Perencanaan ASKEP

MAKALAH KONSEP DASAR KEPERAWATAN II (KDK II)
KONSEP PROSES KEPERAWATAN PERENCANAAN ASKEP

Dosen Pengampu:
Alvin Abdillah, S.Kep., Ns. M.A.P.
Disusun Oleh:
Kelompok 5

Ainul Yaqin                           (16142010045)
Deva Musarrofah                  (16142010055)
Noer Iqbal  Wahyu S.           (16142010073)
Rikayatul Huda                     (16142010075)
Yuliani Firdaus                     (16142010087)
                                                                                                        


PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NGUDIA HUSADA MADURA
2017/2018

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT. Robbal-‘izzati karena Dia-lah Tuhan yang Maha Pengasih yang kasih-Nya tak pernah terbilang. Berkat kasih sayang-Nya jualah penulis mampu merampungkan karya sederhana yang kini berada dalam genggaman para pembaca yang budiman.
Di era globalisasi saat ini,  segala teknologi canggih telah berkembang untuk memberikan kemudahan bagi manusia dlam memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Pola hidup masyarakat yang  menginginkan kemudahan, efisiensi dan efektifitas dalam segala hal harus ditunjang oleh ketersediaansumber daya alam dan sumber daya manusia yang memadai. Untuk itu semua profesi dituntut untuk senantiasa mengembangkan dan membenah diri agar dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan kebutuhan masyarakat, termasuk profesi perawat.
Meskipun telah berusaha untuk menghindarkan kesalahan, kami menyadari juga bahwa makalah ini masih mempunyai kelemahan sebagai kekurangannya. Karena itu, kami berharap agar pembaca berkenan menyampaikan kritikan. Dengan segala pengharapan dan keterbukaan, kami menyampaikan rasa terima kasih dengan setulus-tulusnya. Akhir kata, kami berharap agar makalah ini dapat membawa manfaat kepada pembaca.


Bangkalan, 22-02- 2017

Kelompok 5
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB 1 : PENDAHULUAN
1.1.       Latar Belakang........................................................................................... 3
1.2.       Rumusan Masalah...................................................................................... 4
1.3.       Tujuan........................................................................................................ 4
1.4.       Manfaat...................................................................................................... 5

BAB 2 : PEMBAHASAN
2.1         Definisi PerencanaanAsuhan Keperawatan............................................... 6
2.2         Tujuan Perencanaan................................................................................... 7
2.3         Pentingnya Dokumentasi Perencanaan...................................................... 8
2.4         Tipe Rencana Intervensi............................................................................ 8
2.5         Komponen Rencana Intervensi................................................................ 11
2.6         Langkah-langkah perencanaan ................................................................ 16
2.7         Perencanaan Dengan Intervensi NIC Dan NOC .................................... 20
2.8         Tipe Dokumentasi Rencana Tindakan .................................................... 23
2.9         Prinsip & Pedoman Penulisan Rencana Tindakan .................................. 24
2.10     Metode Dokumentasi Rencana Tindakan ............................................... 24
2.11     Petunjuk Penulisan Rencana Tindakan Keperawatan Yang Efektif ...... 25

BAB3 : PENUTUP
3.1.       Kesimpulan.............................................................................................. 27
3.2.       Saran........................................................................................................ 27

