ASKEP Jantung Koroner
MAKALAH KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH I
PENYAKIT
JANTUNG KORONER
DOSEN
PEMBIMBING :
MULIA
MAYANGSARI, M.Kep., Ns., Sp.Kep.MB
DISUSUN
OLEH
KELOMPOK
1 :
Ary Budianto (16142010052)
Choirul Anam (16142010054)
Iis Mumayyizah (16142010062)
Mila Purnamasari (16142010068)
Noer Iqbal Wahyu S. (16142010073)
Rikayatul Huda (16142010075)
Yuliani Firdaus (16142010087)
STIKes NGUDIA HUSADA MADURA
2017
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum
Wr.Wb
Puji dan syukur penulis panjatkan
kepada Allah Swt, karena atas berkat dan
rahmatnya penulis dapat menulis makalah ini yang berjudul ‘’Penyakit Jantung Koroner” hingga
selesai. Meskipun dalam makalah ini penulis mendapat banyak yang menghalangi,
namun mendapat pula bantuan dari beberapa pihak baik secara moral, materil
maupun spiritual.
Oleh karena itu, kami mengucapkan
terima kasih pada dosen pembimbing serta semua pihak yang telah memberikan
sumbangan dan saran atas selesainya penulisan makalah ini.Di dalam penulisan
makalah ini kami menyadari bahwa masih ada kekurangan-kekurangan mengingat
keterbatasannya pengetahuan dan pengalaman kami.Oleh sebab itu, sangat di
harapkan kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun untuk
melengkapkan makalah ini dan berikutnya.
Bangkalan
17 September 2017
Kelompok
1
DAFTAR ISI
PENNYAKIT
JANTUNG KORONER
Kata Pengantar.................................................................................................................. i
Daftar Isi............................................................................................................................ ii
BAB 1
PENDAHULUAN
Latar belakang................................................................................................................ 1.1
Rumusan masalah........................................................................................................... 1.2
Tujuan............................................................................................................................. 1.3
Manfaat........................................................................................................................... 1.4
BAB 2
PEMBAHASAN
TINJAUAN PUSTAKA
Penyakit
Jantung Koroner............................................................................................ 2.1
Etiologi Penyakit Jantung Koroner.............................................................................. 2.2
Klasifikasi Penyakit Jantung Koroner......................................................................... 2.3
Manifestasi Penyakit Jantung Koroner........................................................................ 2.4
Faktor Resiko Penyakit Jantung Koroner................................................................... 2.5
Patofisiologi Jantung Koroner....................................................................................... 2.6
Pemeriksaan Penunjang................................................................................................. 2.7
Penatalaksaan Jantung Koroner................................................................................... 2.8
Komplikasi Penyakit Jantung Koroner........................................................................ 2.9
Pencegahan Penyakit Jantung Koroner..................................................................... 2.10
BAB 3
Askep Jantung Koroner................................................................................................. 3.1
BAB 4
PENUTUP
Kesimpulan...................................................................................................................... 4.1
Saran............................................................................................................................... 4.2
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................... 5.1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Di Inggris, penyakit
kardiovaskukar membunuh satu dari dua penduduk dalam populasi, dan menyebabkan
hampir sebesar 250.000 kematian pada tahun 1998. Satu dari empat laki-laki dan
satu dari lima perempuan meninggal pertahunnya karena PJK, yang merepresentasikan
sekitar setengah kematian akibat penyakit kardiovaskular. Merupakan konsep yang
salah bahwa PJK jarang terjadi pada perempuan : faktanya tidak banyak perbedaan
antara perempuan dibandingkan laki-laki dalam insidensi penyakit ini
berdasarkan harapan hidup yang lebih panjang.
Meskipun PJK tetap merupakan
penyebab utama kematian dini di Inggris, tingkat kematian turun secara
progresif selama dua puluh tahun terakhir. Penurunan ini terutama pada kelompok
usia yang lebih muda, dimana, sebagai contoh, terdapat penurunan sebesar 33%
pada laki-laki berusia 35-74 tahun. Dan penurunan sebesar 20% pada perempuan
pada kisaran usia serupa dalam sepuluh tahun terakhir. Banyak negaara lain
termasuk Australia, swedia, prancis, dan As, melebihi tingkat penurunan murtalitas
inggris.
Tingkat kematian akibat PJK di
inggris tetap merupakan yang tertinggi di dunia barat, hanya di lampaui oleh
irlandia di Eropa.Di inggris terdapat perbedaan regional, social ekonomi, dan
eknik yang bermakna dalam prefarensi PJK, prefrensi tertinggi di utara inggris
dan skotlandia, pada pekerja manual, dan pada orang Asia.
Salah satu target ambisius
pemerintah inggris adaalah menurunkan tingkat kematian akibat PJK. Departemen
of helth, 1996 mengatakan bahwa 3% penduduk dewasa menderita angina dan 0,5%
penduduk dewasa mengalami infakmiokat dalam 12 bulan terakhir, masing masing
sama dengat 1,4 juta dan 246.000 orang . PJK merupakan penyebab sekitar 3%
keperawatan rumah sakit yaitu sebesar 248.292 perawatan dengan masa rawat
selama 6,6 hari.
PJK menghabiskan danasebesar
1630 juta poundsteling Inggris pertahun. Dari biaya ini perawatan rumah sakit
menghabiskan 54% dan pencegahan primer hanya 1% . 65 jutaa hari kerja hilang
tiap tahun karna PJK, mempersenkan 9% dari seluruh kehilangan hari kerja .maka,
beban ekonomi akibat PJK di inggris sekitar 10.000 juta poudsterling per tahun.
Ketentuan untuk pemeriksaan penunjang dan terapi pasien dengan PJK di inggris
tertinggal jauh dari eropa , dengan manorita spopulasi bermakna tidak memiliki
akses segara terhadap spesialis kardiolog di rumah sakit local.( Departemen of
helth 2000 ). Yang barusaja di terbitkan menetapkan sejumblah target
pemeriksaan penunjang dan terapi untuk pasien dengan PJK sejak perawatan
perimer hingga tersier; dekumen ini juga mencoba menstandardisasi akses ke
fasilitas fasilitas di seluruh inggris.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian dari
penyakit jantung koroner?
2.
Bagaimana etiologi
dari penyakit jantung koroner?
3.
Bagaimana
klasifikasi dari penyakit jantung koroner?
4.
Bagaimana manifestasi
klinis dari penyakit jantung koroner?
5.
