, sedangkan pada biakan urine, bakteri ditemukan di minggu kedua. Biakan bakteri yang diisolasi tinja biasanya akan menunjukkan hasil positif di minggu kedua atau ketiga, sedangkan pada gastroenteritis, bakteri akan positif di minggu pertama. Isolasi dan identifikasi Salmonella biasanya dilakukan dengan teknik perbenihan dan uji serologi.

2.13 Pengobatan dan Pencegahan Salmonella typhi
                   Infeksi Salmonella biasanya berlangsung selama 5-7 hari dan pasien memerlukan perawatan jika mengalami dehidrasi berat dan infeksi telah menyebar dari usus. Penggantian cairan da elektrolit sangat penting jika penderita mengalami diare parah. Banyak antibiotik efektif terhadap Salmonella. Kloramfenikol atau ampisilin merupakan antibiotik pilihan untuk mengatasi salmonelosis. Pembawa bakteri (carrier) dalam usus sering dapat diobati dengan ampisilin atau amoksisilin probenesid. Akan tetapi, pembawa bakteri dalam kandung empedu memerluka tindakan pembedahan (kolesistektomi) selain pemberian ampisilin.
                   Imunisasi dengan vaksin monovalen Salmonella typhi memberikan proteksi cukup baik. Vaksin akan merangsang produksi antibodi terhadap antigen Vi, O, dan H. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa antibodi terhadap antigen H dapat memberikan perlindungan terhadap Salmonella typhi, tetapi antibodi terhadap antigen Vi dan antigen O tidak.
                   Pencegahan dapat dilakukan dengan upaya menjaga kebersihan makanan dan minuman serta upaya carrier yang berpotensi menjadi sumber infeksi. Ada dua jenis carrier, yaitu convalescent carrier (bakteri dapat ditemukan dalam tinja dalam waktu yang bervariasi) dan chronic carrier (bakteri dapat ditemukan dalam tinja dalam satu tahun). Selain itu, pencegahan juga dapat dilakukan dengan memerikan imunisasi vaksin manovalen Salmonella typhi.
Upaya pengobatan dilakukan dengan cara berikut :
a.       Obat standart : kloramfenikol
b.      Demam tifoid : ampisilin, amoksisilin, trimetoprim-sulfametoksazol
c.       Carrier tanpa batu empedu : ampisilin, amoksisilin, probenesid.
d.      Carrier disertai kolelitiasis : antibiotik dan pembedahan.



2.14 Shigella dysentrieae
                   Genus Shigella ditemukan sebagai penyebab bacillary oleh ahli mikrobiologi Jepang, Kiyoshi Shiga pada 1898. Shigella adalah penyakit yang ditularkan melalui makanan atau air. Organisme Shigella menyebabkan disentri basiler dan menghasilkan respons inflamasi pada kolon melalui eterotoksin dan invasi bakteri.
                   Bakteri Shigella dysentrie dapat menyebabkan penyakit disentri basilar. Disentri basilar adalah infeksi usus besar oleh bakteri patogen genus Shigella. Shigella dysenteriae merupakan penyebab penyakit yang paling ganas dan menimbulkan epidemi hebat di daerah tropis dan subtropis (Soedarto, 1996). Pengobatan infeksi dapat digunakan dengan antibiotik yang telah diresepkan secara luas seperti pada saat sekarang ini (Gould and Brooker, 2003).
Shigellosis adalah infeksi enterik invasif akut yang disebabkan oleh bakteri yang masuk ke dalam genus Shigella, secara klinis ditunjukkan dengan diare yang sering berdarah. Shigellosis banyak menjadi endemik di banyak negara berkembang dan juga menjadi epidemi yang menyebabkan cukup morbiditas dan kematian.
                   Makanan yang sering terkontaminasi Shigella adalah salad, sayuran segar (mentah), susu dan produk susu, serta air yang terkontaminasi. Sayuran segar yang tumbuh pada tanah terplusi dapat menjadi faktor penyebab penyakit, seperti disentri basiler atau Shigellosis yang disebabkan oleh Shigella. Menurut USFDA (1999), diperkirakan 300.000 kasus Shigellosis terjadi di Amerika Serikat setiap tahun.
                   Dengan perlakuan secara biokimia Shigella relative menjadi tidak aktif bila dibandingkan dnegan spesies Escherichia. Studi-studi yang berkaitan tentang DNA telah menunjukkan bahwa mereka masuk dalam genus yang sama, namun pengelompokan keduanya tetap dipertahankan karena tidak seperti Escherichia, kebanyakan Shigella adalah patogen dan berpotensi menyebabkan penyakit yang parah.
Shigella stool.jpg
Gambar : Bakteri Shigella dysentrieae