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.        LATAR BELAKANG
Proses keperawatan sebagai alat bagi perawat untuk melaksanakan asuhan keperawatan yang dilakukan pada pasien memiliki arti penting bagi kedua belah pihak yaitu perawat dan klien.
Sebagai seorang perawat proses keperawatan dapat digunakan sebagai pedoman dalam pemecahan masalah klien, dapat menunjukkan profesi yang memiliki profesionalitas yang tinggi, serta dapat memberikan kebebasan kepada klien untuk mendapatkan pelayanan yang cukup sesuai dengan kebutuhannya, sehingga dapat dirasakan manfaatnya baik dari perawat maupun klien, manfaat tersebut antara lain dapat meningkatkan kemandirian pada perawat dalam melaksanakan tugasnya karena didalam proses keperawatan terdapat metode ilmiah keperawatan yang berupa langkah-langkah proses keperawatan, akan dapat meningkatkan kepercayaan diri perawat dalam melaksanakan tugas.
Karenaklien akan merasakan kepuasan setelah dilakukan asuhan keperawatan dengan pendekatan proses keperawatan, akan dapat selalu meningkatkan kemampuan intelektual dan teknikal dalam tindakan keperawatan karena melalui proses keperawatan dituntut mampu memecahkan masalah yang baru sesuai dengan masalah yang dialami klien, sehingga akan timbul perasaan akan kepuasan kerja. Dengan proses keperawatan, rasa tanggung jawab dan tanggung gugat bagi perawat itu dapat dimiliki dan dapat digunakan dalam tindakan-tindakan yang merugikan atau menghindari adanya tindakan yang legal.






1.2.       RUMUSAN MASALAH
1.        Apa definisiperencaan Askep?
2.        Apa pentingnya dokumentasi perencaan Askep?
3.        Bagaimanakonsepperencanaankeperawatandanbentukpendokumentasiannya ?
4.        Bagaimana petunjuk penulisan rencana tindakan keperawatan yang efektif?

1.3.       TUJUAN
a.       Tujuan Umum
Mampu mendapatkan informasi secara lengkap dan runtut tentang perencanaan Askep.
b.      Tujuan Khusus
1.        Dapat menyajikan informasi dengan sistematis tentang perencanaan Askep.
2.        Mampu memahami hasil  diskusi kelompok  dan menyampaikan dalam forum tentang perencanaan Askep.
3.        Mampu untuk berdiskusi tentang perencanaan Askep
4.        Mampu untuk menganalisa kasus yang telah diberikan dan mencari penyelesaian tentang perencanaan Askep.

1.4.       MANFAAT
1.        Dapat meningkatkan konsentrasi melalui kegiatan berdiskusi.
2.        Dapat mendengarkan dan menerima usulan dari anggota kelompok ataupun anggota dari kelompok lain tentang apa yang telah didiskusikan.
3.        Dapat menyimpulkan hasil dari apayang telah didiskusikan.
4.        Mampu untuk berfikir kritis melalui kegiatan berdiskusi.
5.        Saling menghargai antar anggota kelompok ataupun dari anggota kelompok lain melalui kegitan berdiskusi.
6.        Mampu menuangkan dan menyampaikan pendapat tentang apa yang telah didiskusikan.
7.        Mampu bekerja sama dengan anggota kelompok ataupun anggota kelompok  lain melalui kegiatan berdiskusi.
8.        Mampu menciptakan jiwa leadership melaluikegiatan berdiskusi.


BAB 2
PEMBAHASAN

2.1.       DEFINISI PERENCANAAN ASKEP
Rencana asuhan keperawatan merupakan alat  untuk mendokumentasikan dan mengomunikasikan diagnosis  keperawatan klien, kriteria hasil, strategi, intervensi keperawatan, dan evaluasi. Contoh : (Paula,2009)