Apa aja faktor
resiko dari penyakit jantung koroner?
6.
Bagaimana
pathofisiologi dari penyakit jantung koroner?
7.
Apa saja
pemeriksaan penunjang dari penyakit jantung koroner?
8.
Bagaimana
penetalaksaan dari penyakit jantung koroner?
9.
Apa saja komplikasi
yang disebabkan oleh penyakit jantung koroner?
10. Bagaimana cara mencegah penyakit jantung koroner?
11. Bagaimana penulisan askep pada jantung koroner?
12.
Apa saja hasil
penelitian dari penyakit jantung koroner?
1.3 Tujuan
1.
Untuk mengetahui
pengertian dari penyakit jantung koroner
2.
Untuk mengetahui
etiologi dari penyakit jantung koroner
3.
Untuk mengetahui
klasifikasi dari penyakit jantung koroner
4.
Untuk mengetahui
manifestasi klinis dari penyakit jantung koroner
5.
Untuk mengetahui faktor
resiko dari penyakit jantung koroner
6.
Untuk mengetahui
pathofisiologi dari penyakit jantung koroner
7.
Untuk mengetahui
pemeriksaan penunjang dari penyakit jantung koroner
8.
Untuk mengetahui
penetalaksaan dari penyakit jantung koroner
9.
Untuk mengetahui komplikasi
yang disebabkan oleh penyakit jantung koroner
10.
Untuk mengetahui
cara mencegah penyakit jantung koroner
11.
Untuk mengetahui
penulisan askep pada jantung koroner
12.
Untuk mengetahui hasil
penelitian dari penyakit jantung koroner
1.4 Manfaat
Manfaat dari pembuatan makalah ini, baik bagi
kami maupun bagi teman-teman sebagai sarana wawasan dan pengetahuan mengenai
beberapa hal yang berkenaan dengan
penyakit jantung koroner dan juga dalm penulisan askep yang benar.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penyakit Jantung Koroner
Penyakit jantung koroner atau yang
disebut dalam dunia kedokteran acut miocard infark (ami) inilah yang paling
banyak membunuh dari sekian banyak pasien jantung.Penyakit jantung coroner
adalah penyakit jantung yang lebih banyak terjadi dibandingkan dengan jenis
penyakit jantung lainnya. Proses penyakitnya berjalan dengan sangat cepat dan
juga membutuhkan pertlongan dengan segera. Pengertian secara mudahnya adalah
kematian dari otot jantung karena adanya penyumbatan pada pembuluh coroner.
Karena ada penyumbatan ini, maka pembuluh
darah coroner yang berperan dalam menyuplai darah dan O2 ke
dalam jantung itu sendiri akan mengalami kerusakan bahkan sampai kematian
mendadak. Diagnose dan pengobatan yang tepat dapat menyelamatkan pasien dari
kematian.
2.2 Etiologi
Penyakit Jantung Koroner
Salah satu penyakit jantung koroner adalah kebiasaan makan
makan makanan berlemak tinggi terutama lemak jenuh.Agar lemak mudah masuk dalam
peredarah darah dan di serap tubuh maka lemak harus diubah oleh enzim lipase
menjadi gliserol (Yenrina, Krisnatuti, 1999).
Aterosklerosis adalah suatu keadaan arteri besar dan kecil
yang ditandai oleh endapan lemak, trombosit, makrofag dan leukosit di seluruh
lapisan tunika intima dan akhirnya ke tunika media (Elizabeth J. Corwin, 2009,
477).
Penyakit jantung koroner dapat
disebabkan oleh beberapa hal :
a)
Penyempitan (stenosis) dan penciutan (spasme) arteri
koronaria, tetapi penyempitan terhadap akan memungkinkan berkembangnya
koleteral yang cukup sebagai pengganti.
b)
Aterosklerosis, menyebabkan sekitar 98% kasus PJK.
c)
Penyempitan arteri koronaria pada sifilis, aortitis takayasu,
berbagai jenis arteritis yang mengenai arteri coronaria, dll.
Salah
satu penyakit jantung akibat insufiensi aliran darah koroner yaitu, Angina
pectoris dan infark miokardium.
a) Angina pectoris
Angina pectoris adalah nyeri hebat yang berasal dari jantung
dan terjadi sebagai respon, terhadap suplai oksigen yang tidak adekuat ke
sel-sel miokardium.Nyeri angina dapat menyebar ke lengan kiri, ke punggung, ke
rahang, atau ke daerah abdomen (Elizabeth J .corwin, 2009, 492).
Adapun
jenis-jenis angina :
1.
Angina stabil
Disebut juga angina klasik, terjadi jika arteri koroner yang
arterosklerotik tidak dapat berdilatasi untuk meningkatkan alirannya sewaktu
kebutuhan oksigen meningkat.Peningkatan jantung dapat menyertai aktivitas
misalnya berolahraga atau naik tangga.
2.
Angina prinzmental
Terjadi tampa peningkatan jelas beban kerja jantung pada
kenyataannya sering timbul pada waktu beristirahat atau tidur. Pada angina
prinzmental terjadi spasme arteri koroner yang menimbulkan iskemi jantung di
bagian hilir.Kadang-kadang tempat spasme berkaitan dengan arterosklerosis.
3.
Angina tak stabil
Adalah kombinasi angina stabil dengan angina prinzmental ;
dijumpai pada individu dengan perburukan penyakit arteri koroer. Angina ini
biasanya menyertai peningkatan beban kerja jantung; hal ini tampaknya terjadi
akibat arterosklerosis koroner, yang ditandi oleh trombus yang tumbuh dan mudah
mengalami spasme.
b) Infark miokardium
Terlepasnya plak arteriosklerosis dari salah satu arteri
koroner dan kemudian tersangkut di bagian hilir sehingga menyumbat aliran darah
ke seluruh miokardium yang di perdarahi oleh pembuluh tersebut. Infark
miokardium juga dapat terjadi jika lesi trombosit yang melekat di arteri
menjadi cukup besar untuk menyumbat total aliran ke bagian hilir, atau jika
suatu ruang jantung mengalami hipertrofi berat sehingga kebutuhan oksigen tidak
dapat terpenuhi. (Elizabet J. Corwin, 2009,
2.3 Klasifikasi
Jantung Koroner
Menurut
Hoon Gray (2002), penyakit jantung koroner diklasifikasikan menjadi 3, yaitu
Silent Ischemia (Asimtotik), Angina Pectoris, dan Infark Miocard Akut (serangan
jantung). Berikut adalah penjelasan masing-masing klasifikasi PJK :
a.
