Transcultural Nursing
MAKALAH APLIKASI
KEPERAWATAN TRANSKULTURAL DENGAN BERBAGAI MASALAH KESEHATAN PASIEN

DOSEN
PEMBIMBING :
MOH SUHRON, S.Kep ., Ns ., M.Kes
DISUSUN
OLEH
KELOMPOK
10 :
Yusril Mahendra (16142010086)
Yuliani Firdaus (16142010087)
Yulianto Efendi (16142010088)
Dandy Nofandani
S. (16142010135)
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI
ILMU KESEHATAN NGUDIA HUSADA
MADURA
TAHUN 2017
KATA
PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Puji dan syukur penulis panjatkan
kepada Allah Swt, karena atas berkat dan
rahmatnya penulis dapat menulis makalah ini yang berjudul ‘’APLIKASI KEPERAWATAN TRANSKULTURAL DENGAN BERBAGAI
MASALAH KESEHATAN PASIEN” hingga selesai. Meskipun dalam makalah ini
penulis mendapat banyak yang menghalangi, namun mendapat pula bantuan dari
beberapa pihak baik secara moral, materil maupun spiritual.
Oleh karena itu, kami mengucapkan
terima kasih pada dosen pembimbing serta semua pihak yang telah memberikan
sumbangan dan saran atas selesainya penulisan makalah ini.Di dalam penulisan
makalah ini kami menyadari bahwa masih ada kekurangan-kekurangan mengingat
keterbatasannya pengetahuan dan pengalaman kami.Oleh sebab itu, sangat di
harapkan kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun untuk
melengkapkan makalah ini dan berikutnya.
Bangkalan 19 November 2017
Kelompok 10
DAFTAR
ISI
APLIKASI
KEPERAWATAN TRANSKULTURAL DENGAN BERBAGAI MASALAH KESEHATAN PASIEN
Kata
Pengantar.................................................................................................................. i
Daftar
Isi............................................................................................................................ ii
BAB 1
PENDAHULUAN
Latar
belakang................................................................................................................ 1.1
Rumusan
masalah........................................................................................................... 1.2
Tujuan............................................................................................................................. 1.3
Manfaat........................................................................................................................... 1.4
BAB 2
PEMBAHASAN
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Keperawatan Transkultural............................................................................ 2.1
Tujuan
Keperawatan Transkultural............................................................................ 2.2
Hubungan
Model Leininger Dengan Konsep Caring................................................. 2.3
Mitos
Yang Berkaitan Dengan Kesehatan................................................................... 2.4
Trend
dan Issue Transkultural Nursing....................................................................... 2.5
BAB 3
PENUTUP
Kesimpulan...................................................................................................................... 3.1
Saran...............................................................................................................................
3.2
DAFTAR
PUSTAKA.................................................................................................... 4.1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dengan
menjalankan tugas sebagai perawat banyak perubahan-perubahan yang ada baik di
lingkungan maupun klien. Perawat harus menghadapi berbagai perubahan di era
globalisasi ini termasuk segi pelayanan kesehatannya. Perpindahan penduduk
menuntut perawat agar dapat menyesuaikan diri dengan budayanya dan sesuai
dengan teori-teori yang dipelajari. Dalam ilmu keperawatan banyak sekali
teori-teori yang mendasari ilmu tersebut. Termasuk salah satunya teoru yang
mendasari bagaimana sikap perawat dalam menerakan asuhan keperawatan. Salah
satu teori yang diaplikasikan dalam asuhan keperawatan adalah teori Leininger
tentang “Transcultural Nursing”.
Dalam
teori ini transcultural nursing didefinisikan sebagai area yang luas dalam
keperawatan yang fokusnya dalam komparatif studi dan analisis perbedaan kultur
dan subkultur dengan menghargai perilaku caring, nursing care, dan nilai sehat
sakit, kepercayaan dan pola tingkah laku dengan tujuan perkembangan ilmu dan
humanistik body of knowledge untuk kultur yang universal dalam keperawatan.
Dalam hal ini diharapkan adanya kesadaran terhadap perbedaan kultur berarti
perawat yang profesional memiliki pengetahuan dan praktik berdasarkan kultur
secara konsep perencanaan dalam praktik keperawatan. Tujuan penggunaan
keperawatan transkultural adalah untuk mengembangkan sains dan keilmuan yang
humanis sehingga tercipta praktik keperawatan pada kultur yang spesifik dan
kultur yang universal. Kultur yang spesifik adalah kultur dengan nilai-nilai
dan norma spesifik yang dimiliki olh kelompok tertentu. Kultur yang universal
adalah nilai-nilai dan norma-norma yang diyakini dan dilakukan hampir semua
kultur (Leininger, 1979).