Tanggal
Diagnosis keperawatan
Kriteria hasil
Intervensi  keperawatan
evaluasi






Rencana asuhan berfungsi sebagai sarana utama untuk meningkatkan pendekatan asuhan keperawatan yang individual dan konsisten. Melalui dokumentasi masalah utama klien dan melalui rencana untuk mengurangi atau memodifikasi masalah, perawat memfasilitasi koordinasi seluruh anggota tim tim perawat kesehatan. Jika rencana tertulis berdasarkan panduan yang dianjurkan maka tujuan jangka panjang dan jangka pendek memberikan arahan perawatan yang diinginkan dan menjadi landasan akhir evaluasi. Selain itu, strategi dan intervensi keperawatan memandu dan mengoordinasi klien, perawat, dan individu lain dalam tindakan mereka untuk meningkatkan pencapaian hasil. Rencana asuhan yang lengkap perlu digunakan untuk memnuhi tujuan ini. Rencana yang disusun dengan baik trial and error yang menghabiskan banyak waktu, menghindari duplikasi upaya, dan menurunkan kegagalan perawatan yang mahal dan membutuhkan banyak waktu.
Perawat profesional bertanggung  jawab dan dapat diandalkan untuk menyusun rencna asuhan keperawatan. Idealnya, perawat primer, manajer kasus, atau perawat yang bertanggung jawab terhadap perawatan yang bersinambungan melengkapi rencana asuhan klien. Banyak implikasi yang dibuat dalam menusun suatu rencana. Pengkajian yang akurat dan multiforal adalah landasan rencana yang penting. Diagnosis keperawatanberkembang dari analisis dan sintesis data, yang membutuhkan dasar pengetahuan yang komperehensif dankemampuan berpikir kritis. Diagnosis diurutkan berdasarkan prioritas intervensi, tujuan jangka  panjang, yang ditetapkan, tujuan  jangka pendek yang disusun, strategi yang diidentifikasi, dan intervensi keperawatan yang diuraikan dengan menggunakan rsional ilmiah.  Anggotatim lainnya dapat memberikan input dan umpan balik mengenai pendekatan kepada klien, tetapi perawat profesional bertanggung jawab terhadap penyusunan asuhan keperawatan tersebut.
Asuhan keperawatan dimulai pada  permulaan layanan keprawatan. Setelah pengkajian awal stuasi klien sudah lengkap, perawat mengonsolidasikan informasi tersebut untuk digunakan saat ini atau atau dimasa mendatang.

2.2.       TUJUANPERENCANAAN ASKEP
Rencana asuhan keperawatan mempunyai dua tujuan, yaitu tujuan administrasi dan tujuan klinik (Carpenito,2000). Penjelasan tentang tujuan–tujuan rencana asuhan keperawatan tersebut adalah sebagai berikut.
a.       Tujuan administratif
1.      Mengidentifikasi fokus keperawatan : klien (individu) atau kelompok
2.      Membedakan tanggung jawab perawat dengan profesi kesehatan lainnya.
3.      Menyususn kriteria guna pengulangan asuhan keperawatan dan evaluasi keberhasilan asuhan keperawatan.
4.      Menyediakan kriteria klasifikasi klien.

b.      Tujuan klinik
1.         Menjadi suatu pedoman dalam penulisan
2.         Mengomunikasikan asuhan keperawatan yang akan diimplementasikan dengan perawat lainnya seperti apa yang akan diajarkan, apa yang harus diobservasi, dan apa yang akan dilaksanakan.
3.         Menyusun kriteria hasil (outcomes) guna pengulangan asuhan keperawatan dan evaluasi keberhasila asuhan keperawatan.
4.         Rencana intervensi yang spesifik dan langsung bagi perawat untuk melaksanakan intervensi kepada klien (individu) dan keluarganya.

2.3.       PENTINGNYA DOKUMENTASI PERENCANAAN ASKEP
Dokumentasi perencanaan keperawatan merupakan catatan tentang penyusunan “Rencana Tindakan Keperawatan” yang hendak dilakukan. Hal ini dilakukan untuk menanggulangi masalah dengan mencegah., mengurangi, dan menghilangkan masalah.  Selain itu, untuk memberikan kesempatan pada perawat, klien, keluarga, serta orang terdekat dalam merumuskan rencana tindakan.