Silent Ischemia
(Asimtotik)
Banyak dari penderita Silent Ischemia yang mengalami PJK
tetapi tidak merasakan ada sesuatu yang tidak enak atau tanda-tanda suatu
penyakit (Iman, 2004)
b.
Angina Pectoris
Angina Pectoris terdiri dari dua tipe, yaitu Angina
Pectoris Stabil yang ditandai dengan keluhan nyeri dada yang khas, yaitu rasa
tertekan atau berat di dada yang menjalar ke lengan kiri dan Angina Pectoris
Tidak Stabil yaitu serangan rasa sakit dapat timbul, baik pada saat istirahat,
waktu tidur, maupun aktivitas ringan. Lama sakit dada jauh lebih lama dari
sakit biasa. Frekuensi serangan juga lebih sering.
c.
Infark Miocard Akut
(Serangan Jantung)
Infark Miocard Akut yaitu jaringan otot jantung yang mati
karena kekurangan oksigen dalam darah dalam beberapa waktu. Keluhan yang
dirasakan nyeri dada, seperti tertekan, tampak pucat berkeringat dan dingin,
mual, muntah, sesak, pusing, serta pingsan (Notoadmojo, 2007).
d. Infark
Miokard Stemi
Ketika
aliran darah menurun tiba-tiba akibat oklusi trombus di arteri koroner, maka
terjadi infark miokard tipe elevasi segmen ST (STEMI). Perkembangan perlahan
dari stenosis koroner tidak menimbulkan STEMI karena dalam rentang waktu
tersebut dapat terbentuk pembuluh darah kolateral. Dengan kata lain STEMI hanya
terjadi jika arteri koroner tersumbat cepat (Antman, 2005).
e. Infark
Miokard Non Stemi
Non
STEMI merupakan tipe infark miokard tanpa elevasi segmen ST yang disebabkan
oleh obstruksi koroner akibat erosi dan ruptur plak. Erosi dan ruptur plak
ateroma menimbulkan ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen. Pada Non
STEMI, trombus yang terbentuk biasanya tidak menyebabkan oklusi menyeluruh
lumen arteri koroner (Kalim, 2001).
2.4 Manifestasi
Klinis
1)
Asimptomatik (silent myocardial ischemia)
a) Penderita tidak pernah mengeluh
nyeri dada baik pada istirahat maupun saat aktivitas. Secara kebetulan
penderita menunjukan adanya iskemia saat dilakukan uji beban latihan. Ketika di
EKG menunjukan depresi segmen ST.
b) Mekanisme silent iskemia diduga
oleh karena : ambang nyeri yang meningkat, neuropati otonomik (pada penderita
diabetes), meningkatnya produksi endomorfin, derajat stenosis yang
ringan.
2) Angina pektoris
Angina
pektoris adalah rasa nyeri yang timbul karena iskemia miokardium. Bila arteri
koroner mengalami penyempitan akan terjadi ketidak seimbangan yang memberikan
gangguan berupa angina, yang bervariasi tergantung berat-ringannya penyempitan.
Pada penyempitan arteri koroner sampai 60%, saat istirahat aliran darah koroner
masih mencukupi kebutuhan dengan mekanisme vasodilatasi pasca stenosis. Bila
terjadi peningkatan kebutuhan jaringan (saat bekerja) aliran menjadi kurang.
Hal ini menyebabkan hipoksia jaringan yang akan meningkatkan hasil metabolisme
anaerob (asam laktat) yang akan mencetuskan angina, manifestasi ini disebut
effort angina (Heberden, 1772). Angina pektoris yang timbul saat istirahat
menunjukan penyempitan melebihi 60%. Angina bentuk ini disebut angina at
rest/angina prizmental. Jika bentuk ini terjadi lama, akan terjadi situasi
kritis karena terdapatnya hipoksia jaringan. Bila hipoksia berlanjut terus,
miokard akan mengalami kerusakan yang disebut infark miokard.
3) Infark Miokard Akut
Penderita infark miokard akut sering didahului oleh
keluhan dada terasa tdiak enak (chest discomfort). Keluhan ini
menyerupai gambaran angina yang klasik pada saat
istirahat
sehingga dianggap terjadi angina tidak stabil. Tiga puluh persen penderita
mengeluh gejala tersebut 1-4 minggu sebelum penderita mengeluh gejala tersebut
dirasakan kurang dari 1 minggu. Selain itu penderita sering mengeluh rasa
lemah dan kelelahan.
Intentisitas nyeri
biasanya bervariasi, seringkali sangat berat bahkan banyak penderita tidak
dapat menahan rasa nyeri tersebut. Nyeri dada berlangsung > 30 menit bahkan
sampai berjam-jam. Kualitas nyerinya sering dirasakan seperti menekan, (compressing),
constricting, crushing atau squeezing (diremas), choocking
(tercekik), berat (heavy pain). Kadang
juga bisa tajam (knife like) atau pun seperti terbakar (burning).
Lokasi nyeri biasanya retrosternal, menjalar ke kedua dinding dada terutama
dada kiri, ke bawah ke bagian medial lengan menimbulkan rasa pegal pada
pergelangan, tangan dan jari. Kadang-kadang nyeri dapat dirasakan pada daerah
epigastrium hingga merasa perut tidak enak (abdominal discomfort).
Gejala lain yang sering menyertai adalah mual, muntah, badan lemah, pusing,
berdebar dan keringat dingin.
2.5 Faktor
Resiko Jantung Koroner
|
Faktor Resiko yang Dapat Diperbaiki
|
Faktor Resiko yang Tidak Dapat Diperbaiki
|
|
Riwayat Hipertensi
|
Usia
|
|
Kolestrol
|
Jenis Kelamin
|
|
Merokok
|
Keturunan atau genetik dari keluarga
|
|
Riwayat Diabetes
|
Ras
|
|
Stress
|
|
|
Pola Makan
|
|
|
Gaya Hidup
|
|
|
Riwayat Obesitas
|
|
|
Kurangnya
aktivitas fisik (olahraga)
|
|
2.5.1Faktor
Resiko yang dapat diperbaiki
a.
Riwayat Hipertensi
Hipertensi adalah keadaan peningkatan tekanan darah yang
memberi gejala yang akan berlanjut ke suatu organ target seperti stroke (untuk
otak), Penyakit Jantung Koroner(untuk
pembuluh darah jantung)
b.