Leininger
mengembangkan teorinya dari perbedaan kultur dan universal berdasarkan
kepercayaan bahwa masyarakat dengan perbedaan kultur dapat menjadi sumber
informasi dan menentukan jenis perawatan yang diinginkan karena kultur adalah
pola kehidupan masyarakat yang berpengaruh terhadap keputusan dan tindakan. Cultur
Care adalah teori yang holistik karena meletakkan di dalamnya ukuran dari
totalitas kehidupan manusia dan berada selamanya, termasuk sosial struktur,
pandangan dunia, nilai kultural, ekspresi bahasa dan etnik serta sistem
profesional.
1.2 Rumusan
Masalah
1.
Apa
definisi dari keperawatan transkultural?
2.
Apa
tujuan keperawatan transkultural?
3.
Bagaimana
hubungan model Leininger dengan konsep caring?
4.
Apa
saja mitos yang berkaitan dengan kesehatan?
5.
Bagaimana
Trend dan Issue Transkultural Nursing?
1.3 Tujuan
1.
Untuk
mengetahui pengertian definisi dari keperawatan transkultural
2.
Untuk
mengetahui tujuan keperawatan transkultural
3.
Untuk
mengetahui hubungan model Leininger dengan konsep caring
4.
Untuk
mengetahui mitos yang berkaitan dengan kesehatan
5.
Untuk
mengetahui Trend dan Issue Transkultural Nursing
1.4 Manfaat
Manfaat dari pembuatan makalah ini, baik bagi kami maupun bagi
teman-teman sebagai sarana wawasan dan pengetahuan mengenai beberapa hal yang
berkenaan dengan aplikasi keperawatan
transkultural dalam berbagai masalah kesehatan pasien.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Keperawatan Transkultural
Pengertian
Transkultural bila ditinjau dari makna kata transkultural berasal dari kata
trans dan culture, trans berarti alur perpindahan, jalan lintas atau
penghubung. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata trans berarti melintang,
melintas, menembus, melalui. Culture berarti budaya. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia kultur berarti kebudayaan, cara pemeliharaan, pembudidayaan,
kepercayaan, nila-nilai dan pola perilaku yang umum berlaku bagi suatu kelompok
dan diteruskan pada generasi berikutnya. Sedangkan cultural berarti sesuatu
yang berkaitan dengan kebudayaan. Budaya sendiri berarti akal budi, hasil dan
adat istiadat. Dan kebudayaan berarti hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal
budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat atau keseluruhan
pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk menjadi pedoman
tingkah lakunya. Jadi transkultural dapat diartikan sebagai lintas budaya yang
mempunyai efek bahwa budaya yang satu mempengaruhi budaya yang lain atau juga
pertemuan kedua nilai-nilai budaya yang berbeda melalui proses interaksi
sosial. Transcultural Nursing merupakan suatu area yang berkaitan dengan
perbedaan maupun kesamaan nilai-nilai budaya (nilai budaya yang berbeda, ras,
yang mempengaruhi pada seorang perawat saat melakukan asuhan keperawatan kepada
klien/pasien) menurut Leininger (1991). Leininger beranggapan bahwa sangatlah
penting memperhatikan keanekaragaman budaya dan nilai-nilai dalam penerapan
asuhan keperawatan kepada klien.
Teori
ini berasal dari disiplin ilmu antropology dan oleh Dr. M. Leininger
dikembangkan dalam konteks keperawatan. Teori ini menjabarkan konsep
keperawatan yang didasari oleh pemahaman tentang adanya perbedaan nilai-nilai
kultural yang melekat dalam masyarakat. Leininger beranggapan bahwa sangatlah
penting memperhatiakn keanekaragaman budaya dan nilai-nilai dalam penerapan asuhan
keperawatan kepada klien. Bila hal tersebut diabaikan oleh perawat, akan
mengakibatkan terjadinya cultural shock. Cultural shock akan dialami oleh klien
pada suatu kondisi dimana perawat tidak mampu beradaptasi dengan perbedaan
nilai budaya dan kepercayaan. Hal ini dapat menyebabkan munculnya rasa
ketidaknyamanan, ketidakberdayaan dan beberapa mengalami disorientasi.
