ASKEP Jantung Koroner

MAKALAH KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH I
PENYAKIT JANTUNG KORONER


DOSEN PEMBIMBING :
MULIA MAYANGSARI, M.Kep., Ns., Sp.Kep.MB

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 1 :
Ary Budianto              (16142010052)
Choirul Anam             (16142010054)
Iis Mumayyizah          (16142010062)
Mila Purnamasari        (16142010068)
Noer Iqbal Wahyu S.  (16142010073)
Rikayatul Huda           (16142010075)
Yuliani Firdaus           (16142010087)


STIKes NGUDIA HUSADA MADURA
2017
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb
            Puji dan syukur penulis panjatkan kepada  Allah Swt, karena atas berkat dan rahmatnya penulis dapat menulis makalah ini yang berjudul ‘’Penyakit Jantung Koroner” hingga selesai. Meskipun dalam makalah ini penulis mendapat banyak yang menghalangi, namun mendapat pula bantuan dari beberapa pihak baik secara moral, materil maupun spiritual.
            Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih pada dosen pembimbing serta semua pihak yang telah memberikan sumbangan dan saran atas selesainya penulisan makalah ini.Di dalam penulisan makalah ini kami menyadari bahwa masih ada kekurangan-kekurangan mengingat keterbatasannya pengetahuan dan pengalaman kami.Oleh sebab itu, sangat di harapkan kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun untuk melengkapkan makalah ini dan berikutnya.
Bangkalan 17 September 2017

Kelompok 1










DAFTAR ISI
PENNYAKIT JANTUNG KORONER

Kata Pengantar.................................................................................................................. i
Daftar Isi............................................................................................................................ ii
BAB 1
PENDAHULUAN
Latar belakang................................................................................................................ 1.1
Rumusan masalah........................................................................................................... 1.2
Tujuan............................................................................................................................. 1.3
Manfaat........................................................................................................................... 1.4
BAB 2
PEMBAHASAN TINJAUAN PUSTAKA
Penyakit Jantung Koroner............................................................................................ 2.1
Etiologi Penyakit Jantung Koroner.............................................................................. 2.2
Klasifikasi Penyakit Jantung Koroner......................................................................... 2.3
Manifestasi Penyakit Jantung Koroner........................................................................ 2.4
Faktor Resiko Penyakit Jantung Koroner................................................................... 2.5
Patofisiologi Jantung Koroner....................................................................................... 2.6
Pemeriksaan Penunjang................................................................................................. 2.7
Penatalaksaan Jantung Koroner................................................................................... 2.8
Komplikasi Penyakit Jantung Koroner........................................................................ 2.9
Pencegahan Penyakit Jantung Koroner..................................................................... 2.10
BAB 3
Askep Jantung Koroner................................................................................................. 3.1
BAB 4
PENUTUP
Kesimpulan...................................................................................................................... 4.1
Saran............................................................................................................................... 4.2
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................... 5.1















BAB 1
PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang
                  Di Inggris, penyakit kardiovaskukar membunuh satu dari dua penduduk dalam populasi, dan menyebabkan hampir sebesar 250.000 kematian pada tahun 1998. Satu dari empat laki-laki dan satu dari lima perempuan meninggal pertahunnya karena PJK, yang merepresentasikan sekitar setengah kematian akibat penyakit kardiovaskular. Merupakan konsep yang salah bahwa PJK jarang terjadi pada perempuan : faktanya tidak banyak perbedaan antara perempuan dibandingkan laki-laki dalam insidensi penyakit ini berdasarkan harapan hidup yang lebih panjang.
                  Meskipun PJK tetap merupakan penyebab utama kematian dini di Inggris, tingkat kematian turun secara progresif selama dua puluh tahun terakhir. Penurunan ini terutama pada kelompok usia yang lebih muda, dimana, sebagai contoh, terdapat penurunan sebesar 33% pada laki-laki berusia 35-74 tahun. Dan penurunan sebesar 20% pada perempuan pada kisaran usia serupa dalam sepuluh tahun terakhir. Banyak negaara lain termasuk Australia, swedia, prancis, dan As, melebihi tingkat penurunan murtalitas inggris.
                  Tingkat kematian akibat PJK di inggris tetap merupakan yang tertinggi di dunia barat, hanya di lampaui oleh irlandia di Eropa.Di inggris terdapat perbedaan regional, social ekonomi, dan eknik yang bermakna dalam prefarensi PJK, prefrensi tertinggi di utara inggris dan skotlandia, pada pekerja manual, dan pada orang Asia.
                  Salah satu target ambisius pemerintah inggris adaalah menurunkan tingkat kematian akibat PJK. Departemen of helth, 1996 mengatakan bahwa 3% penduduk dewasa menderita angina dan 0,5% penduduk dewasa mengalami infakmiokat dalam 12 bulan terakhir, masing masing sama dengat 1,4 juta dan 246.000 orang . PJK merupakan penyebab sekitar 3% keperawatan rumah sakit yaitu sebesar 248.292 perawatan dengan masa rawat selama 6,6 hari.
                  PJK menghabiskan danasebesar 1630 juta poundsteling Inggris pertahun. Dari biaya ini perawatan rumah sakit menghabiskan 54% dan pencegahan primer hanya 1% . 65 jutaa hari kerja hilang tiap tahun karna PJK, mempersenkan 9% dari seluruh kehilangan hari kerja .maka, beban ekonomi akibat PJK di inggris sekitar 10.000 juta poudsterling per tahun. Ketentuan untuk pemeriksaan penunjang dan terapi pasien dengan PJK di inggris tertinggal jauh dari eropa , dengan manorita spopulasi bermakna tidak memiliki akses segara terhadap spesialis kardiolog di rumah sakit local.( Departemen of helth 2000 ). Yang barusaja di terbitkan menetapkan sejumblah target pemeriksaan penunjang dan terapi untuk pasien dengan PJK sejak perawatan perimer hingga tersier; dekumen ini juga mencoba menstandardisasi akses ke fasilitas fasilitas di seluruh inggris.
1.2       Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian dari penyakit jantung koroner?
2.    Bagaimana etiologi dari penyakit jantung koroner?
3.    Bagaimana klasifikasi dari penyakit jantung koroner?
4.    Bagaimana manifestasi klinis dari penyakit jantung koroner?
5.    Apa aja faktor resiko dari penyakit jantung koroner?
6.    Bagaimana pathofisiologi dari penyakit jantung koroner?
7.    Apa saja pemeriksaan penunjang dari penyakit jantung koroner?
8.    Bagaimana penetalaksaan dari penyakit jantung koroner?
9.    Apa saja komplikasi yang disebabkan oleh penyakit jantung koroner?
10.     Bagaimana cara mencegah penyakit jantung koroner?
11.     Bagaimana penulisan askep pada jantung koroner?
12.     Apa saja hasil penelitian dari penyakit jantung koroner?
1.3       Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian dari penyakit jantung koroner
2.    Untuk mengetahui etiologi dari penyakit jantung koroner
3.    Untuk mengetahui klasifikasi dari penyakit jantung koroner
4.    Untuk mengetahui manifestasi klinis dari penyakit jantung koroner
5.    Untuk mengetahui faktor resiko dari penyakit jantung koroner
6.    Untuk mengetahui pathofisiologi dari penyakit jantung koroner
7.    Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari penyakit jantung koroner
8.    Untuk mengetahui penetalaksaan dari penyakit jantung koroner
9.    Untuk mengetahui komplikasi yang disebabkan oleh penyakit jantung koroner
10.     Untuk mengetahui cara mencegah penyakit jantung koroner
11.     Untuk mengetahui penulisan askep pada jantung koroner
12.     Untuk mengetahui hasil penelitian dari penyakit jantung koroner

1.4     Manfaat
Manfaat dari pembuatan makalah ini, baik bagi kami maupun bagi teman-teman sebagai sarana wawasan dan pengetahuan mengenai beberapa hal yang berkenaan dengan penyakit jantung koroner dan juga dalm penulisan askep yang benar.














BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1       Penyakit Jantung Koroner
Penyakit jantung koroner atau yang disebut dalam dunia kedokteran acut miocard infark (ami) inilah yang paling banyak membunuh dari sekian banyak pasien jantung.Penyakit jantung coroner adalah penyakit jantung yang lebih banyak terjadi dibandingkan dengan jenis penyakit jantung lainnya. Proses penyakitnya berjalan dengan sangat cepat dan juga membutuhkan pertlongan dengan segera. Pengertian secara mudahnya adalah kematian dari otot jantung karena adanya penyumbatan pada pembuluh coroner. Karena ada penyumbatan ini, maka pembuluh  darah coroner yang berperan dalam menyuplai darah dan O2 ke dalam jantung itu sendiri akan mengalami kerusakan bahkan sampai kematian mendadak. Diagnose dan pengobatan yang tepat dapat menyelamatkan pasien dari kematian.
2.2       Etiologi Penyakit Jantung Koroner
Salah satu penyakit jantung koroner adalah kebiasaan makan makan makanan berlemak tinggi terutama lemak jenuh.Agar lemak mudah masuk dalam peredarah darah dan di serap tubuh maka lemak harus diubah oleh enzim lipase menjadi gliserol (Yenrina, Krisnatuti, 1999).
Aterosklerosis adalah suatu keadaan arteri besar dan kecil yang ditandai oleh endapan lemak, trombosit, makrofag dan leukosit di seluruh lapisan tunika intima dan akhirnya ke tunika media (Elizabeth J. Corwin, 2009, 477).
            Penyakit jantung koroner dapat disebabkan oleh beberapa hal :
a)      Penyempitan (stenosis) dan penciutan (spasme) arteri koronaria, tetapi penyempitan terhadap akan memungkinkan berkembangnya koleteral yang cukup sebagai pengganti.
b)      Aterosklerosis, menyebabkan sekitar 98% kasus PJK.
c)      Penyempitan arteri koronaria pada sifilis, aortitis takayasu, berbagai jenis arteritis yang mengenai arteri coronaria, dll.
Salah satu penyakit jantung akibat insufiensi aliran darah koroner yaitu, Angina pectoris dan infark  miokardium.
a)      Angina pectoris
Angina pectoris adalah nyeri hebat yang berasal dari jantung dan terjadi sebagai respon, terhadap suplai oksigen yang tidak adekuat ke sel-sel miokardium.Nyeri angina dapat menyebar ke lengan kiri, ke punggung, ke rahang, atau ke daerah abdomen (Elizabeth J .corwin, 2009, 492).
Adapun jenis-jenis angina :
1.             Angina stabil
Disebut juga angina klasik, terjadi jika arteri koroner yang arterosklerotik tidak dapat berdilatasi untuk meningkatkan alirannya sewaktu kebutuhan oksigen meningkat.Peningkatan jantung dapat menyertai aktivitas misalnya berolahraga atau naik tangga.
2.              Angina prinzmental
Terjadi tampa peningkatan jelas beban kerja jantung pada kenyataannya sering timbul pada waktu beristirahat atau tidur. Pada angina prinzmental terjadi spasme arteri koroner yang menimbulkan iskemi jantung di bagian hilir.Kadang-kadang tempat spasme berkaitan dengan arterosklerosis.
3.             Angina tak stabil
Adalah kombinasi angina stabil dengan angina prinzmental ; dijumpai pada individu dengan perburukan penyakit arteri koroer. Angina ini biasanya menyertai peningkatan beban kerja jantung; hal ini tampaknya terjadi akibat arterosklerosis koroner, yang ditandi oleh trombus yang tumbuh dan mudah mengalami spasme.

b)      Infark miokardium
Terlepasnya plak arteriosklerosis dari salah satu arteri koroner dan kemudian tersangkut di bagian hilir sehingga menyumbat aliran darah ke seluruh miokardium yang di perdarahi oleh pembuluh tersebut. Infark miokardium juga dapat terjadi jika lesi trombosit yang melekat di arteri menjadi cukup besar untuk menyumbat total aliran ke bagian hilir, atau jika suatu ruang jantung mengalami hipertrofi berat sehingga kebutuhan oksigen tidak dapat terpenuhi. (Elizabet J. Corwin, 2009,
2.3       Klasifikasi Jantung Koroner
                               Menurut Hoon Gray (2002), penyakit jantung koroner diklasifikasikan menjadi 3, yaitu Silent Ischemia (Asimtotik), Angina Pectoris, dan Infark Miocard Akut (serangan jantung). Berikut adalah penjelasan masing-masing klasifikasi PJK :
a.         Silent Ischemia (Asimtotik)
Banyak dari penderita Silent Ischemia yang mengalami PJK tetapi tidak merasakan ada sesuatu yang tidak enak atau tanda-tanda suatu penyakit (Iman, 2004)
b.      Angina Pectoris
Angina Pectoris terdiri dari dua tipe, yaitu Angina Pectoris Stabil yang ditandai dengan keluhan nyeri dada yang khas, yaitu rasa tertekan atau berat di dada yang menjalar ke lengan kiri dan Angina Pectoris Tidak Stabil yaitu serangan rasa sakit dapat timbul, baik pada saat istirahat, waktu tidur, maupun aktivitas ringan. Lama sakit dada jauh lebih lama dari sakit biasa. Frekuensi serangan juga lebih sering.
c.       Infark Miocard Akut (Serangan Jantung)
Infark Miocard Akut yaitu jaringan otot jantung yang mati karena kekurangan oksigen dalam darah dalam beberapa waktu. Keluhan yang dirasakan nyeri dada, seperti tertekan, tampak pucat berkeringat dan dingin, mual, muntah, sesak, pusing, serta pingsan (Notoadmojo, 2007).
d.      Infark Miokard Stemi
Ketika aliran darah menurun tiba-tiba akibat oklusi trombus di arteri koroner, maka terjadi infark miokard tipe elevasi segmen ST (STEMI). Perkembangan perlahan dari stenosis koroner tidak menimbulkan STEMI karena dalam rentang waktu tersebut dapat terbentuk pembuluh darah kolateral. Dengan kata lain STEMI hanya terjadi jika arteri koroner tersumbat cepat (Antman, 2005).

e.       Infark Miokard Non Stemi
Non STEMI merupakan tipe infark miokard tanpa elevasi segmen ST yang disebabkan oleh obstruksi koroner akibat erosi dan ruptur plak. Erosi dan ruptur plak ateroma menimbulkan ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen. Pada Non STEMI, trombus yang terbentuk biasanya tidak menyebabkan oklusi menyeluruh lumen arteri koroner (Kalim, 2001).
2.4       Manifestasi Klinis
1) Asimptomatik (silent myocardial ischemia) 
a) Penderita tidak pernah mengeluh nyeri dada baik pada istirahat maupun saat aktivitas. Secara kebetulan penderita menunjukan adanya iskemia saat dilakukan uji beban latihan. Ketika di EKG menunjukan depresi segmen ST. 

b) Mekanisme silent iskemia diduga oleh karena : ambang nyeri yang meningkat, neuropati otonomik (pada penderita diabetes), meningkatnya produksi endomorfin, derajat stenosis yang ringan. 