Kolestrol
Kolesterol
adalah metabolit yang mengandung lemak sterol yang ditemukan pada membran sel
dan disirkulasikan dalam plasma darah.Kolesterol sebenarnya dibutuhkan juga
dalam tubuh namun jika berlebihan maka akan berakibat timbulnya Penyakit Jantung Koroner.
c. Merokok
Rokok merupakan salah satu produk industri dan komoditi internasional yang
mengandung sekitar 3.000 bahan kimiawi, yang diantaranya terdapatbeberapa zat
yang sangat berbahaya bagi kesehatan diantaranya tar, nikotin dan karbon
monooksida (CO).Sekitar 24% kematian akibat PJK
pada laki laki dan 11% pada perempuan di sebabkan kebiasaan merokok.Meskipun
terdapat penurunan progresif proporsi pada populasi yang merokok sejak tahun
1970 an, pada tahun 1996 29% laki laki dan 28% perempuan masih merokok.Salah
satu hal yang menjadi perhatian adalah prevalensi kebiasaan merokok yang
meningkat pada remaja, terutama pad remaja perempuan orang yang tidak merokok
dan tinggal bersama perokok atau perokok pasif memiliki peningkatan resiko
sebesar 20-30% dibandingkan dengan orang yang tinggal dengan bukan perokok.
Resiko terjadinya PJK akibat merokok berkaitan dengan dosis dimana orang yang
merokok 20 batang rokok atau lebih dalam sehari memiliki resiko sebesar 2
hingga 3 kali lebih tinggi dari pada populasi umum untuk mengalami koroner
mayor.
d.
Riwayat Diabetes
Kencing manis atau Diabetes Melitus merupakan gangguan
kesehatan yang berupa kumpulan gejala yang disebabkan oleh peningkatan kadar
gula (glukosa) darah akibat kekurangan ataupun resistensi insulin. Keadaan ini
bisa menyebabkan penyumbatan pada arteri koroner sehingga menghalangi aliran
darah ke jantung.
e.
Stress
Stres berpotensi menyebabkan penyempitan pembuluh darah yang
berdampak pada peningkatan tekanan darah sehingga memperbesar risiko Penyakit
Jantung Koroner. Seseorang yang mengalami stres memiliki risiko 2-3 kali lebih
besar terserang Penyakit Jantung Koroner dibandingkan
yang tidak mengalami Stres.
f.
Pola Makan
Mulailah
dengan mengkonsumsi lebih banyak sayuran, buah-buahan, padi-padian, makanan
berserat lainnya dan ikan.Kurangi daging, makanan kecil (cemilan), dan makanan
yang berkalori tinggi dan banyak mengandung lemak jenuh lainnya.Makanan yang
banyak mengandung kolesterol tertimbun dalam dinding pembuluh darah dan
menyebabkan aterosklerosis yang menjadi pemicu penyakit jantung dan stroke.
g.
Gaya Hidup
Gaya hidup yang acuh tak acuh terhadap faktor risiko dan
tidak disiplin dalam mengatur kegiatan keseharian memicu timbulnya berbagai
penyakit termasuk Penyakit Jantung
Koroner.
h. Obesitas
Kelebihan berat badan
meningkatkan tekanan darah tinggi dan ketidaknormalan jumlah lemak. Menghindari
atau mengobati obesitas adalah cara utama untuk menghindari diabetes. Diabetes
kemudian akan meningkatkan resiko penyakit gagal jantung.
i.
Kurangnya Aktivitas Fisik
Olahraga sangat bermanfaat dalam mencegah terjadinya Penyakit Jantung Koroner,
diantaranya menghambat penumpukan plak aterosklerosis dalam
pembuluh koroner, bahkan dalam derajat tertentu dikatakan dapat mengikis plak
tersebut. Kurang olahraga meningkatakan resiko terjadinya penyakit jantung
koroner.
2.5.2Faktor
Resiko yang tidak dapat diperbaiki
a. Usia
Pria dan wanita di bawah usia 50 tahun memiliki resiko lebih
tinggi dibandingkan dengan wanita pada kelompok usia yang sama.
b. Jenis Kelamin
Setelah menopause, resiko seorang wanita bertambah karena
penurunan yang tajam dari hormone estrogen yang bersifat melindungi.
c. Keturunan dari Keluarga
Penelitian menunjukkan bahwa jika terdapat riwayat
gangguan jantung dalam keluarga, keturunan mereka lebih cenderung mengembangkan
problem yang serupa.
d. Ras
Insidensi kematian dini akibat PJK pada orang Asia
yang tinggal di Inggris lebih tinggi dibandingkan dengan populasi lokal, dan
juga angka yang rendah pada ras Afro-Karibia.
2.6 Patofisiologi Penyakit Jantung Koroner.
Fungsi jantung adalah mempompa
darah ke seluruh jaringan organ tubuh melalui pembuluh darah arteri, sebaliknya
janung menerima darah kembali melalui pembuluh darah balik (vena) untuk dapat menjalankan
fungsinya otot otot jantung yang
mendapat pasokan darah melalui pembuluh darah yang di sebut pembuluh darah
coroner. Sebagaimana organ organ tubuh lainnya, organ jantung memperoleh zat
asam (oksigen) dan makanan (nutrisi) melalui pembuluh darah coroner tadi. Mana
kala pasokan oksigen dan nutrisi
ke otot jantung berkurang (deficit) yang di sebabkan karena pembuluh darah
coroner mengalami penyempitan dengan akibat pasokan darah ke organ jantung
melalui pembuluh darah koroner tadi berkurang, maka gangguan ini disebut
sebagai penyakit jantung koroner
Fase
penyakit jantung koroner dapat diketahui berdasarkan hubungan antara gejala
klinis denganpatologi endotelium yangdapat dilihat secara angioskopi. Pada
permulaan penyakit akan tampak lapisan lemak pads permukaan pembuluh darah.
Bila lesi melebar akan menyebabkan obstruksi parsial oleh plak yang
permukaannya licin. Bila plakbertambah besar aliran koroner akan berkurang dan
menyebabkan angina stabil. Beberapa plak akan mengalami ulserasi dan
menyebabkan kumpulan platelet pada tempat tersebut. Kumpulan platelet tersebut
akan mengakibatkan lepasnya vasokonstriktor koroner secara periodik dari aliran
darah dan menyebabkan angina yang laju (accelerated angina) yaitu bentuk
peralihan dari angina stabil ke angina tak stabil. Bila emboli yang lepas cukup
besar akan menyebabkan kematian yang mendadak.