Kebutuhan budaya yang dialami oleh perawat ini akan berakibat pada penurunan
kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan.
Transkultural
Nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya pada proses belajar dan
praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan kesamaan diantara budaya
dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia,
kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan
keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya kepada manusia (Leininger,
2002).
Perilaku
caring adalah bagian dari keperawatan yang membedakan, mendominasi serta
mempersatukan tindakan keperawatan. Tindakan caring adalah tindakan yang
dilakukan dalam memberikan dukungan kepada individu secara utuh. Perilaku ini
seharusnya sudah tertanam di dalam diri manusia sejak lahir, dalam perkembangan
dan pertumbuhan, masa pertahanan sampai individu tersebut meninggal. Hal ini
tetap ikut berkembang dengan seturut jalannya perkembangan manusia tersebut.
2.2 Tujuan Keperawatan Transkultural
Menurut
Leininger tujuan penggunaan keperawatan transkultural adalah dalam pengembangan
sains dan ilmu yang humanis sehingga tercipta praktek keperawatan pada
kebudayaan yang spesifik. Kebudayaan yang spesifik adalah kebudayaan dengan
nilai dan norma yang spesifik yang tidak dimiliki oleh kelompok lain contohnya
suku Osing, Tengger dan Dayak. Sedangkan kebudayaan yang universal adalah kebudayaan
dengan nilai dan norma yang diyakini dan dilakukan oleh hampir semua kebudayaan
seperti budaya olahraga untuk mempertahankan kesehatan.
Dengan
adanya keperawatan transkultural dapat membantu klien beradaptasi terhadap
budaya tertentu yang lebih menguntungkan kesehatannya. Perawat juga dapat
membantu klien agar dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih
mendukung peningkatan status kesehatan. Misalnya, jika klien yang sedang hamil
mempunyai pantangan untuk makan-makanan yang berbau amis seperti ikan, maka
klien tersebut dapat mengganti ikan dengan sumber protein nabati yang lainnya.
Seluruh perencanaan dan implementasi keperawatan dirancang sesuai latar
belakang budaya sehingga budaya dipandang sebagai rencana hidup yang lebih baik
setiap saat. Pola rencana hidup yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan
dan sesuai dengan keyakinan yang dianut.
2.3 Hubungan Model Leininger Dengan Konsep
Caring
Caring
adalah bentuk perhatian kepada orang lain, berpusat kepada orang lain,
menghargai harga diri dan kemanusiaan, berusaha mencegah terjadi sesuatu yang
buruk, serta memberi perhatian dan cinta. Caring adalah suatu tindakan yang
dilakukan dalam memberikan dukungan kepada individu secara utuh. Caring dalam
keperawatan adalah fenomena transkultural dimana perawat berinteraksi dengan
klien, staff dan kelompok lain. Sikap caring diberikan melalui kejujuran,
kepercayaan dan niat baik. Caring menolong klien meningkatkan perubahan positif
dalam aspek bio-psiko-sosio-spiritual. Bersikap caring untuk klien dan bekerja
sama dengan klien dari berbagai lingkungan merupakan esensi keperawatan.
Leininger
menggunakan metode ethomethods sebagai cara untuk melakukan pendekatan dalam
mempelajari “care” karena metode ini secara langsung menyentuh bagaimana cara
pandang kepercayaan dan pola hidup yang dinyatakan secara benar. Pada tahun
1960an, Leininger mengembangkan metode ethnonursing untuk mempelajari fenomena
keperawatan secara spesifik dan sistematik.
Ethnonursing
berfokus pada sistematika studi dan kalsifikasi pelayanan keperawatan,
nila-nilai, praktik-praktik secara kognitif atau secara subjektif yang dikenal
sebagai designated cultured (cultural representatives) melalui bahasa-bahasa
lokal, pengalaman, keyakinan-keyakinan, dan sistem value tentang fenomena
keperawatan yang aktual dan potensial seperti kesehatan dan faktor-faktor
lingkungan. Walaupun keperawatan telah menggunakan kata-kata “care” dan
“caring” untuk menggambarkan praktik keperawatannya selama lebih dari satu
abad, definisi penggunaannya sering kali masih rancu dan hanyalah berbetuk
klise tanpa ada pengertian yang spesifik bagi klien atau bahkan bagi perawat
itu sendiri. Walau demikian, konsep caring adalah satu bahasan yang paling
sedikit dimengerti dan dipelajari daripada bidang ilmu pengetahuan dan area
penelitian lainnya. Melalui definisi bahwa teori keperawatan transkultural dan
ethnomethods yang berfokus pada “etnic” seseorang dapat semakin dekat pada
pengertian “care” itu sendiri, karena ethnomethods bersumber pada
people-contered data dan tidak berasal dari opini peneliti tersebut,
kepercayaan dan prakteknya.