2) Angina pektoris 
Angina pektoris adalah rasa nyeri yang timbul karena iskemia miokardium. Bila arteri koroner mengalami penyempitan akan terjadi ketidak seimbangan yang memberikan gangguan berupa angina, yang bervariasi tergantung berat-ringannya penyempitan. Pada penyempitan arteri koroner sampai 60%, saat istirahat aliran darah koroner masih mencukupi kebutuhan dengan mekanisme vasodilatasi pasca stenosis. Bila terjadi peningkatan kebutuhan jaringan (saat bekerja) aliran menjadi kurang. Hal ini menyebabkan hipoksia jaringan yang akan meningkatkan hasil metabolisme anaerob (asam laktat) yang akan mencetuskan angina, manifestasi ini disebut effort angina (Heberden, 1772). Angina pektoris yang timbul saat istirahat menunjukan penyempitan melebihi 60%. Angina bentuk ini disebut angina at rest/angina prizmental. Jika bentuk ini terjadi lama, akan terjadi situasi kritis karena terdapatnya hipoksia jaringan. Bila hipoksia berlanjut terus, miokard akan mengalami kerusakan yang disebut infark miokard.

3) Infark Miokard Akut
Penderita infark miokard akut sering didahului oleh keluhan dada terasa tdiak enak (chest discomfort). Keluhan ini menyerupai gambaran angina yang klasik pada saat
istirahat sehingga dianggap terjadi angina tidak stabil. Tiga puluh persen penderita mengeluh gejala tersebut 1-4 minggu sebelum penderita mengeluh gejala tersebut dirasakan kurang dari 1 minggu. Selain itu penderita sering mengeluh rasa lemah dan kelelahan.
Intentisitas nyeri biasanya bervariasi, seringkali sangat berat bahkan banyak penderita tidak dapat menahan rasa nyeri tersebut. Nyeri dada berlangsung > 30 menit bahkan sampai berjam-jam. Kualitas nyerinya sering dirasakan seperti menekan, (compressing), constricting, crushing atau squeezing (diremas), choocking (tercekik), berat (heavy pain). Kadang juga bisa tajam (knife like) atau pun seperti terbakar (burning). Lokasi nyeri biasanya retrosternal, menjalar ke kedua dinding dada terutama dada kiri, ke bawah ke bagian medial lengan menimbulkan rasa pegal pada pergelangan, tangan dan jari. Kadang-kadang nyeri dapat dirasakan pada daerah epigastrium hingga merasa perut tidak enak (abdominal discomfort). Gejala lain yang sering menyertai adalah mual, muntah, badan lemah, pusing, berdebar dan keringat dingin.

2.5       Faktor Resiko Jantung Koroner
Faktor Resiko yang Dapat Diperbaiki
Faktor Resiko yang Tidak Dapat Diperbaiki
Riwayat Hipertensi
Usia
Kolestrol
Jenis Kelamin
Merokok
Keturunan atau genetik dari keluarga
Riwayat Diabetes
Ras
Stress

Pola Makan

Gaya Hidup

Riwayat Obesitas

Kurangnya aktivitas fisik (olahraga)


2.5.1Faktor Resiko yang dapat diperbaiki
          a. Riwayat Hipertensi
          Hipertensi adalah keadaan peningkatan tekanan darah yang memberi gejala yang akan berlanjut ke suatu organ target seperti stroke (untuk otak), Penyakit Jantung Koroner(untuk pembuluh darah jantung)
            b. Kolestrol
        Kolesterol adalah metabolit yang mengandung lemak sterol yang ditemukan pada membran sel dan disirkulasikan dalam plasma darah.Kolesterol sebenarnya dibutuhkan juga dalam tubuh namun jika berlebihan maka akan berakibat timbulnya Penyakit Jantung Koroner.
            c. Merokok
Rokok merupakan salah satu produk industri dan komoditi internasional yang mengandung sekitar 3.000 bahan kimiawi, yang diantaranya terdapatbeberapa zat yang sangat berbahaya bagi kesehatan diantaranya tar, nikotin dan karbon monooksida (CO).Sekitar 24% kematian akibat PJK pada laki laki dan 11% pada perempuan di sebabkan kebiasaan merokok.Meskipun terdapat penurunan progresif proporsi pada populasi yang merokok sejak tahun 1970 an, pada tahun 1996 29% laki laki dan 28% perempuan masih merokok.Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah prevalensi kebiasaan merokok yang meningkat pada remaja, terutama pad remaja perempuan orang yang tidak merokok dan tinggal bersama perokok atau perokok pasif memiliki peningkatan resiko sebesar 20-30% dibandingkan dengan orang yang tinggal dengan bukan perokok. Resiko terjadinya PJK akibat merokok berkaitan dengan dosis dimana orang yang merokok 20 batang rokok atau lebih dalam sehari memiliki resiko sebesar 2 hingga 3 kali lebih tinggi dari pada populasi umum untuk mengalami koroner mayor.

            d. Riwayat Diabetes
        Kencing manis atau Diabetes Melitus merupakan gangguan kesehatan yang berupa kumpulan gejala yang disebabkan oleh peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan ataupun resistensi insulin. Keadaan ini bisa menyebabkan penyumbatan pada arteri koroner sehingga menghalangi aliran darah ke jantung.
            e. Stress
        Stres berpotensi menyebabkan penyempitan pembuluh darah yang berdampak pada peningkatan tekanan darah sehingga memperbesar risiko Penyakit Jantung Koroner. Seseorang yang mengalami stres memiliki risiko 2-3 kali lebih besar terserang Penyakit Jantung Koroner dibandingkan yang tidak mengalami Stres.
            f. Pola Makan
          Mulailah dengan mengkonsumsi lebih banyak sayuran, buah-buahan, padi-padian, makanan berserat lainnya dan ikan.Kurangi daging, makanan kecil (cemilan), dan makanan yang berkalori tinggi dan banyak mengandung lemak jenuh lainnya.Makanan yang banyak mengandung kolesterol tertimbun dalam dinding pembuluh darah dan menyebabkan aterosklerosis yang menjadi pemicu penyakit jantung dan stroke.
            g. Gaya Hidup
        Gaya hidup yang acuh tak acuh terhadap faktor risiko dan tidak disiplin dalam mengatur kegiatan keseharian memicu timbulnya berbagai penyakit termasuk Penyakit Jantung Koroner.
            h. Obesitas
       Kelebihan berat badan meningkatkan tekanan darah tinggi dan ketidaknormalan jumlah lemak. Menghindari atau mengobati obesitas adalah cara utama untuk menghindari diabetes. Diabetes kemudian akan meningkatkan resiko penyakit gagal jantung.

            i. Kurangnya Aktivitas Fisik
          Olahraga sangat bermanfaat dalam mencegah terjadinya Penyakit Jantung Koroner, diantaranya menghambat penumpukan plak aterosklerosis dalam pembuluh koroner, bahkan dalam derajat tertentu dikatakan dapat mengikis plak tersebut. Kurang olahraga meningkatakan resiko terjadinya penyakit jantung koroner.
2.5.2Faktor Resiko yang tidak dapat diperbaiki
                  a. Usia
Pria dan wanita di bawah usia 50 tahun memiliki resiko lebih tinggi dibandingkan dengan wanita pada kelompok usia yang sama.
                  b. Jenis Kelamin
Setelah menopause, resiko seorang wanita bertambah karena penurunan yang tajam dari hormone estrogen yang bersifat melindungi.
                  c. Keturunan dari Keluarga
Penelitian menunjukkan bahwa jika terdapat riwayat gangguan jantung dalam keluarga, keturunan mereka lebih cenderung mengembangkan problem yang serupa.
                  d. Ras
Insidensi kematian dini akibat PJK pada orang Asia yang tinggal di Inggris lebih tinggi dibandingkan dengan populasi lokal, dan juga angka yang rendah pada ras Afro-Karibia.