Kumpulan
platelet yang menempel dapat membentuk trombus kecil. Bila trombus cukup besar
dan menyebabkan obstruksi total akan menjadi infark miokard. Setelah terjadi
infark, trombus akan lisis oleh proses endogen. Ulserasi endotelium menyembuh
dalam beberapa minggu. Proses penyembuhan kadang-kadang tidak seluruhnya
sempurna, seringkali trombus yang tersisa membentuk sumbatan dalam pembuluh
darah sehingga timbul kembali angina stabil. Plak tersebut dapat ruptur
kembali, dan seterusnya.
2.7 Pemeriksaan
Penunjang
a.
Elektrokardiogram (EKG)
Pemeriksaan aktifitas listrik jantung atau gambaran elektrokardiogram (EKG)
adalah pemeriksaan penunjang untuk memberi petunjuk adanya PJK. Dengan
pemeriksaan ini kita dapat mengetahui apakah sudah ada tanda-tandanya. Dapat
berupa serangan jantung terdahulu, penyempitan atau serangan jantung yang baru
terjadi, yang masing-masing memberikan gambaran yang berbeda.
b.
Foto Rontgen Dada
Dari foto rontgen, dokter dapat menilai ukuran jantung, ada-tidaknya
pembesaran. Di samping itu dapat juga dilihat gambaran paru. Kelainan pada
koroner tidak dapat dilihat dalam foto rontgen ini. Dari ukuran jantung dapat
dinilai apakah seorang penderita sudah berada pada PJK lanjut. Mungkin saja PJK
lama yang sudah berlanjut pada payah jantung. Gambarannya biasanya jantung
terlihat membesar.
c.
Echocardiografi.
Diagnosis untuk penyakit
jantung koroner dapat dilakukan dengan pemeriksaan fisik, anamnesis.
Pemeriksaan USG jantung dapat dilakukan dengan ekokardiografi. Sistem
ekokardiografi dapat menampilkan, menganalisa dan menangkap hati secara penuh
dalam satu detak jantung.
d.
CT Scan.
Perkembangan
teknologi telah menciptakan alat baru yaitu Computed tomography (CT)
yang sudah lama berperan penting dalam mendeteksi dini penyakit selama
bertahun-tahun. Semakin berkembangnya teknologi, sehingga dapat menciptakan
generasi baru dengan CT scanner yang dapat melakukan CT angiografi koroner
(CTA) dengan mengurangi dosis radiasi pada pemeriksaan klinis secara rutin.
e.
Pemeriksaan Laboratorium.
Selain dengan CT
scan juga dapat menggunakan tes in vitro di laboratorium, melalui penggunaan
biomarker baru yang tarutama dalam perawatan darurat dapat mempengaruhi dan
mendukung keputusan klinis.
f.
Kateterisasi Jantung
Pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukkan kateter semacam selang seukuran
ujung lidi. Selang ini dimasukkan langsung ke pembuluh nadi (arteri). Bisa
melalui pangkal paha, lipatan lengan atau melalui pembuluh darah di lengan
bawah. Kateter didorong dengan tuntunan alat rontgen langsung ke muara pembuluh
koroner. Setelah tepat di lubangnya, kemudian disuntikkan cairan kontras
sehingga mengisi pembuluh koroner yang dimaksud. Setelah itu dapat dilihat
adanya penyempitan atau malahan mungkin tidak ada penyumbatan. Penyempitan atau
penyumbatan ini dapat saja mengenai beberapa tempat pada satu pembuluh koroner.
Bisa juga sekaligus mengenai beberapa pembuluh koroner. Atas dasar hasil
kateterisasi jantung ini akan dapat ditentukan penanganan lebih lanjut. Apakah apsien
cukup hanya dengan obat saja, disamping mencegah atau mengendalikan bourgeois
resiko. Atau mungkin memerlukan intervensi yang dikenal dengan balon. Banyak
juga yang menyebut dengan istilah ditiup atau balonisasi. Saat ini disamping
dibalon dapat pula dipasang stent, semacam penyangga seperti cincin atau
gorng-gorong yang berguna untuk mencegah kembalinya penyempitan. Bila tidak
mungkin dengan obat-obatan, dibalon dengan atau tanpa stent, upaya lain adalah
dengan melakukan bedah pintas koroner. (Carko, 2009)
2.8 Penatalaksaan
Jantung Koroner
a)
Farmokologi
1. Analgetik yang diberikan biasanya
golongan narkotik (morfin) diberikan secara intravena dengan pengenceran dan
diberikan secara pelan-pelan. Dosisnya awal 2,0 – 2,5 mg dapat diulangi jika
perlu
2. Nitrat dengan efek vasodilatasi
(terutama venodilatasi) akan menurunkan venous return akan menurunkan
preload yang berarti menurunkan oksigen demam. Di samping itu nitrat juga
mempunyai efek dilatasi pada arteri koroner sehingga akan meningkatakan suplai
oksigen. Nitrat dapat diberikan dengan sediaan spray atau sublingual, kemudian
dilanjutkan dengan peroral atau intravena.
3. Aspirin sebagai
antitrombotik sangat penting diberikan. Dianjurkan diberikan sesegera mungkin
(di ruang gawat darurat) karena terbukti menurunkan angka kematian.
4. Trombolitik
terapi, prinsip pengelolaan penderita infark miokard akut adalah melakukan
perbaikan aliran darah koroner secepat mungkin (Revaskularisasi /
Reperfusi).Hal ini didasari oleh proses patogenesanya, dimana terjadi penyumbatan
/ trombosis dari arteri koroner. Revaskularisasi dapat dilakukan (pada umumnya)
dengan obat-obat trombolitik seperti streptokinase, r-TPA (recombinant
tissue plasminogen ativactor complex), Urokinase, ASPAC ( anisolated
plasminogen streptokinase activator), atau Scu-PA (single-chain
urokinase-type plasminogen activator).Pemberian trombolitik terapi sangat
bermanfaat jika diberikan pada jam pertama dari serangan infark. Dan terapi ini
masih masih bermanfaat jika diberikan 12 jam dari onset serangan infark.
5. Betablocker
diberikan untuk mengurangi kontraktilitas jantung sehingga akan menurunkan
kebutuhan oksigen miokard. Di samping itu betaclocker juga mempunyai efek anti
aritmia.
b.