Tujuan
penting dari teori ini adalah bagaimana teori ini dapat mendokumentasikan,
mengetahui, memprediksikan dan menjelaskan secara sistematis data di lapangan
tentang fakta universal dan perbedaan yang ada terkait dengan pelayanan
professional, pelayanan secara umum dan pelayanan keperawatan. Leininger
meyakini bahwa “perilaku caring dan praktiknya secara unik membedakan
keperawatan terhadap kontribusi dari disiplin ilmu yang lain.”. Alasan utama
untuk mempelajari caring adalah :
a.
Konsep
“care” muncul secara kritis pada pertumbuhan manusia, perkembangan manusia dan
kemampuan bertahan pada makhluk hidup.
b.
Untuk
secara eksplisit mengerti secara menyeluruh aturan-aturan pemberi pelayanan dan
penerima pelayanan pada kultur yang berbeda untuk memenuhi kebutuhan pelayanan
secara kultural.
c.
“Care”
adalah studi untuk memenuhi kebutuhan esensial untuk proses penyembuhan,
perbaikan dan untuk bertahan manusia dan kelompok sepanjang waktu.
d.
Profesi
keperawatan telah mempelajari “care” secara terbatas tetapi secara sistematis
dari perspektif kultural dan telah melupakan aspek-aspek epistemology dan
ontology yang berlandaskan pada pengetahuan keperawatan,
Leininger
menyatakan bahwa care adalah fenomena yang luas dan eksklusif yang sering
muncul pada pola hidup masyarakat yang dapat dijadikan landasan bagi perawat
dalam menerapkan “care” pada terapi tertentu dalam rangka menjaga kondisi
sehat, mencegah penyakit, proses penyembuhan dan membantu orang menghadapi
kematian. Lebih lanjut lagi, perhatian utama pada thesisnya adalah jika
seseorang mengerti secara keseluruhan mengenai konsep “care”, orang tersebut
dapat memprediksi kesejahteraan individu, keluarga dan kelompoknya. Jadi “care”
menurut sudut pandang Leininger merupakan salah satu konsep yang paling kuat
dan fenomena distinctive bagi keperawatan. Sebagaimana bentuk dan konsep care
itu sendiri, sehingga harus benar-benar di dokumentasikan, dimengerti dan
digunakan agar “care” menjadi petunjuk utama bagi terapi keperawatan dan
penjelasan tentang praktek-praktek keperawatan.
Leininger (1994) telah
mengembangkan bentuk yang relevan dengan teori tetapi hanya beberapa hal yang
didefinisikan :
a.
Care
adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, dukungan atau perilaku lain
yang berkaitan atau untuk individu lain/kelompok dengan kebutuhan untuk
meningkatkan kondisi kehidupan manusia.
b.
Caring
adalah tindakan yang diarahkan untuk membimbing, mendukung individu
lain/kelompok dengan nyata atau antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan kondisi
kehidupan manusia.
c.
Kultur/Culture adalah berkenaan dengn mempelajari, membagi dan tranmisi nilai.
Kepercayaan, norma dan praktik kehidupan dari sebuah kelompok yang dapat
menjadi tuntunan dalam berfikir, mengambil keputusan, bertindak dan berbahasa.
d.
Culture Care berkanaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai, kepercayaan
dan pola ekspresi yang mana membimbing, mendukung atau memberi kesempatan
individu lain atau kelompok untuk mempertahakan kesehatan, meningkatkan kondisi
kehidupan atau kematian serta keterbatasan.
e.
Nilai kultur berkenaan dengan pengambilan keputusan tentang suatu cara yang hendak
dijalani sesuai dengan adat kebiasaan yang dipercayai dalam periode waktu
tertentu.
f.
Perbedaan kulture dalam keperawatan adalah variasi dari pengertian, pola nilai atau simbol
dari perawatan kesehatan untuk meningkatkan kondisi manusia, jaln kehidupan
atau untuk kematian.
g.