2.6       Patofisiologi Penyakit Jantung Koroner.
                  Fungsi jantung adalah mempompa darah ke seluruh jaringan organ tubuh melalui pembuluh darah arteri, sebaliknya janung menerima darah kembali melalui pembuluh darah balik (vena) untuk dapat menjalankan fungsinya otot otot  jantung yang mendapat pasokan darah melalui pembuluh darah yang di sebut pembuluh darah coroner. Sebagaimana organ organ tubuh lainnya, organ jantung memperoleh zat asam (oksigen) dan makanan (nutrisi) melalui pembuluh darah coroner tadi. Mana kala pasokan oksigen dan nutrisi ke otot jantung berkurang (deficit) yang di sebabkan karena pembuluh darah coroner mengalami penyempitan dengan akibat pasokan darah ke organ jantung melalui pembuluh darah koroner tadi berkurang, maka gangguan ini disebut sebagai penyakit jantung koroner
              Fase penyakit jantung koroner dapat diketahui berdasarkan hubungan antara gejala klinis denganpatologi endotelium yangdapat dilihat secara angioskopi. Pada permulaan penyakit akan tampak lapisan lemak pads permukaan pembuluh darah. Bila lesi melebar akan menyebabkan obstruksi parsial oleh plak yang permukaannya licin. Bila plakbertambah besar aliran koroner akan berkurang dan menyebabkan angina stabil. Beberapa plak akan mengalami ulserasi dan menyebabkan kumpulan platelet pada tempat tersebut. Kumpulan platelet tersebut akan mengakibatkan lepasnya vasokonstriktor koroner secara periodik dari aliran darah dan menyebabkan angina yang laju (accelerated angina) yaitu bentuk peralihan dari angina stabil ke angina tak stabil. Bila emboli yang lepas cukup besar akan menyebabkan kematian yang mendadak. 
              Kumpulan platelet yang menempel dapat membentuk trombus kecil. Bila trombus cukup besar dan menyebabkan obstruksi total akan menjadi infark miokard. Setelah terjadi infark, trombus akan lisis oleh proses endogen. Ulserasi endotelium menyembuh dalam beberapa minggu. Proses penyembuhan kadang-kadang tidak seluruhnya sempurna, seringkali trombus yang tersisa membentuk sumbatan dalam pembuluh darah sehingga timbul kembali angina stabil. Plak tersebut dapat ruptur kembali, dan seterusnya.
2.7 Pemeriksaan Penunjang
a.       Elektrokardiogram (EKG)
Pemeriksaan aktifitas listrik jantung atau gambaran elektrokardiogram (EKG) adalah pemeriksaan penunjang untuk memberi petunjuk adanya PJK. Dengan pemeriksaan ini kita dapat mengetahui apakah sudah ada tanda-tandanya. Dapat berupa serangan jantung terdahulu, penyempitan atau serangan jantung yang baru terjadi, yang masing-masing memberikan gambaran yang berbeda.
b.      Foto Rontgen Dada
Dari foto rontgen, dokter dapat menilai ukuran jantung, ada-tidaknya pembesaran. Di samping itu dapat juga dilihat gambaran paru. Kelainan pada koroner tidak dapat dilihat dalam foto rontgen ini. Dari ukuran jantung dapat dinilai apakah seorang penderita sudah berada pada PJK lanjut. Mungkin saja PJK lama yang sudah berlanjut pada payah jantung. Gambarannya biasanya jantung terlihat membesar.



c.       Echocardiografi.
Diagnosis untuk penyakit jantung koroner dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisik, anamnesis. Pemeriksaan USG jantung dapat dilakukan dengan ekokardiografi. Sistem ekokardiografi dapat menampilkan, menganalisa dan menangkap hati secara penuh dalam satu detak jantung.

d.      CT Scan.
Perkembangan teknologi telah menciptakan alat baru yaitu Computed tomography (CT) yang sudah lama berperan penting dalam mendeteksi dini penyakit selama bertahun-tahun. Semakin berkembangnya teknologi, sehingga dapat menciptakan generasi baru dengan CT scanner yang dapat melakukan CT angiografi koroner (CTA) dengan mengurangi dosis radiasi pada pemeriksaan klinis secara rutin.

e.       Pemeriksaan Laboratorium.
Selain dengan CT scan juga dapat menggunakan tes in vitro di laboratorium, melalui penggunaan biomarker baru yang tarutama dalam perawatan darurat dapat mempengaruhi dan mendukung keputusan klinis.
f.       Kateterisasi Jantung
Pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukkan kateter semacam selang seukuran ujung lidi. Selang ini dimasukkan langsung ke pembuluh nadi (arteri). Bisa melalui pangkal paha, lipatan lengan atau melalui pembuluh darah di lengan bawah. Kateter didorong dengan tuntunan alat rontgen langsung ke muara pembuluh koroner. Setelah tepat di lubangnya, kemudian disuntikkan cairan kontras sehingga mengisi pembuluh koroner yang dimaksud. Setelah itu dapat dilihat adanya penyempitan atau malahan mungkin tidak ada penyumbatan. Penyempitan atau penyumbatan ini dapat saja mengenai beberapa tempat pada satu pembuluh koroner. Bisa juga sekaligus mengenai beberapa pembuluh koroner. Atas dasar hasil kateterisasi jantung ini akan dapat ditentukan penanganan lebih lanjut. Apakah apsien cukup hanya dengan obat saja, disamping mencegah atau mengendalikan bourgeois resiko. Atau mungkin memerlukan intervensi yang dikenal dengan balon. Banyak juga yang menyebut dengan istilah ditiup atau balonisasi. Saat ini disamping dibalon dapat pula dipasang stent, semacam penyangga seperti cincin atau gorng-gorong yang berguna untuk mencegah kembalinya penyempitan. Bila tidak mungkin dengan obat-obatan, dibalon dengan atau tanpa stent, upaya lain adalah dengan melakukan bedah pintas koroner. (Carko, 2009)

2.8 Penatalaksaan Jantung Koroner
a) Farmokologi
1.    Analgetik yang diberikan biasanya golongan narkotik (morfin) diberikan secara intravena dengan pengenceran dan diberikan secara pelan-pelan. Dosisnya awal 2,0 – 2,5 mg dapat diulangi jika perlu
2.    Nitrat dengan efek vasodilatasi (terutama venodilatasi) akan menurunkan venous return akan menurunkan preload yang berarti menurunkan oksigen demam. Di samping itu nitrat juga mempunyai efek dilatasi pada arteri koroner sehingga akan meningkatakan suplai oksigen. Nitrat dapat diberikan dengan sediaan spray atau sublingual, kemudian dilanjutkan dengan peroral atau intravena.
3.    Aspirin sebagai antitrombotik sangat penting diberikan. Dianjurkan diberikan sesegera mungkin (di ruang gawat darurat) karena terbukti menurunkan angka kematian.
4.    Trombolitik terapi, prinsip pengelolaan penderita infark miokard akut adalah melakukan perbaikan aliran darah koroner secepat mungkin (Revaskularisasi / Reperfusi).Hal ini didasari oleh proses patogenesanya, dimana terjadi penyumbatan / trombosis dari arteri koroner. Revaskularisasi dapat dilakukan (pada umumnya) dengan obat-obat trombolitik seperti streptokinase, r-TPA (recombinant tissue plasminogen ativactor complex), Urokinase, ASPAC ( anisolated plasminogen streptokinase activator), atau Scu-PA (single-chain urokinase-type plasminogen activator).Pemberian trombolitik terapi sangat bermanfaat jika diberikan pada jam pertama dari serangan infark. Dan terapi ini masih masih bermanfaat jika diberikan 12 jam dari onset serangan infark.
5.    Betablocker diberikan untuk mengurangi kontraktilitas jantung sehingga akan menurunkan kebutuhan oksigen miokard. Di samping itu betaclocker juga mempunyai efek anti aritmia.