                                    Klasifikasi Ilmiah Shigella dysenteriae :
                                    Domain           : Bacteria
                                    Phylum            : Proteobacteria
                                    Classis             : Gramma proteobakteria
                                    Order               : Enterobacteriales
                                    Family             : Enterobactericeae
                                    Genus              : Shigella
                                    Spesies            : Shigella dysenterieae


2.15 Anatomi dan Morfologi Shigella dysentrieae
                   Shigella dysenteriae merupakan spesies bakteri Shigella yang paling umum ditemukan di Asia Timur dan Amerika Tengah. Bakteri ini merupakan bakteri patogen usus yang umumnya dikenal sebagai bakteri penyebab disentri (disentri basiler).
                   Shigella dysenteriae termasuk dalam famili Enterobacteriaceae dan tribus Escherichia. Genus Shigella dinamakan sesuai dengan ahli bakteriologi berkebangsaan Jepang, Kiyoshi Shiga, yang menemukan basilus disentri pada tahun 1897. Genus Shigella dibedakan dari genus-genus lain karena menyebabkan gejala klinik yang khas. Hingga saat ini, telah ditemukan 4 spesies Shigella, yaitu Shigella dysenteriae, Shigella flexneri, Shigella boydii, dan Shigella sonnei. Keempat spesies tersebut dibedakan berdasarkan komponen utama yang dimiliki oleh antigen O yang terdapat pada setiap genus Shigella. Setiap spesies dari genus Shigella dibedakan menjadi beberapa serotipe berdasarkan komponen minor antigen O. Shigella dysenteriae mempunyai 10 jenis serotipe.
Shigella dysenteriae merupakan bakteri Gram-negatif berukuran 0,5 – 0,7 µm x 2,3 µm
                                              
2.16 Patogenesis dan Patologis Shigella dysentrieae
                   Shigellosis disebut juga Disentri basiler, disentri sendiri artinya salah satu dari berbagai gangguan yang ditandai dengan peradangan usus, terutama kolon dan disertai nyeri perut, tenesmus dan buang air besar yang sering mengandung darah dan mucus. Habitat alamiah bakteri disentri adalah usus besar manusia, tempat bakteri tersebut dapat menyebabkan disentri basiler. Infeksi S.dysenteriae praktis selalu terbatas pada saluran pencernaan, dan invasi bakteri ke dalam darah sangat jarang. S.dysenteriae menimbulkan penyakit yang sangat menular dengan dosis infektif dari bakteri S.dysenteriae adalah kurang dari 103 organisme dan merupakan golongan Shigella sp yang cenderung resisten terhadap antibiotic (Jewetz et al., 2005).
                   Proses patologik yang penting adalah invasi epitel selaput lendir, mikrobases pada dinding usus besar dan ileum terminal yang cenderung mengakibatkan nekrosis selaput lender, ulserasi superficial, pendarahan, pembentukan “pseudomembran” pada daerah ulkus. Ini terdiri dari fibrin, leukosit, sisa sel, selaput lender yang nekrotik dan bakteri. Waktu proses patologik berkurang, jaringan granulasi akan mengisis ulkus sehingga terbentuk jaringan parut (Jewetz et al., 2005)
                   Secara klasik, Shigellosis timbul dengan gejala adanya nyeri abdomen, demam, BAB berdarah, dan feses berlendir. Gejala awal terdiri dari demam, nyeri abdomen, dan diare cair tanpa darah, kemudian feses berdarah setelah 3 – 5 hari kemudian. Lamanya gejala rata-rata pada orang dewasa adalah 7 hari, pada kasus yang lebih parah menetap selama 3 – 4 minggu. Shigellosis kronis dapat menyerupai kolitis ulseratif, dan status karier kronis dapat terjadi.
                   Manifestasi ekstraintestinal Shigellosis dapat terjadi, termasuk gejala pernapasan, gejala neurologis seperti meningismus, dan Hemolytic Uremic Syndrome. Artritis oligoartikular asimetris dapat terjadi hingga 3 minggu sejak terjadinya disentri. Pulasan cairan feses menunjukkan polimorfonuklear dan sel darah merah. Kultur feses dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi dan sensitivitas antibiotik.
                   Penata laksanaan Shigellosis dengan pemberian antibakteri seperti kotrimoksazol, ciprofloksasin, ampisilin, asam nalidixic atau ceftriaxone dapat membantu memperpendek masa sakit dan sekresi patogen serta meringankan penyakit. Obat-obat antibakteri tersebut harus digunakan pada situasi tertentu dengan indikasi yang jelas, indikasi tersebut antara lain untuk mengurangi beratnya penyakit, untuk melindungi kontak dan indikasi epidemiologis. Resistensi bakteri Shigella sp terhadap antibiotic dengan segala aspeknya bukanlah merupakan suatu hal yang baru, dimana selama 5 dekade terakhir bakteri Shigellasp telah resisten terhadap berbagai antibakteri baru yang pada awalnya sangat efektif terhadap infeksi Shigella sp yang resisten terhadap multiantibiotik, seperti S. dysenteriae tipe 1, ditemukan di seluruh dunia dan timbul sebagai akibat pemakaian antibiotika yang tidak rasional. Akibat sering terjadinya resistensi terhadap suatu antibakteri maka pemilihan antibakteri yang tepat perlu dilakukan, dimana pemilihan antibakteri tergantung kepada gambaran resistensi bakteri setempat sesuai prevalensi infeksi yang terjadi pada daerah tersebut (James, 2001).
                   Sesudah masa inkubasi yang pendek (1-2 hari), ada serangan tiba-tiba berupa sakit perut, demam, dan diare cair. Diare terjadi akibat pengaruh eksotoksin dalam usus kecil. Eksotoksin merupakan sebuah protein antigenik (merangsang produksi antitoksin) dan mematikan pada binatang percobaan. Pada manusia, eksotoksin dapat menghambat penyerapan gula dan asam amino pada usus kecil (Jawetz et al., 2005).