Non-farmakologi
1. Merubah gaya hidup, memberhentikan
kebiasaan merokok
2. Olahraga dapat meningkatkan kadar
HDL kolesterol dan memperbaiki kolateral koroner sehingga PJK dapat dikurangi,
olahraga bermanfaat karena memperbaiki fungsi paru dan pemberian O2 ke
miokard, menurunkan berat
badan sehingga lemak lemak tubuh yang berlebih berkurang bersama-sama dengan
menurunnya LDL kolesterol, menurunkan tekanan darah, meningkatkan kesegaran jasmani.
3. Diet merupakan
langkah pertama dalam penanggulangan hiperkolesterolemi.
4. Kurangi stress.
2.9
Komplikasi
Jantung Koroner
a)
Gagal Jantung Kongestif
Gagal jantung kongestif merupakan
sirkulasi akibat disfungsi miokardium.Tempat kongesti bergantung pada ventrikel
yang terlibat.Disfungsi ventrikel kiri atau gagal jantung kiri, menimbulkan
kongesti pada vena pulmonalis, sedangkan disfungsi ventrikel kanan atau gagal
jantung kanan mengakibatkan kongesti vena sistemik.Kegagalan pada kedua
ventrikel disebut kegagalan beventrikuler.Gagal jantung kiri merupakan
komplikasi yang paling sering terjadi setelah infark miokardium.Infark miokardium menggangu fungsi
miokardium karena menyebabkan menurunnya kekuatan kontraksi, menimbulkan
abnormalitas gerakan dinding dan mengubah daya kembang ruang jantung.Dengan
berkurangnya kemampuan ventrikel kiri untuk mengosongkan diri, maka besar
volume sekuncup berkurang sehingga volume sisa ventrikel meningkat.Hal ini
menyebabkan peningkatan jantung sebelah kiri. Kenaikan tekanan ini disalurkan
ke belakang ke vena pulmonalis. Bila tekanan hidrostatik dalam kapiler paru
melebihi tekanan onkotik vaskular maka terjadi proses transudasi ke dalam ruang
interstisial. Bila tekanan ini masih meningkat lagi, terjadi edema paru-paru
akibat perembesan cairan ke dalam alveoli.
b)
Syok Kordiogenik
Syok kardiogenik terjadi akibat disfungsi nyata ventrikel
sesudah mengalami infark yang pasif, biasanya mengenai dari 40% ventrikel kiri.
c) Disfungsi Otot
Papilaris
Penutupan katup mitralis selama sistolik ventrikel
bergantung pada integritas fungsional otot papilaris ventrikel kiri dan korda
tendinea. Disfungsi iskemik atau ruptur nekrotik otot papilaris akan mengganggu
fungsi katup mitralis, memungkinkan eversi daun katup ke dalam atrium selama
sistol. Inkompetensi katup mengakibatkan aliran retrograd dari ventrikel kiri
ke dalam atrium kiri dengan dua akibat: pengurangan aliran ke aorta, dan peningkatan
kongesti pada atrium kiri dan vena pulmonalis.
Komplikasi tertinggi akut infark
adalah aritmia, aritmia yang sering memberikan komplikasi adalah ventrikel
vibrilasi.Ventrikel vibrilasi 95% meninggal sebelum sampai rumah
sakit.Komplikasi ini meliputi disfungsi ventrikel kiri/gagal jantung dan
hipotensi/syok kardiogenik.
a) Komplikasi
angina pectoris :
1. Infarks
miokardium yang akut terjadi akibat aliran darah yang berisi nutrisidan oksigen
ke otot terganggu dan mengakibatkan nekrosis
2. Aritmia
kardiak me,rupakan suatu respon yang timbul akibat ada jaringanyang tidak
mendapatkan suplai darah
3. Unstable
angina terjadi karena iskemia pada otot jantung yang sudah meluassehingga nyeri
yang dirasakan akibat penimbunan asam laktat lebih seringterjadi.
4. Sudden death
; terjadi akibat kelelahan jantung yang memompa darah terusmenerus dengan
frekuensi yang tidak stabil dan diperberat oleh nekrosis otot jantung yang makin meluas.
b) Komplikasi
infark miokard akut :
Aritmia, bradikardia sinus, irama nodal, gangguan
hantaran atrioventrikular, gangguan hantaran intraventrikel, Asistolik,
takikardia sinus, kontraksi atrium prematur, takikardia supraventrikel, flutter
atrium, fibrilasi atrium, takikardia atrium multifokal, kontraksi prematur
ventrikel, takikardia ventrikel, takikardia idioventrikel, renjatan kardogenik,
tromboembolisme, perikarditis, Aneurisme ventrikel, regurgitasi mitral akut,
ruptur jantung dan septum.
2.10PencegahanPenyakit Jantung
Koroner
Upaya
pencegahan untuk menghindari penyakit jantung dan stroke dimulai dengan
memperbaiki gaya hidup dan mengendalikan faktor risiko sehingga mengurangi
peluang terkena penyakit tersebut. Untuk pencegahan penyakit jantung &
stroke hindari obesitas/kegemukan dan kolesterol tinggi.Mulailah dengan
mengkonsumsi lebih banyak sayuran, buah-buahan, padi-padian, makanan berserat
lainnya dan ikan.Kurangi daging, makanan kecil (cemilan), dan makanan yang
berkalori tinggi dan banyak mengandung lemak jenuh lainnya.Makanan yang banyak
mengandung kolesterol tertimbun dalam dinding pembuluh darah dan menyebabkan
aterosklerosis yang menjadi pemicu penyakit jantung dan stroke.
1. Menghentikan
kebiasaan merokok
Penelitian
ilmiah membuktikan bahwa rokok menyebabkan kanker, penyakit jantung khususnya
penyakit jantung koroner, gangguan kehamilan dan janin. Menurut statistic
Indonesia setiap tahun terdapat 57.000
kematian karena merokok (sujudi, A, 1997). Penelitian yang di lakukan oleh wake
forest university (WFU) north Carolina, AS, menyatrakan bahwa rokok menyebabkan
atherosclerosis yang berakibat penyempitan pembuluh darah koroner yang pada
gilirannya berakibat pada manifestasi penyakit jantung koroner. Penyakit
atherosclerosis sebagai dampak merokok merupakan kematian terbesar di amerika
serikat.
2. Menjaga
tekanan darah supaya tetap normal
Bila
tekanan darah meninggi dan tidak terkendali akan membebani kerja jantung,
otot-otot jantung lama kelamaan mengalami pembesaran (dilatasi)hal ini dapat di
lihat pada pemeriksaan medic fisik dan radiologis, organ jantung tampak
membesar pada penderita penyakit darah tinggi. Selain dari pembesaran organ
jantung pada umumnya di sertai disfungsi pembuluh darah koroner.