b.      Non-farmakologi
1.    Merubah gaya hidup, memberhentikan kebiasaan merokok
2.    Olahraga dapat meningkatkan kadar HDL kolesterol dan memperbaiki kolateral koroner sehingga PJK dapat dikurangi, olahraga bermanfaat karena memperbaiki fungsi paru dan pemberian O2 ke miokard, menurunkan berat badan sehingga lemak lemak tubuh yang berlebih berkurang bersama-sama dengan menurunnya LDL kolesterol, menurunkan tekanan darah, meningkatkan kesegaran jasmani.
3.    Diet merupakan langkah pertama dalam penanggulangan hiperkolesterolemi.
4.    Kurangi stress.

2.9  Komplikasi Jantung Koroner
a)      Gagal Jantung  Kongestif
Gagal jantung kongestif merupakan sirkulasi akibat disfungsi miokardium.Tempat kongesti bergantung pada ventrikel yang terlibat.Disfungsi ventrikel kiri atau gagal jantung kiri, menimbulkan kongesti pada vena pulmonalis, sedangkan disfungsi ventrikel kanan atau gagal jantung kanan mengakibatkan kongesti vena sistemik.Kegagalan pada kedua ventrikel disebut kegagalan beventrikuler.Gagal jantung kiri merupakan komplikasi yang paling sering terjadi setelah infark miokardium.Infark miokardium menggangu fungsi miokardium karena menyebabkan menurunnya kekuatan kontraksi, menimbulkan abnormalitas gerakan dinding dan mengubah daya kembang ruang jantung.Dengan berkurangnya kemampuan ventrikel kiri untuk mengosongkan diri, maka besar volume sekuncup berkurang sehingga volume sisa ventrikel meningkat.Hal ini menyebabkan peningkatan jantung sebelah kiri. Kenaikan tekanan ini disalurkan ke belakang ke vena pulmonalis. Bila tekanan hidrostatik dalam kapiler paru melebihi tekanan onkotik vaskular maka terjadi proses transudasi ke dalam ruang interstisial. Bila tekanan ini masih meningkat lagi, terjadi edema paru-paru akibat perembesan cairan ke dalam alveoli.
b)      Syok Kordiogenik
Syok kardiogenik terjadi akibat disfungsi nyata ventrikel sesudah mengalami infark yang pasif, biasanya mengenai dari 40% ventrikel kiri.
c)      Disfungsi Otot Papilaris
Penutupan katup mitralis selama sistolik ventrikel bergantung pada integritas fungsional otot papilaris ventrikel kiri dan korda tendinea. Disfungsi iskemik atau ruptur nekrotik otot papilaris akan mengganggu fungsi katup mitralis, memungkinkan eversi daun katup ke dalam atrium selama sistol. Inkompetensi katup mengakibatkan aliran retrograd dari ventrikel kiri ke dalam atrium kiri dengan dua akibat: pengurangan aliran ke aorta, dan peningkatan kongesti pada atrium kiri dan vena pulmonalis.
Komplikasi tertinggi akut infark adalah aritmia, aritmia yang sering memberikan komplikasi adalah ventrikel vibrilasi.Ventrikel vibrilasi 95% meninggal sebelum sampai rumah sakit.Komplikasi ini meliputi disfungsi ventrikel kiri/gagal jantung dan hipotensi/syok kardiogenik.
a)      Komplikasi angina pectoris :
1.      Infarks miokardium yang akut terjadi akibat aliran darah yang berisi nutrisidan oksigen ke otot terganggu dan mengakibatkan nekrosis
2.      Aritmia kardiak me,rupakan suatu respon yang timbul akibat ada jaringanyang tidak mendapatkan suplai darah
3.      Unstable angina terjadi karena iskemia pada otot jantung yang sudah meluassehingga nyeri yang dirasakan akibat penimbunan asam laktat lebih seringterjadi.
4.      Sudden death ; terjadi akibat kelelahan jantung yang memompa darah terusmenerus dengan frekuensi yang tidak stabil dan diperberat oleh nekrosis otot jantung yang makin meluas.
b)      Komplikasi infark miokard akut :
Aritmia, bradikardia sinus, irama nodal, gangguan hantaran atrioventrikular, gangguan hantaran intraventrikel, Asistolik, takikardia sinus, kontraksi atrium prematur, takikardia supraventrikel, flutter atrium, fibrilasi atrium, takikardia atrium multifokal, kontraksi prematur ventrikel, takikardia ventrikel, takikardia idioventrikel, renjatan kardogenik, tromboembolisme, perikarditis, Aneurisme ventrikel, regurgitasi mitral akut, ruptur jantung dan septum.


2.10PencegahanPenyakit Jantung Koroner
              Upaya pencegahan untuk menghindari penyakit jantung dan stroke dimulai dengan memperbaiki gaya hidup dan mengendalikan faktor risiko sehingga mengurangi peluang terkena penyakit tersebut. Untuk pencegahan penyakit jantung & stroke hindari obesitas/kegemukan dan kolesterol tinggi.Mulailah dengan mengkonsumsi lebih banyak sayuran, buah-buahan, padi-padian, makanan berserat lainnya dan ikan.Kurangi daging, makanan kecil (cemilan), dan makanan yang berkalori tinggi dan banyak mengandung lemak jenuh lainnya.Makanan yang banyak mengandung kolesterol tertimbun dalam dinding pembuluh darah dan menyebabkan aterosklerosis yang menjadi pemicu penyakit jantung dan stroke.
1.      Menghentikan kebiasaan merokok
Penelitian ilmiah membuktikan bahwa rokok menyebabkan kanker, penyakit jantung khususnya penyakit jantung koroner, gangguan kehamilan dan janin. Menurut statistic Indonesia setiap tahun terdapat  57.000 kematian karena merokok (sujudi, A, 1997). Penelitian yang di lakukan oleh wake forest university (WFU) north Carolina, AS, menyatrakan bahwa rokok menyebabkan atherosclerosis yang berakibat penyempitan pembuluh darah koroner yang pada gilirannya berakibat pada manifestasi penyakit jantung koroner. Penyakit atherosclerosis sebagai dampak merokok merupakan kematian terbesar di amerika serikat.
2.      Menjaga tekanan darah supaya tetap normal
Bila tekanan darah meninggi dan tidak terkendali akan membebani kerja jantung, otot-otot jantung lama kelamaan mengalami pembesaran (dilatasi)hal ini dapat di lihat pada pemeriksaan medic fisik dan radiologis, organ jantung tampak membesar pada penderita penyakit darah tinggi. Selain dari pembesaran organ jantung pada umumnya di sertai disfungsi pembuluh darah koroner.
3.      Menjaga kadar kolesterol darah ataupun trigliserid supaya tetap normal.
Mengkonsumsi makanan yang halal dan yang baik serta tidak berlebih-lebihan terutama makanan yang mengandung kolesterol yang amat dianjurkan guna menghindari penyakit jantung koroner. Kadar kolesterol dan trigli serid yang tinggi serta tidak terkendali akan mengakibatkan penyempitan pembuluh darah koroner, yang pada gilirannya menjelma menjadi penyakit jantung koroner.
4.      Melakukan kegiatan olahrga secara teratur.
Aktivitas olahraga secara teratur sangat baik untuk melatih jantung.Selain daripada itu olahraga juga dapat meraangsang pembentukan pembuluh darah koroner kolateral yang dapat mengkompensasi bila terjadi gangguan pada pembuluh darah koroner.
5.      Menjaga berat badan supaya tetap ideal.
Bila berat badan berlebihan akan membebani kerja jantung. Sebab besarnya jantung hanya sebsar kepalan tangan, sehingga jantung akan bekerja ekstra keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh, apabila tubuh seseorang itu kegemukan.
6.      Bila ada diabetes militus dijaga supaya gula darah tetap terkontrol.
Meskipun penyakit kencing manis ada yang mengatakan tidak dapat diobati namun sesungguhnya penyakit ini dapat dikendalikan sehingga resiko penyakit jantung koroner dapat ditekan seminimal mungkin.
7.      Mengurangi stress psikologis
Telah diutarakan di muka bahwa stress, cemas dan depresi meupakan faktor resiko bagi terjadinya penyakit jantung koroner. Oleh karena itu hendaknya hidup ini relative bebas dari stress, cemas dan atau depresi, agar resiko terjadinya penyakit jantung koroner dapat diperkecil seminimal mungkin.













BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN JANTUNG KORONER
3.1. PENGKAJIAN
1.      IDENTITAS KLIEN

Nama                                   :                                            No. RM           :
Usia                                    :                                             Tgl masuk       :
Jenis kelamin                       :
Alamat                                :
Pekerjaan                             :
Agama                                 :

2.      RIWAYAT KESEHATAN
a.     Riwayat Kesehatan Dahulu
            Pasien memiliki riwayat faktor-faktor penyebab seperti : hipertensi, penyakit katub, penyakit jantung bawaan, infark miokard, bedah jantung, endokarditis, SLE, anemia, syok septik, kelainan pada otot jantung, aterosklerosis koroner, peradangan dan penyakit miokardium, degeneratif atau tidak.
b.    Riwayat Kesehatan Sekarang
   Pasien mengatakan adanya batuk,nafas pendek, pusing, konfusi, kelelahan/keletihan, tidak toleran terhadap latihan dan panas, ekstremitas dingin, urin berkurang, denyut jantung cepat, dispneu, kegelisahan dan kecemasan, adanya udem, hilangnya selera makan, nokturia, insomnia, nyeri dada saat aktivitas, penurunan berkemih, diare/konstipasi, mual muntah, pakaian / sepatu terasa sesak, nyeri pada abdomen kanan atas, sakit pada otot, batuk dengan atau tanpa sputum, tidur sambil duduk atau dengan beberapa bantal, TD rendah, tekanan nadi sempit, takikardi, disritmia, Bunyi jantung D3&S4, Murmur sistolik&Diastolik, Sianotik.
c.     Riwayat Kesehatan Keluarga
Adanya riwayat penyakit jantung pada keluarga.



3.      PEMERIKSAAN FISIK
a)         Keadaan umum
Pengkajian keadaan umum meliputi kesan secara umum pada keadaan sakit termasuk ekspresi wajah (cemberut, grimace, lemas), dan posisi pasien.Kesadaran yang meliputi penilaian secara kualitatif (komposmentis, apatis, somnolen, sopor, soporokoma, koma) dapat juga menggunakan GCS.Lihat juga keadaan status gizi secara umum (kurus, ideal, kelebihan berat badan).
b)                  Pemeriksaa tanda-tanda vital
Pemeriksaan tanda-tanda vital meliputi pemeriksaan tekanan darah, nadi (frekuensi, kualitas, irama), pernapasan (frekuensi, kedalaman, irama pola pernapasan), suhu tubuh, skala nyeri.
c)                  Pemeriksaan kulit, rambut dan kelenjar getah bening
Kulit meliputi warna (adanya pigmentasi, sianosis, ikterus, pucat, eritema), turgor, kelembaban edema, bekas luka dll.Rambut dapat dinilai dari warna, kelebatan, distribusi, bau keadaan, kusut dan kering dll.
Kelenjar getah bening dapat dinilai dari bentuknya serta tanda-tanda radang yang ada di daerah sevikal anterior, inguinal oksipital dan retroaurikular.
d)                    Pemeriksaan kepala dan leher
1.             Periksa bentuk dan ukuran kepala, rambut dan kepala, ubun-ubun ( fontenal), struktur wajah (simetris atau tidak), ada tidaknya pembengkakan, dll.
2.             Pada mata dapat dilihatdari visus, palpebra, alis bulu mata, konjungtiva, sklera, kornea, pupil dan lensa.dll
3.             Pada telinga dapat dilihat dari daun telinga, liang telinga, membran timpani, mastoid, ketajaman pendengaran.dll
4.             Hidung dan mulut, ada atau tidaknya trismus (kesukaran membuka mulut), bibir, gusi atau tidaknya tanda radang, perdarahan lidah, salvias, faring, laring dll.
5.             Periksa ada atau tidaknya kaku kuduk, massa di leher (jika ada periksa ukuran, bentuk, posisi, konsistensi) dan ada atau tidaknya nyeri telan dll.



e)                     Pemeriksaan dada
Pemeriksaan dada meliputi organ paru dan jantung.Secara umum periksa bentuk dada dan keadaan paru (simetris atau tidak), pergerakan napas, ada atau tidaknya fremitus suara, krepitasi, perkusi daerah dada untuk menentukan batas kelainan, dan auskultasi untuk menentukan abnormalitas sistem pernapasan.Pada saat pemeriksaan jantung, periksa denyut apeks 9dikenal dengan iktus kordis) dan aktivitas ventrikel, getaran bising (thrill) bunyi jantung tambahan atau bising jantung dll.
f)                      Pemeriksaan abdomen
Data yang dikumpulkan antara lain adalah ukuran atau bentuk perut, dinding perut, bising usus, adanya ketegangan dinding perut, atau adanya nyeri tekan. Selanjutnya lakukan palpasi pada organ hati, limpa, ginjal, kandung kencing untuk memeriksa ada aau tidaknya nyeri dan pembesaran pada organ tersebut. Kemudian periksa anus, rektum dan genetalia.
g)                     Pemeriksaan ekstremitas dan neurologis
Pemeriksaan anggota gerak ini meliputi adanya rentang gerak, keseimbangan dan gaya berjalan, genggam tangan, dan otot kaki.Periksa apakah ada kontraktur atau tidak dll.Kemudian, pada pemeriksaan neurologis periksa tanda-tanda gangguan neurologis seperti kejang, tremor, parese, dan paralisis, pemeriksaan reflek, kaku kuduk, pemeriksaan brudzinzki, dan tanda keming ( hambatan atau rasa sakit daerah ekstremitas bawah ketika dilakukan flesksi), uji kekuatan otot tonus, periksa sarah otak dll.