Patogenesis Shigella dysenteriae dapat mencakup tiga hal, yaitu :
a.        Endotoksin
Pada waktu terjadi autolisis, semua Shigella mengeluarkan lipopolisakaridanya yang toksik. Endotoksin ini mungkin menambah iritasi pada dinding usus.

b.  Eksotoksin (Shigella dysentriae)
S. Dysentriae tipe 1 (basil Shiga) memproduksi eksotoksin tidak tahan panas yang dapat mempengaruhi saluran pencernaan dan sistem saraf pusat. Eksotoksin merupakan protein yang bersifat antigenik (merangsang produksi antitoksin) dan mematikan hewan percobaan. Sebagai enterotoksin, zat ini dpat menimbulkan diare, sebagaimana halnya enterotoksin.
Terapi dengan rehidrasi yang adekuat secara oral atau intravena, tergantung dari keparahan penyakit. Derivat opiat harus dihindari. Terapi antimikroba diberikan untuk mempersingkat berlangsungnya penyakit danpenyebaranbakteri.Trimetoprim-sulfametoksazole atau fluoroquinolon dua kali sehari selama 3 hari merupakan antibiotik yang dianjurkan.
Antibiotik terpilih untuk infeksi Shigella adalah ampisilin, kloramfenikol, sulfametoxazol-trimetoprim. Beberapa sumber lain menyebutkan bahwa kanamisin, streptomisin dan neomisin merupakan antibiotik yang dianjurkan untuk kasus-kasus infeksi Shigella. Masalah resistensi kuman Shigella terhadap antibiotik dengan segala aspeknya bukanlah merupakan suatu hal yang baru. Shigella yang resisten terhadap multiantibiotik (seperti S. dysentriae 1) ditemukan di seluruh dunia dan sebagai akibat pemakaian antibiotika yang tidak rasional.







2.17 Gambaran Klinis Shigella dysentrieae
                   Setelah masa inkubasi yang pendek (1-3 hari) secara mendadak timbul nyeri perut, demam dan tinja encer. Tinja encer tersebut berhubungan dengan kerja eksotoksin dalam usus halus. Sehari atau beberapa hari kemudian, karena infeksi meliputi eleum dan kolon, maka jumlah tinja meningkat. Tinja kurang encer tetapi sering mengandung lendir dan darah.
                   Tiap gerakan usus disertai dengan ‘mengejan’ dan tenesmus (spasmus rektum), yang menyebabkan nyeri perut bagian bawah. Demam dan diare sembuh secara spontan dalam 2-5 hari pada lebih dari setengah kasus dewasa. Namun, pada anak-anak dan orang tua, kehilangan air dan elektrolit dapat menyebabkan dehidrasi, asidosis, dan bahkan kematian.
Kebanyakan orang pada tahap penyembuhan, mengeluarkan kuman disentri dalam waktu yang singkat, tetapi beberapa diantaranya tetap menjadi pembawa kuman usus hingga menahun dan dapat mengalami serangan penyakit berulang-ulang. Pada penyembuhan infeksi, kebanyakan orang membentuk antibody terhadap Shigella dalam darahnya, tetapi antibody ini tidak melindungi terhadap reinfeksi.