Culture care universality adalah sesuatu hal yang sangat umum, seperti pemahaman
terhadap nilai atau simbol dari pengaruh budaya terhadap kesehatan manusia.
h.
Ethnosentris adalah kepercayaan yang mana satu ide yang dimiliki, kepercayaan dan
praktiknya lebih tinggi untuk culture yang lain.
i.
Culture imposition berkenaan dengan kecendurngan tenaga kesehatan untuk
memaksakan kepercayaan, praktik dan nilai diatas culture lain karena mereka
percaya bahwa ide mereka lebih tinggi daripada kelompok lain.
Leininger
percaya bahwa tujuan teori ini adalah untuk memberikan pelayanan yang bebrasis
pada kultur. Dia percaya bahwa perawat harus bekerja dengan prinsip “care” dan
pemahan yang dalam mengenai “care” sehingga culture’s care, nilai-nilai,
keyakinan dan pola hidup memberikan landasan yang realiabel dan akurat untuk
perencanaan dan implementasi yang efektif terhadap pelayanan pada kultur
tertentu.
Dia
meyakini bahwa seseorang perawat dapat memisahkan cara pandangan dunia,
struktur sosial dan keyakinan kultur (orang biasa dan professional) terhadap
kesehatan, kesejahteraan sakit atau pelayanan saat bekerja dalam suatu kelompok
masyarakat tertentu, karena faktor-faktor ini saling berhubungan satu sama
lain. Struktur sosial seperti kepercayaan, politik, eknomi dan kekeluargaan
adalah kekuatan signifikan yang berdampak pada “care” dan mempengaruhi
kesejahteraan dan kondisi sakit.
2.4 Mitos yang Berkaitan Dengan Kesehatan
2.4.1 Mitos
Memakan Makanan Dari Sesaji Untuk Ritual Tertentu Di Masyarakat
a. Fakta di Lapangan
Masih banyak ditemukan
dan bahkan di lapangan khususnya masyarakat pedesaan masih mempercayainya.
Kegiatan ini sudah ada sejak zaman nenek moyang yang terdahulu. Tempat mereka
pakai dahulunya terletak pada daerah yang dimana disitu merupakan bagian
terpenting akan terkabulnya keinginan mereka. Intinya kegiatan yang dilakukan
ini bisa merupakan wujud ungkapan rasa sukut untuk Tuhan. Memakan makanan yang
berasal dari sesaji tersebut merupakan bentuk rasa penghormatan pada yang Kuasa
dan juga bisa mendoakan apa yang kita inginkan.
b. Teori
Dilihat dari bentu yang dihidangkan berupa
nasi sayur-sayuran ayam dan lain-lain, yang menjadi inti permasalahannya adalah
pembagian ayamya dari yang masih utuh menjadi bagian kecil-kecil. Bila orang
yang membagikan tidak tahu akan makna bersih makan akan terabaikan kebersihan
kuman ayam tersebut. Selain itu ada juga bagaimana proses memasaknya untuk ayam
tersebut terkadang ayam ada bagian yang belum mencapai tingkat kematangan dan
itu akan berpengaruh pada proses pencernaan dan keamanan mengkonsumsi makanan
tersebut. Kandungan daging ayam sesungguhnya banyak mengandung protein dan
nutrisi-nutrsi lain di dalamnya yang berguna untuk keperluan tubuh.
Sayur-sayuran juga diperlukan tubuh untuk proses pencernaan seperti bayam yang
banyak mengandung serat berfungsi untuk memperlancar proses metabolisme.
c. Opini
Kepercayaan yang timbul sejak zaman dahulu
sudah sangat melekat dan kental akan budaya yang tiap tahun diadakan akan sulit
dihilangkan karena akan menjadi ciri khas pada daerah itu. Mereka beranggapan
barang siapa menghilangkan budaya ini dampaknya sangat bervariasi, bisa
dikucilkan masyrakat karena dianggap tidak menghargai para pendahulunya dan
yang paling fatal bisa diusir dari lingkungan.