4.      PEMERIKSAAN PENUNJANG
a.       Kultur darah: identifikasi orgenisme penyebab.
b.      ESR: meningkat sebagai proses inflamasi.
c.       Leukosit: 15.000 mm3-20.000 mm3.
d.      Echo cardiograf: dipakai mendeteksi compilkasi intra cardial terutama melihat elatasi atau hipertropi atrium maupun ventrikel yang progresif.
e.       ECG: mendeteksi adanya infarct yang tersembunyi disebabkan emboli.
f.       Thorax foto: melihat adanya tanda-tanda gagal jantung kongestif, cardiomegali.
3.2              DIAGNOSA GAGAL JANTUNG.
No
Diagnosa Keperawatan
NOC
NIC
1.
Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer yang berhubungan dengan gaya hidup kurang gerak yang dibuktikan oleh perubahan tekanan darah diekstremitas.
Setelah dilakukan pemeriksaan 3 kali 24 jam ditemukan kriteria hasil:
  1. Tanda-tanda vital:
a.  Tekanan darah sistolik (5)
b.  Tekanan darah distolik (5)
  1. Koordinasi pergerakan
a.    Kecepatan gerakan (4)
b.    Kontraksi kekuatan otot (5)
  1. Perfusi jaringan:
a.    Nilai rata-rata tekanan darah (5)
b.    Suhu kulit ujung kaki dan tangan (5)
Monitor tanda-tanda vital
  1. Monitor tekanan darah,nadi, suhu, dan status pernafasan dengan tepat
  2. Catat gaya dan fluktuasi yang luas pada tekanan darah
  3. Monitor tekanan darah saat pasien berbaring, duduk, dan berddiri sebelum dan setelah perubahan posisi
  4. Monitor tekanan darah setelah pasien minum obat jika memungkinkan
  5. Auskultasi tekanan darah di kedua lengan dan bandingkan
  6. Monitor tekanan darah, denyut nadi, dan pernapasan sebelum, selama, dan setelah beraktifitas dengan tepat
  7. Inisiasi dan pertahankan perangkat pemantauan suhu tubuh secara terus menerus dengan tepat
  8. Monitor dan laporkan  tanda dan gejala hipotermia dan hipertermia
  9. Monitor keberadaan dan kualitas nadi
  10. Ambil nadi apikal dan radial secara simultan dan perhatikan perbedaannya dengan tepat
  11. Monitor terkait dengan nadi paradoksus
  12. Monitor terkait dengan nadi alternatif
  13. Monitor tekanan nadi yannf melebar atau menyempit
  14. Monitor irama dan tekanan jantung
  15. Monitor nada jantung
  16. Monitor irama dan laju pernapasan (misalnya, kedalaman dan kesimetrisan)
  17. Monitor suara paru-paru
  18. Monitor oksimetri nadi
  19. Monitor pola pernapasan abnormal (  misalnya, Sheyne Stokes, Kusmaul, Biot, apneustic, ataksia, dan bernapas berlebihan.
  20. Monitor warna kulit, suhu dan kelembapan
  21. Monitor sianosis sentral dan perifer
  22. Monitor akan adanya kuku (dengan bentuk) clubbing
  23. Monitor terkait dengan adanya tiga tanda chushing reflex  (misalnya, tekanan nadi lebar, bradikardia, dan peningkatan tekanan darah sistolik)
  24. Identifikasi kemungkinan penyebab perubahan tanda-tanda vital
25.  Periksa secara berkala kakutan instrumen yang digunakan untuk perolehan data pasien
2.
Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan perubahan frekuensi jantung yang dibuktikan oleh takikardia.
Setelah dilakukan pemeriksaan selama 3 kali 24 jam ditemukan kriteria hasil:
  1. kefektifan pompa jantung
a.    denyut nadi perifer (5)
b.   tekanan vena sentral (5)
  1. perfusi jaringan kardiak
a.    nilai rata-rata tekanan darah(5)
b.    indeks jantung (5)
  1. tanda-tanda vital
a.    suhu tubuh (5)
b.    tekanan nadi (5)

Manajemen elektrolit hipernatremia
  1. Ambil spesimen untuk (dapat dilakukan) analisis laboratorium kadar megnesium, jika diperlukan
  2. Monitor perubahan kadar magnesium,  yang tersedia
  3. Monitor adanya ktidakseimbangan elektrilit yang berkaitan dengan hipermagnesemia (misalnya, peningkatan BUN dan kadar kretinin)  jika diperlukan
  4. Kaji masukan magnesium dari diet danobat-obatan
  5. Monitor penyebab peningkatan kadar megnesium (misalnya infus magnesium, nutrisi parenteral, larutan dialisak kaya magnesium, antasida, laksatif, dan enema berulang magnesium sulfat, terapi litium, dan insufisiensi atau gagal ginjal)
  6. Monitor penyebab gangguan ekresi magnesium (misalnya gagal  ginjal, usia tua)
  7. Monitor keluaran urine pada pasien dengan terapi magnesium.
  8. Monitor adanya manifestasi kardiovaskuler akibat hipermagnesemia (misalnya hipotensi, kemerahan, beradikardia, blok jantung, pelebaran segemen QRS, pemanjangan segemen QT, dan gelombang T yang tinggi)
  9. Monitor adanya manifestasi sistem saraf pusat akibat dari hipermagnesemia (misalnya kelemahan hingga tidak ada refleks tendon, para lisis otot dan depresi pernafasan)
  10. Berikan kalsium klorida atau kalsium glukonat intravena untuk melawan efekneuromuskular akibat hipermagnesemia, jika di perlukan.
  11. Tingkatkan masukan cairan  untuk membantu mengincerkan kadar magnesium dan keluaran urin, sesuai indikasi.
  12. Pertahankan tirah baring dan batasi aktivitas,jika diperlukan.
  13. Posisikan pasien untuk memfasilitasi ventilasi, sesuaiindikasi
  14. Persiapanpasien untuk di alisis (misalnya lakukan pemasangan kateter untuk di  alalisi) sesuai indikasi.
  15. Jelaskan pada pasien dan keluarga mengenai cara cara menangani hipermagnesemia.
3.
Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan ketidakseimbangan ventilasi perfusi yang dibuktikan oleh dispneu.

Setelah dilakukan pemeriksaan 3 kali 24 jam ditemukan kriteria hasil:

  1. Keseimbangan elekrolit dan asam/basa.
a.    Penurunan serum kalisum.(5)
b.    Peningkatan serum magnesium. (5)
  1. Status pernafasan.
a.    Irama pernafasan (5)
b.    Frekuensi pernafasan. (5)
  1. Tanda-tanda vital
a.    Suhu tubuh (5)
b.    Irama jantung apical (5)