2.18 Diagnosis Shigella dysentrieae
a.    Bahan : tinja segar, lendir, dan usapan rektum untuk pembiakan. Sejumlah besar leukosit dan darah merah sering dapat terlihat secara mikroskopik dalam tinja. Bahan serum, bila diinginkan, harus diambil tiap 10 hari untuk menujukkan kenaikan titer aglutinasi antibodi.
b.    Biakan : bahan digoreskan pada perbenihan differensial (misalnya : Mac Hectoen atau agar Salmonella-Shigella yang menekan Enterobacteriaceae lain dan organisme gram-positif. Koloni-koloni yang tidak berwarna (laktosa negatif) dinolukasikan ke dalam perbenihan agar triplet gula besi.
c.    Serologi : orang normal mempunyai aglutinin terhadap berbagai spesies Shigella. Tetapi serangkaian penetapan titer antibodi dengan selang waktu 10 hari dapat menunjukkan kenaikan antibodi spesifik. Serologi tidak digunakan untuk mendiagnosis infeksi Shigella.

2.19 Pengobatan dan Pencegahan Shigella dysentrieae
                   Infeksi sigelosis merupakan infeksi yang berasal dari makanan dan air. Oleh karena itu, pencegahan infeksi ini dapat dilakukan dengan berbagai cara berikut.
a.       Menjaga kebersihan lingkungan
b.      Menjaga kebersihan makanan dan minuman
c.       Melindungi makanan dan minuman dari pencemar seperti lalat
d.      Melakukan klorinasi air minum
e.       Membuang dan mengolah limbah dengan memperhatikan sanitasi lingkungan.
                   Infeksi sigelosis umumnya dapat sembuh sendiri dalam waktu 2-7 hari, terutama pada penderita dewasa. Pada penderita anak-anak atau berusia lanjut, penyakit dapat berlangsung lama, bahkan penderita gizi buruk dapat mengakibatkan kematian. Antibiotik, seperti ampisilin, tetrasiklin, dan trimetroprim-sulfametoksazol, dapat digunakan untuk mengobati infeksi dan mengurangi angka kematian. Akan tetapi, sebelum penggunaan antibiotik, uji kepekaan bakteri terhadap antibiotik perlu dilakukan. Hal ini karena semakin banyak ditemukan galur bakteri yang resisten terhadap antibiotik tertentu.

























BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
                   Escherichia coli, Salmonella typhi, dan Shigella dysentrieae merupakan bakteri penyebab penyakit yang mudah ditemui di Indonesia yaitu merupakan salah satu penyebab penyakit pada saluran pencernaan atau usus. Bakteri ini sering menyebabkan infeksi pada saluran cerna. Bakteri ini dapat hidup dalam usus besar manusia dan hewan, dalam tanah dan dalam air. Karena hidup dalam usus besar manusia, bakteri-bakteri ini sering disebut dengan bakteri enterik.           
                   Bakteri Escherichia coli juga dapat membantu dalam proses pencernaan termasuk pembusukan sisa-sisa makanan dalam usus besar. Fungsi utama yang lain dari Escherichia coli adalah membantu memproduksi vitamin K melalui proses pembusukan sisa makanan. Vitamin K berfungsi untuk pembekuan darah misalnya saat terjadi perdarahan seperti luka/mimisan vitamin K bisa membantu menghentikannya.
                   Sedangkan pada Salmonella typhi merupakan penyebab penyakit pada saluran pencernaan. Salmonella typhi bisa berada dalam air, es, debu, sampah kering yang bila organisme ini masuk pada vehicle yang cocok (daging, kerang dan sebagainya) akan berkembang biak mencapai dosis infeksi. Infeksi Salmonella dapat berakibat fatal pada bayi, balita, ibu hamil dan kandungannya serta orang lanjut usia. Hal ini disebabkan karena kekebalan tubuh mereka yang menurun.


3.2 Saran
                   Sebagai mahasiswa/mahasiswi kesehatan yang sepantasnya kita memahami dan mengerti berbagai hal mengenai penyakit-penyakit yang sering ditemui pada masyarakat sehingga kita mampu memberikan berbagai pengarahan untuk terhindar dari penyakit-penyakit pada saluran pencernaan seperti diare.









DAFTAR PUSTAKA

Batzing, B, L. 2002. Microbiology: An Introduction. USA: Brooks/Cole Thomson Learning
Jawetz, E., Melnick, J. L., and Adelberg, E.A.2002. Medical Microbiologi. 22nd Ed. USA: Lange Medical Publications, McGraw-Hill
Cano. R.J Colome J.S., Microbiologi, St.Paul New York, Los Angeles, San Francisco, West Publishing Company, 1986.
Entjang Indan, dr. 2001. Mikrologi & Parasitologi. Citra Aditya Bakti : Bandung
Pelezar, M. J., dan Chan E. C. S 1986. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI Press.

http://www.ilmukesehatan.com/artikel/makalah-salmonella-typhosa.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Transcultural Nursing

SAP Manajemen Laktasi