3. Menjaga
kadar kolesterol darah ataupun trigliserid supaya tetap normal.
Mengkonsumsi
makanan yang halal dan yang baik serta tidak berlebih-lebihan terutama makanan
yang mengandung kolesterol yang amat dianjurkan guna menghindari penyakit
jantung koroner. Kadar kolesterol dan trigli serid yang tinggi serta tidak
terkendali akan mengakibatkan penyempitan pembuluh darah koroner, yang pada gilirannya
menjelma menjadi penyakit jantung koroner.
4. Melakukan
kegiatan olahrga secara teratur.
Aktivitas
olahraga secara teratur sangat baik untuk melatih jantung.Selain daripada itu
olahraga juga dapat meraangsang pembentukan pembuluh darah koroner kolateral
yang dapat mengkompensasi bila terjadi gangguan pada pembuluh darah koroner.
5. Menjaga
berat badan supaya tetap ideal.
Bila
berat badan berlebihan akan membebani kerja jantung. Sebab besarnya jantung
hanya sebsar kepalan tangan, sehingga jantung akan bekerja ekstra keras untuk
memompa darah ke seluruh tubuh, apabila tubuh seseorang itu kegemukan.
6. Bila
ada diabetes militus dijaga supaya gula darah tetap terkontrol.
Meskipun
penyakit kencing manis ada yang mengatakan tidak dapat diobati namun
sesungguhnya penyakit ini dapat dikendalikan sehingga resiko penyakit jantung
koroner dapat ditekan seminimal mungkin.
7. Mengurangi
stress psikologis
Telah
diutarakan di muka bahwa stress, cemas dan depresi meupakan faktor resiko bagi
terjadinya penyakit jantung koroner. Oleh karena itu hendaknya hidup ini
relative bebas dari stress, cemas dan atau depresi, agar resiko terjadinya
penyakit jantung koroner dapat diperkecil seminimal mungkin.
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN JANTUNG
KORONER
3.1. PENGKAJIAN
1.
IDENTITAS KLIEN
Nama : No. RM :
Usia : Tgl masuk :
Jenis kelamin :
Alamat :
Pekerjaan :
Agama :
2. RIWAYAT KESEHATAN
a.
Riwayat Kesehatan Dahulu
Pasien memiliki riwayat faktor-faktor penyebab seperti :
hipertensi, penyakit katub, penyakit jantung bawaan, infark miokard, bedah
jantung, endokarditis, SLE, anemia, syok septik, kelainan pada otot jantung,
aterosklerosis koroner, peradangan dan penyakit miokardium, degeneratif atau
tidak.
b.
Riwayat Kesehatan Sekarang
Pasien
mengatakan adanya batuk,nafas pendek, pusing, konfusi, kelelahan/keletihan,
tidak toleran terhadap latihan dan panas, ekstremitas dingin, urin berkurang,
denyut jantung cepat, dispneu, kegelisahan dan kecemasan, adanya udem,
hilangnya selera makan, nokturia, insomnia, nyeri dada saat aktivitas,
penurunan berkemih, diare/konstipasi, mual muntah, pakaian / sepatu terasa
sesak, nyeri pada abdomen kanan atas, sakit pada otot, batuk dengan atau tanpa
sputum, tidur sambil duduk atau dengan beberapa bantal, TD rendah, tekanan nadi
sempit, takikardi, disritmia, Bunyi jantung D3&S4, Murmur
sistolik&Diastolik, Sianotik.
c.
Riwayat Kesehatan Keluarga
Adanya riwayat penyakit jantung pada keluarga.
3. PEMERIKSAAN FISIK
a) Keadaan umum
Pengkajian keadaan umum meliputi kesan secara umum
pada keadaan sakit termasuk ekspresi wajah (cemberut, grimace, lemas), dan
posisi pasien.Kesadaran yang meliputi penilaian secara kualitatif
(komposmentis, apatis, somnolen, sopor, soporokoma, koma) dapat juga
menggunakan GCS.Lihat juga keadaan status gizi secara umum (kurus, ideal,
kelebihan berat badan).
b)
Pemeriksaa tanda-tanda vital
Pemeriksaan tanda-tanda vital meliputi pemeriksaan
tekanan darah, nadi (frekuensi, kualitas, irama), pernapasan (frekuensi,
kedalaman, irama pola pernapasan), suhu tubuh, skala nyeri.
c)
Pemeriksaan kulit, rambut dan
kelenjar getah bening
Kulit meliputi warna (adanya pigmentasi, sianosis,
ikterus, pucat, eritema), turgor, kelembaban edema, bekas luka dll.Rambut dapat dinilai dari warna, kelebatan, distribusi, bau
keadaan, kusut dan kering dll.
Kelenjar getah bening dapat dinilai dari bentuknya
serta tanda-tanda radang yang ada di daerah sevikal anterior, inguinal
oksipital dan retroaurikular.
d)
Pemeriksaan kepala dan leher
1.
Periksa bentuk dan ukuran kepala,
rambut dan kepala, ubun-ubun ( fontenal), struktur wajah (simetris atau tidak),
ada tidaknya pembengkakan, dll.
2.
Pada mata dapat dilihatdari visus,
palpebra, alis bulu mata, konjungtiva, sklera, kornea, pupil dan lensa.dll
3.
Pada telinga dapat dilihat dari daun
telinga, liang telinga, membran timpani, mastoid, ketajaman pendengaran.dll
4.
Hidung dan mulut, ada atau tidaknya
trismus (kesukaran membuka mulut), bibir, gusi atau tidaknya tanda radang,
perdarahan lidah, salvias, faring, laring dll.
5.