2.4.       TIPE RENCANA INTERVENSI
Terdapat tiga intervensi keperawatan yaitu intervensi yang di prakarsai oleh perawat, dokter, dan intervensi kolaboratif. Kategori pemilihan di dasarkan pada kebutuhan klien. Satu klien mungkin saja membutuhkan semua dari kerja kategori, sementara klien lainnya mungkin hanya membutuhkan intervensi yang diprakarsai oleh perawat dan dokter.
a.         Intervensi Perawat
Intervensi perawat adalah respon perawat tehadap kebutuhanperawatan kesehatan dan diagnosa keperawatan klien. Tipe intervensi ini adalah “Suatu tindakan autonomi berdasarkan rasional ilmiah yang dilakukan untuk kepentingan klien dalam cara yang diprediksi yang berhubungan dengan diagnosa keperawatan dan tujuan klien (Bulechek & McCloskey, 1994).
Intervensi ini tidak membutuhkan supervisi atau arahan dari orang lain. Sebagai contoh, intervensi untuk meningkatkan pngetahuan klien tentang aktifitas kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan hygiene adalah tindakan keperawatan mandiri.
Intervensi perawat tidak membutuhkan instruksi dokter atau lainnya. Dokter seringkali dalam instruksi tertulisnya mencakup intervensi keperawatan mandiri. Namun demikian berdasarkan undang-undang praktik keperawatan di sebagian besar negara bagian, tindakan keperawatan yang berkaitan dengan aktifitas kehidupan sehari-hari, penyuluhan kesehatan, promosi kesehatan, dan konseling berada dalam domain praktik keperawatan.

b.      Intervensi Dokter
Intervensi dokter didasarkan pada respon terhadap diagnosa medis dan 0perawat menyelesaikan instruksi tertulis dokter (Bulechek & McCloskey, 1994). Memberikan medikasi, mengimplementasikan suatu prosedur invasif, menggant balutan dan menyiapkan klien untuk pemeriksaan diagnostik adalah contoh-contoh dari intervensi tersebut.
Intervensi tidak selalu berada dalam praktik legal keperawatan bagi perawat untuk meresepkan atau menginstruksikan tindakan ini, tetapi intervensi tersebut berada dalam praktik keperawatan bagi perawat untuk menyelesaikan instruksi tersebut dan untuk mengkhususkan pendekatan tindakan.
Sebagai contoh, dokter menginstruksikan untuk mengganti balutan 2x sehari, medikasi intravena setiap enam jam, dan pemindaian tulang untuk Tn. X. Perawat meamadukan setiap instruksi ini ke dalam rencana perawatan Tn.X sehingga instruksi ini diselesaikan secara aman dan efisien.
Setiap intervensi dokter membutuhkan tanggung jawab keperawatan spesifik dan pengetahuan keperawatan teknik spesifik. Ketika memberikan obat-obatan, perawat bertanggung jawab untuk mengetahui klasifikasi dari obat, kerja fisiologinya, dosis normal, efek samping, dan intervensi keperawatan yang berhubungan dengan kerja obat atau efek sampingnya. Intevensi keperawatan yang berkaitan dengan pemberian medikasi bergantung pada instruksi tertulis dokter.
                                                                                               
c.         Intervensi Kolaboratif
Intervensi kolaboratif adalah terapi yang membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan keahlian dari berbagai profesional perawatan kesehatan.
Jadi, intervensi perawat, intervensi dokter, dan intervensi kolaboratif membutuhkan penilaian keperawatan yang kritis dan pembuatan keputusan. Ketika menghadapi intervensi dokter atau intervensi kolaboratif, perawat tidak secara otomatis mengimplementasikan terapi, tetapi harus menentukan apakah intervensi yang diminta sesuai untuk klien.
Menurut Carpenito dan Moyet (2007) , ada dua tipe intervensi keperawatan :Intervensi perawat yaitu intervensi yang dibuat oleh perawat dan akan dilaksanakan oleh tim perawat lain.
Intervensi medis / intervensi delegasi yaitu intervensi yang dibuat oleh medis/perawat senior dan akan dilaksanakan oleh perawat lain. Instruksi dokter bukan meupakan instruksi untuk perawat, melainkan untuk klien yang akan dibantu oleh perawat jika ada indikasi.
Sedangkan menurut Potter dan Perry (2006) ada tipe intervensi keperawatan :
Intervensi perawat adalah respons perawat terhadap kebutuhan klien terhadap perawatan kesehatan dan diagnosis keperawatan. Tindakan memiliki otonomi yang berdasarkan pada rasional ilmiah. Intervensi ini tidak membutuhkan instruksi dokter atau profesi.