Pengurangan kecemasan
  1. Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
  2. Nyatakandengan jelas harapan terhadap perilaku klien.
  3. Jelaskan semua prosedur termasuk sensasi yang akan dirasakan yang mungkin akan dialami klien selama prosedur dilakukan.
  4. Pahami situasi krisis yang terjadi dari perspektif klien.
  5. Berikan informasi faktual terkait diagnosis, perawatan dan prognosis.
  6. Berada disisi klien untuk meningkatkan rasa aman dan mengurangi ketakutan.
  7. Dorong keluarga untuk mendampingi klien dengan cara yang tepat.
  8. Berikan objek yang menunjukkan perasaan aman.
  9. Lakukan usapan pada punggung/leher dengan cara yang tepat.
  10. Dorong aktifitas yang tidak kompetitif secara tepat.
  11. Jauhkan peralatan perawatan dari pandangan klien.
  12. Dengarkan klien.
  13. Puji/kuatkan perilaku yang baik secara tepat.
  14. Ciptakan atmosfer rasa aman untuk meningkatkan kepercayaan.
  15. Dorong verbalisasi perasaan, persepsi dan ketakutan.
  16. Identifikasi pada saat terjadi perubahan tingkat kecemasan.
  17. Berikan aktifitas pengganti yang bertujuan  untuk mengurangi tekanan.
  18. Bantu klien mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan .
  19. Kontrol stimulus untuk kebutuhan klien secara tepat.
  20. Dukung penggunaan mekanisme koping yang sesuai.
  21. Bantu klien untk mengartikulasikan deskritif yang realistis dan mengenaikejadian yang akan datang.
  22. Pertimbangkan kemampuan klien dalammengambil keputusan.
  23. Instruksikan klien untuk menggunakan tekhnik relaksasi.
  24. Atur penggunaan obat-obatan untuk mengurangi kecemasan secara tepat.
  25. Kaji untuk tanda verbal dan non verbal kecemasan.
4.
Intoleransi aktifitas yang berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen yang dibuktikan oleh respons frekuensi jantung abnormal terhadap aktifitas.
Setelah dilakukan pemeriksaan 3 kali 24  jam ditemukan kriteria hasil:
  1. status pernafasan
a.     frekuensi pernafasan (5)
b.    irama pernafasan (5)
  1. tingkat ketidaknyamanan
a.    sesak nafas (5)
b.    otot pegal (5)
  1. Tanda-tanda vital
a.    denyut jantung apikal (5)
b.   irama jantung apikal  (5)
Manajemen jalan nafas
  1. Buka jalannafas dengan tekhnik chin lift atau jau thrust, sebagai mana mestinya
  2. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
  3. Identifikasi kebutuhan aktualpotensial pasien untuk memasukkan alat membuka jalan nafas
  4. Masukkan alat nasopharyngeal airway (OPA), sebagaimana mestinya
  5. Buang sekret dengan memotifasi pasienuntuk melakukan batuk atau menyedot lendir
  6. Motifasi pasien untuk bernafas pelan, dalam, berputar, dan batuk
  7. Gunakan tekhnik yang menyenangkan untuk memiotifasi bernafas dalam kepada anak-anak (misal; meniup gelembung, meniup kincir, peluit, harmonika,balon, meniup layaknya pesta; buat lomba meniup dengan bola pingpong, meniuo bulu)
  8. Instruksikan bagaimana agar bisa melakukan batuk efektif
  9. Bantu engan dorongan spirometer, sebagaimana mestinya
  10. Auskultasi suara nafas, catat area yang ventilasinya menurun atau tidak ada danadanya suara tambahan
  11. Lakukan penyedotan melalui endotrakea atau nasotrakea sebagaimana mestinya
  12. Kelola pemberian bronkodilator, sebagaimanamestinya
  13. Ajarkan pasien bagaimana menggunakan inhaler sesuai resep, sebagaimana mestinya
  14. Kelola pengobatan aerosol, sebagaimana mestinya
  15. Kelola nebulaizer ultrasonik, sebagaimana mestinya
  16. Kelola udara atau oksigen yang dilembabkan, sebagaimana mestinya
  17. Ambil benda asing dengan forsep McGill, sebagaimana mestinya
  18. Regulasi asupan cairan untuk mengoptimalkan keseimbangan cairan
  19. Posisikan untuk meringankan sesak nafas
  20. Monitor status pernafasan dan oksigenasi, sebagaimana mestinya
5.
Kelebihan volume cairan yang berhubungan dengan asupan cairan yang dibuktikan oleh edema.
Setelah dilakukan pemeriksaan 3 kali 24 jam:
  1. Tanda-tanda vital
a.    Suhu tubuh (5)
b.    Irama jantung apical (5)
  1. Keseimbangan elektrolit
a.  Penurunan serum korida (5)
b.   Penigkatan serum magnesium. (5)
3.      Berat badan: massa tubuh
a.    Berat badan (5)
b.   Persentase lemak tubuh (5)
Sampel darah kapiler.
  1. Verifikasi identifikasi klien dengan benar.
  2. Meminimalisir  kecemasan dengan pendekatan sesuai usia klien
  3. Pertahankan standar tindakanpencegahan
  4. Tentukan daerah penusukan (misallnya, bagian terluar dari tumit terbawah kaki, bagian distal kaki/jari tangan, lokasi alternatif yang lain seperti lengan depan).
  5. Tusuk bagian luar tumit kaki  tidak lebih dari 2,4 mm pada bayi.
  6. Hangtkan bagian penusukan sekitar lima menit jika lokasi pengambilan sampel pada bagian arteri sesuai dengan protokol.
  7. Gunakan teknik aseptik selama proses penusukan
  8. Tusuk kulit dengan lancet atau dengan alat penusukan yang lain sesuai dengan spesifikasi.
  9. Bersihkan tetesan darah pertama dengan kasa kering., sesuai spesifikasi pebrikan atau protokol yang ada dilembaga tersebut.
  10. Kumpulkan darah dengan sikap  yang baik.
  11. Lakukan tekanan inermiten jauh dari area penusukan untuk meningkatkan aliran darah.
  12. Hindari hemolisis yang disebabkan oleh tindihan berlebihan atau reposisi pada area penusukan.
  13. Ikuti petunjuk pabrik alat terkait waktu melakukan tes dan penyimpanan sampel darah ( misalnya, menyegel tutup sampel darah), dika diperlukan.
  14. Labeli spesimen jika diperlukan suseia dengan protokol.
  15. Kirim spesimen ke laboratorium jika diperlukan.
  16. Ajarkan dan monitor pengambilan sampel darah kapiler yang dilakukan sendiri dengan cara yang tepat.
  17. Dokumentasikan pengambilan sampel darah kapiler.
3.3 Implementasi keperawatan:
Mengubah kata perintah dari intervensi keperawatan menjadi kata kerja.
3.4 Evaluasi
Hasil yang diharapkan:
a.         Frekuensi pernafasan pasien kembali normal
b.        Irama pernafasan pasien kembali normal
c.         TTV pasien kembali normal
d.        Kebugaran fisik pasien kembali normal
e.         Perilaku merokok pasien sudah teratasi
f.         Pengetahuan pasien terhadap proses penyakit sudah teratasi
g.        Koordinasi pergerakan pasien sudah kembali normal
S: pasien mengatakan nyeri pada dada berkurang.
O: TD 130/90, skala nyeri 0, frekuensi jantung membaik.
A: masalah dapat teratasi.
P: mengizinkan pasien pulang.



DAFTAR PUSTAKA
A.Muin Rahman. “Penyakit Jantung Koroner Kronik. Manifestasi Klinis dan Prinsip Penatalaksanaan”.Hal. 1091
Kusmana, Dede 1996. “Pencagahan dan Rehabilitas Penyakit Jantung Koroner” Jurnal Kardiologi. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal.106Drs. Tan Hoan Tjay dan Drs. Rahadja Kirana. 2007. “Obat-obat Penting” Edisi VI.Jakarta, Elex Media Komputindo. Hal.528
 Mansjoe, Arif dkk.2001.“Kapita Selekta Kedokteran”. Edisi III, Jakarta, Media Aesculapius, Hal. 437

A. Price, Sylvia dan Lorraine M, Wilson.2005. “Patofisiologi Konsep Klinis, Proses-proses, dan Penyakit” Edisi 6. Jakarta. EGC. Hal. 576

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Transcultural Nursing

SAP Manajemen Laktasi

Bakteriologi Enterobacteriaceae (Escherichia Coli, Salmonella, Shigella)