Periksa ada atau tidaknya kaku
kuduk, massa di leher (jika ada periksa ukuran, bentuk, posisi, konsistensi)
dan ada atau tidaknya nyeri telan dll.
e)
Pemeriksaan dada
Pemeriksaan dada meliputi organ paru dan
jantung.Secara umum periksa bentuk dada dan keadaan paru (simetris atau tidak),
pergerakan napas, ada atau tidaknya fremitus suara, krepitasi, perkusi daerah
dada untuk menentukan batas kelainan, dan auskultasi untuk menentukan
abnormalitas sistem pernapasan.Pada saat pemeriksaan jantung, periksa denyut
apeks 9dikenal dengan iktus kordis) dan aktivitas ventrikel, getaran bising
(thrill) bunyi jantung tambahan atau bising jantung dll.
f)
Pemeriksaan abdomen
Data yang dikumpulkan antara lain adalah ukuran atau
bentuk perut, dinding perut, bising usus, adanya ketegangan dinding perut, atau
adanya nyeri tekan. Selanjutnya lakukan palpasi pada organ hati, limpa, ginjal,
kandung kencing untuk memeriksa ada aau tidaknya nyeri dan pembesaran pada
organ tersebut. Kemudian periksa anus, rektum dan genetalia.
g)
Pemeriksaan ekstremitas dan
neurologis
Pemeriksaan anggota gerak ini meliputi adanya rentang
gerak, keseimbangan dan gaya berjalan, genggam tangan, dan otot kaki.Periksa
apakah ada kontraktur atau tidak dll.Kemudian, pada pemeriksaan neurologis
periksa tanda-tanda gangguan neurologis seperti kejang, tremor, parese, dan
paralisis, pemeriksaan reflek, kaku kuduk, pemeriksaan brudzinzki, dan tanda
keming ( hambatan atau rasa sakit daerah ekstremitas bawah ketika dilakukan
flesksi), uji kekuatan otot tonus, periksa sarah otak dll.
4. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Kultur
darah: identifikasi orgenisme penyebab.
b. ESR:
meningkat sebagai proses inflamasi.
c. Leukosit:
15.000 mm3-20.000
mm3.
d. Echo
cardiograf: dipakai mendeteksi compilkasi intra cardial terutama melihat
elatasi atau hipertropi atrium maupun ventrikel yang progresif.
e. ECG:
mendeteksi adanya infarct yang tersembunyi disebabkan emboli.
f. Thorax
foto: melihat adanya tanda-tanda gagal jantung kongestif, cardiomegali.
3.2
DIAGNOSA GAGAL JANTUNG.
|
No
|
Diagnosa
Keperawatan
|
NOC
|
NIC
|
|
1.
|
Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer yang berhubungan
dengan gaya hidup kurang gerak yang dibuktikan oleh perubahan tekanan darah
diekstremitas.
|
Setelah
dilakukan pemeriksaan 3 kali 24 jam ditemukan kriteria hasil:
a. Tekanan
darah sistolik (5)
b. Tekanan
darah distolik (5)
a. Kecepatan
gerakan (4)
b. Kontraksi
kekuatan otot (5)
a. Nilai
rata-rata tekanan darah (5)
b. Suhu
kulit ujung kaki dan tangan (5)
|
Monitor tanda-tanda vital
25. Periksa
secara berkala kakutan instrumen yang digunakan untuk perolehan data pasien
|
|
2.
|
Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan
perubahan frekuensi jantung yang dibuktikan oleh takikardia.
|
Setelah dilakukan pemeriksaan selama 3 kali 24 jam
ditemukan kriteria hasil:
a. denyut
nadi perifer (5)
b. tekanan
vena sentral (5)
a. nilai
rata-rata tekanan darah(5)
b. indeks
jantung (5)
a. suhu
tubuh (5)
b. tekanan
nadi (5)
|
Manajemen elektrolit hipernatremia
|
|
3.
|
Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan
ketidakseimbangan ventilasi perfusi yang dibuktikan oleh dispneu.
|
Setelah
dilakukan pemeriksaan 3 kali 24 jam ditemukan kriteria hasil:
a.
Penurunan serum kalisum.(5)
b.
Peningkatan serum magnesium. (5)
a.
Irama pernafasan (5)
b.
Frekuensi pernafasan. (5)
a. Suhu
tubuh (5)
b. Irama
jantung apical (5)
|
Pengurangan kecemasan
|
|
4.
|
Intoleransi aktifitas yang berhubungan dengan
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen yang dibuktikan oleh
respons frekuensi jantung abnormal terhadap aktifitas.
|
Setelah dilakukan pemeriksaan 3 kali 24 jam ditemukan kriteria hasil:
a. frekuensi
pernafasan (5)
b. irama
pernafasan (5)
a. sesak
nafas (5)
b. otot
pegal (5)
a. denyut
jantung apikal (5)
b.
irama jantung apikal (5)
|
Manajemen jalan nafas
|
|
5.
|
Kelebihan volume cairan yang berhubungan dengan asupan
cairan yang dibuktikan oleh edema.
|
Setelah
dilakukan pemeriksaan 3 kali 24 jam:
a. Suhu
tubuh (5)
b. Irama
jantung apical (5)
a. Penurunan
serum korida (5)
b. Penigkatan
serum magnesium. (5)
3. Berat
badan: massa tubuh
a. Berat
badan (5)
b.
Persentase lemak tubuh (5)
|
Sampel darah kapiler.
|
3.3 Implementasi keperawatan:
Mengubah kata perintah dari
intervensi keperawatan menjadi kata kerja.
3.4
Evaluasi
Hasil yang diharapkan:
a.
Frekuensi pernafasan
pasien kembali normal
b.
Irama pernafasan pasien
kembali normal
c.
TTV pasien kembali
normal
d.
Kebugaran fisik pasien kembali
normal
e.
Perilaku merokok pasien
sudah teratasi
f.
Pengetahuan pasien
terhadap proses penyakit sudah teratasi
g.
Koordinasi pergerakan
pasien sudah kembali normal
S: pasien mengatakan nyeri pada dada
berkurang.
O: TD 130/90, skala nyeri 0, frekuensi jantung
membaik.
A: masalah dapat teratasi.
P: mengizinkan pasien pulang.
DAFTAR PUSTAKA
A.Muin Rahman. “Penyakit Jantung
Koroner Kronik. Manifestasi Klinis dan Prinsip Penatalaksanaan”.Hal. 1091
Kusmana, Dede
1996. “Pencagahan dan Rehabilitas Penyakit Jantung Koroner” Jurnal Kardiologi. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Hal.106Drs. Tan Hoan Tjay dan Drs. Rahadja Kirana. 2007.
“Obat-obat Penting” Edisi VI.Jakarta, Elex Media Komputindo. Hal.528
Mansjoe, Arif dkk.2001.“Kapita Selekta
Kedokteran”. Edisi III, Jakarta, Media Aesculapius, Hal. 437
A. Price, Sylvia dan Lorraine M,
Wilson.2005. “Patofisiologi Konsep Klinis, Proses-proses, dan Penyakit”
Edisi 6. Jakarta. EGC. Hal. 576
Komentar
Posting Komentar