2.4.2 Mitos Tentang Sirkumsisi
Dilihat Dari Segi Agama Islam
a. Fakta Di
Lapangan
Sekarang ini dilihat
dari kesadaran masyarakat tentang kesehatan sudah sangat berkembang. Banyak
anak kecil yang sudah lulus tingkat sekolah dasar maupun masih sudah dilakukan
khitan atau sirkumsisi. Faktor yang mempengaruhi keinginan untuk dikhitan
biasanya berasal dari anak itu sendiri yang melu pada teman-temannya maupun
dari orang tua yang mendesak untuk dilakukannya khitan. Di beberapa daerah
sudah ada alat mumpuni untuk melakukan proses sirkumsisi secara modern. Agenda
yang dilakukan untuk institusi kesehatan biasanya yang sering kita dengan
Khiatanan Masal dan ini sangat membantu bagi keluarga yang tidak mampu untuk
mengkhitankan anaknya.
b. Teori
Dari segi agama
islam sangat dianjurkan untuk dilakuakn sirkumsisi atau khitan dnegan tujuan
memberikan kesehatan pada umatnya. Ini merupakan tanda sudah baligh bila sudah
di khitan atau sirkumsisi. Dahulunya untuk melakukan khitan atau sirkumsisi
masih sangat sederhana dan masih menggunakan metode yang classic. Untuk
penyembuhannya sendiri bisa berbulan-bulan setelah dilakuakan sirkumsisi atau
khitan. Obat yang digunakan masih sangat terbatas selain itu di daerah desa
juga sangat terbatas petugas kesehatannya. Tapi sekarang dengan kemajuan
teknologi diharapkan bisa terlaksanan proses sirkumsisi yang lebih mauu dan
mencapai tingkat kesejahteraan masyarakat. Sirkumsisi atau khitan adalah
memotong sebagian dari alat kelamin dari pris untuk menjaga kebersihan dari
alat kelamin pria. Ini bisa dibuktikan dengan urine yang keluar bila belum
khitan atau sirkumsisi akan sebagian tertinggal selanjutkan akan mengendap dan
bahayanya bila terjadi hubungan intim akan membahayakan si wanita karen sperma
yang keluar bersama dengan endapan tadi akan menyebabkan kanker rahim.
c. Opini
Dilakukan khitan
atau sirkumsisi dapat mempercepat proses pendewasaan dari postur tubuh
biasanyya dengan tada jakin membesar, suara yang telihat besar dan tentunya
bertambah tinggi dan berat badan. Setelah dikhitan akan merasa lega karena
sudah melaksanakan tugas dari Rosul untuk syarat sahnya sholat salah satunya
juga sirkumsisi atau khitan ini bila kita sebagai imam.
2.4.3 Mitos Ibu Hamil
a. Fakta Di Lapangan
Ibu hamil jika makan
pisang, nanas, mentimun itu akan menyebabkan keputihan bahkan masyarakat
sekitar berpendapat bahwa nanas bisa menyebabkan keguguran. Sewaktu ibu hamil,
jika suami memotong ayam, diprediksi anaknya akan lahir cacat. Fakta dari mitos
tersebut tidak akan terjadi kecacatan pada bayi yang dilahirkan. Jika bayi yang
lahir cacat, bukan dari mitos tersebut, tetapi karena cacat itu bisa dari
faktor kelainan genetiknya.
b. Teori
Mengkonsumsi pisang,
nanas, mentimun justru disarankan karen kaya akan vitamin C dan serat yang
penting untuk menjaga kesehatan tubuh dan melancarkan proses pembuangan
sisa-sisa pencernaan. Untuk kehamilan itu untuk memenuhi nutrisi dan menjaga
perkembangan janin. Kehamilan seseorang tidak bisa ditentukan dengan kelahiran
yang normal maupun tidak, tetapi secara medis untuk kelahiran yang tidak normal
banyak berbagai faktor yang mempengaruhi salah satunya adalah kelainan gen
pembawa dari ayah maupun ibu ini sangat berpengaruh bagi kelahirannya.
c. Opini
Ibu hamil rentan
akan masalah yang bisa ditimbulkan. Sebisa mungkin pertahanan akan kondisi
sehat sangat kuat dengan dukkungan keluarga, suami dan teman-teman, budaya
dimana dia tinggal sangatlah berpengaruh bagi perkembangan kehamilannya.
Keyakinan inilah yang dipegang untuk menjaga, merawar, melindungi kehamilan si
Ibu. Nila-nilai, norma, adat istiadat masih dipegang kuat. Mitos-mitos diatas
tersebut hanya keyakinan seseorang atau kelompok karena belum tentu setiap desa
atau kota mempunyai mitos yang sama karena belum tentu mitos akan jadi
kenyataan. Terkadang ada ibu hamil anaknya lahir dalam kondisi tidak normal
(cacat), misalnya makan buah yang manjadi pantangan ibu hamil anaknya lahir
cacar itu hanya bertepatan saja, dibalik semua itu mungkin ada kelainan pada
saat bayi masih dalam kandungan.