2.5.       KOMPONEN RENCANA TINDAKAN
          Komponen rencana tindakan keperawatan ada beberapa hal pentingyang harusdiperhatikan, yaitu: diagnosa keperawatan, criteria hasil, strategi, dan rencana intervensi keperawatan.
1.        Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan harus merupakan prioritas utama untuk merawat klien. Hal tersebut harus menyangkut langsung kearah situasi yang mengancam kehidupan klien.
2.        KriteriaHasil
Setiap diagnosa keperawatan harus mempunyai sedikitnya satu kriteria hasil. Kriteria hasil dapat diukur dengan tujuan yang diharapkan yang mencerminkan masalah klien.
3.      Strategi
Bagianpenting dari komponen keperawatan adalah pemilihan strategi. Seperti yang sudah didiskusikan, starategi adalah keseluruhan metode atau pendekatan yang memberikan panduan untuk intervensi keperawatan individu. Strategi berasal dari disiplin ilmu dan praktik, termasuk psikoliogi, sosiologi, pendidikan, dan keperawatan.
a.       Identifikasi strategi utama untuk implementasi.
b.      Startegi sesuai dengan kriteria hasil.
c.       Strategi didasarkan pada rasional yang ilmiah.
d.      Strategi ditentukan bersama-bersama dengan klien.
4.        Intrervensi keperawatan
Intervensi keperawatan adalah perilaku yang diprogramkan yang sifatnya tersendiri yang berasal dari strategi yang teridentifikasi dan mengarah pada hasil klien yang dapat  diprediksi. Klien dan perawat dilibatkan dalam  tindakan, bersama-sama dengan kebutuhan lain untuk mencapai hasil yang diinginkan. Intervensi keperawatan yaitu sebagai berikut :