2.5 Trend dan Issue Transkultural Nursing
Banyak
hal dalam budaya Indonesia termasuk dalam cara mereka mempercayai dan mengobati
diri mereka untuk membuat hidup mereka mampu menangani sakit yang mereka alami.
Sebagi contoh budaya jawa, budaya jawa sering diketahui cara dan adat yang
mereka percayai untuk mengobati diri saat sakit adalah kerokan. Kerokan
bukanlah hal yang asing bagi budaya jawa, lebih dari banyak orang jawa masih
menggunakan kerokan untuk mengobati sakit mereka sampai saat ini. Mereka
mempercayai adat dan budaya secara turun temurun. Mereka meyakini bahwa dengan
kerokan dapat megeluarkan angin yang ada di dalam tubuh serta dapat
menghilangkan nyeri atau sakit badan yang dialami dan dengan hal tersebut dapat
membantu penyembuhan yang mungkin telah dirasakan sebelumnya hal tersebut oleh
suku jawa. Hal tersebut menutup kemungkinan akan muncul dan berada di dalam
rumah sakit, meski mereka telah mendapatkan penanganan dari tim kesehatan ada
saja yang melakukan tradisi tersebut. Telah diketahui akibat dari kerokan yaitu
menyebabkan pori-pori kulit semakin melebar, lalu warna kulit memerah
menunjukkan adanya pembuluh darah dibawah permukaan kulit pecah sehingga
menambah arus darah ke permukaan kulit. Ketika melakukan komunikasi untuk
memberikan informasi tentang akibat yang terjadi dari kerokan tidak membuat
para klien atau pasien tidak berhenti melakukan tradisi seperti hal tersebut
karena itu telah menjadi kebiasaan yang secara terus-menerus dilakukan.
Sehingga asuhan keperawatan yang mungkin akan diberikan kepada klien tidak
dapat dilakukan karena adanya penolakan yang terjadi terhadap anggapan akan hal
tersebut.
Disini
kita tidak dapat mengkritik keyakinan dan praktik budaya kesehatan tradisional
yang dilakukan. Budaya merupakan faktor yang dapat mempengaruhi asuhan
keperawatan. Asuhan keperawatan harus terus dilakuakn bagaimana caranya
menangani klien tanpa menyinggung perasaan klien dan mengkritik tradisi yang
telah ada yang mungkin sulit untuk kita tentang dan ubah. Karena tujuan kita
bukanlah untuk mengubah atau mengkritik tradisi tersebut, namun bagaimana
perawat mampu melakukan semua tugasnya dalam memenuhi kebutuhan pasien.
BAB
3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Keperawatan transkultural
adalah suatu proses pemberian asuhan keperawatan yang difokuskan kepada
individu dan kelompok untuk mempertahankan, meningkatkan perilaku sehat sesuai
dengan latar belakang budaya. Hal ini dipelajari mulai dari kehidupan biologis
sebelumnya, kehidupan psikologis, kehidupan sosial dan spiritualnya.
Perencanaan dan pelaksaan proses keperawatan transkultural tidak dapat begitu
saja dipaksakan kepada klien sebelum perawat memahami latar belakang budaya
klien sehingga tindakan yang dilakukan dapat sesuai dengan budaya klien.
Penyesuaian diri sangatlah diperlukan dalam aplikasi keperawatan transkultural.
3.2 Saran
Kami
menyadari bahwa kekurangan dalam makalah yang kami buat di atas merupakan
kelemahan dari pada kami, karena terbatasnya kemampuan kami untuk memperoleh
data dan informasi karena terbatasnya pengetahuan kami.
Jadi
yang kami harapkan kritik
dan saran yang membangun agar kami dapat membuat makalah yang lebih baik lagi. Dengan segala pengharapan dan
keterbukaan, kami menyampaikan rasa terima kasih dengan setulus-tulusnya.Akhir
kata, kami berharap agar makalah ini dapat membawa manfaat kepada pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
Leininger.M & McFarland. M.R, (2002), Transkultural
Nursing : Concept, Theories, Research and Practice, 3rd Ed, USA, Mc-Graw Hill
Companies.
Komentar
Posting Komentar