1.         Intervensi keperawatan sesuai dengan masing-masing hasil dan strateginya. Sifat tujuan tujuanjangka pnjang dan tujuan jangka pendek menentukan sifat intervensi. Intervensi mencerminkan pemeliharaan, peningkatan dan, dan pemulihan kesehatan, yang bergantung pada fokus darihasil yang diinginkan.
Contoh
Pemeliharaan: Balik klien setiap 2 jam selama siang dan malam hari, yang mempertahankan kesejajaran tubuh klien yang benar.
Peningkatan:     Ajarkan klien pola nutrisi dasar, dengan menjelaskan piramida pedoman makanan menggunakan pamflet dangambar, gunakan ahli diet dan ahli  nutrisi sebagai narasumber.
Pemulihan:        Bantu klien dengan latihan rentang pergerakan sendi kaki dan  tangan yang mengalami gangguan selama 2 jam pada siang hari; pertahankan tungkai dalam posisi anatomis dan dalam kegarisan yang baik sepanjang malam dengan menggunakan bantal dan bidai.
2.      Prinsip ilmiah dan praktik memberikan rasional untuk intervensi. Teori, konsep, model, dan prinsip adalah dasar ilmiah untuk intervensi keperawatan. Literatur dan temuan penelitian terbaru dan keperawatan dan disiplin lain memberikan  arahan bagi tindakan. Perawat perlu memiliki dasar pengetahuan ilmiah yang luas untuk membenarkan variasi intervensi keperawatan yang luas.
3.      Intervensi keperawatan memadukan otonami dan individualitas klien. Keunikan individu ditunjukkan dalan intervensi keperawatan. Berdasarkan pengkajian yang komprehensif dan multifokal,perawat harus mengidentifikasi kekuatan, keterbatasan,  dan sumber internal dan eksternal klien. Informasi ini membantu perawat memutuskan apa  yang realistis yang diharapkan dari klien. Perawat menolong partisipasi dan tanggung jawab klien untuk meningkatkan rasa kendali personal danharga  diri mereka. Akan tetapi,  kekuatan klien menentukan tingkat partsipasi dan jumlah tanggung jawab yang dapat diharapkan. Sebagai contoh, tingkat kognitif klien menentukan banyaknya materi dan cara perawat menyampaikan informasi dalam situasi belajar. Aspek budaya danperkembangan juga dipertimbangkan dalam menguraikan intervensi keperawatan. Informasi historis  terkait pola perilaku memberikan arahan untuk mengidividualkan pendekatan asuhan.
4.      Intervensi keperawatan menunjukkan perilaku  khusus yang diinginkan, yang memberikanarahan bagi perawat, klien, dan yang lain. Intervensi keperawatan adalah pernyataan detail mengenai siapa  yang akanmelakukan apa  dan kapan  (dalam kerangka waktu tertentu). Setiap intervensi keperawatan mencakup subjek, kata kerja, dan kondisi atau kriteria penyelesaian. Setiap intervensi menunjukkan tanggal implementasi  yang diperkirakan.
Contoh
Intervensi keperawatan khusus rujukan :
Klien akan menggunakan walker untuk ambulasi sepanjang 150 cm empat kali sehari, mulai tanggal 7/2/94.
Perawat akan menemani klien selama ambulasi untuk  memberikan dukungan verbal dan memantau keamanan serta respons terhadapambulasi.
5.      Intervensi keperawatan mencerminkan pertimbangan terhadap sumber daya manusia, waktu, dan material yang tersedia. Pengkajian sumberdaya yang tersedia penting dilakukan sebelum menguraikan intervensi keperawatan. Seperti menilai  prioritas, banyak variabel dipertimbangkan untuk menentukan sarana yang realistis guna  pencapaian kriteria hasil klien. Prawat mmprtimbangkan sumber daya manusia, atau orang-orang dapat berpartisipasi dalam perawatan klien. Jumlah dan tipe  layanan, pekerja, staf, dan anggota keluarga serta kualifikasi dan keahlian meerka dianalisis. Selain itu, kemampuan, motivasi, dan kesediaan untuk terlibat juga akan terus memengaruhi.
6.      Intervensi keperawatan diberi nomor dengan urutan yang sesuai untuk  mencapai tujuan jangka pendek. Pengurutan daftar interverensi keperawatan yang dianjurkan memberikan arahan bagi perawat, klien, dan staf  lainnya. Serupa dengan pengurutan tujuan jangka pendek yang sesuai untuk  mencapai tujuan jangka panjang, intervensi keperawatan harus berurutan guna mencapai setiap tujuan jangka pendeknya. Urutan ini digukan oleh perawat untuk meninjau kemajuan klien guna mencapai kriteria hasil.
7.      Intervensi keperawatan diberi tanggal dan mencantumkan tanda tangan perawat yang bertanggung jawab. Pemberian tanggal pada intervensi keperawatansaat menulis memberikan perawat dan staf lainnya acuan tindakan yang ditetapkan. Perawat menggunakan tanggal saat meninjau ulang, memodifikasi, memperbarui, dan mengevaluasi efektifitas dan sifat  intervensi keperawatan yang realistis. Penghentian intervensi tertentudan dimulainya intervensi lain didasarkan pada  ada atau tidak adanya kemajuan dalam pencapaian hasil. Dengan kapan menggunakan intervensi dimulai, perawat menentukan apakah pendekatan yang disebutkan memiliki waktu yang cukup untuk memengaruhi perubahan.
8.      Intervensi keperawatan dijaga agar  tetap sesuai dengan kondisi terbaru dan  diperbaiki jika diperlukan. Intervensi keperawatan mencerminkan masalah,  kekuatan, dan keterbatasan klien pada waktu dan situasi tertentu. Karena kesehatan adalah suatu pola perilaku dan fungsi dinamis, pola iini memang dapat dan memang berubah. Perawat peka terhadap perubahan-perubahan tersebut melalui pengkajian dan evaluasi berkelanjutan terhadap situasi dan kemajuan klien. Perawat mengetahui saat intervensi tertentu tidak lagi sesuai dan perbaikan dibutuhkan. Hal ini dapat terjadi sebelum pencapaian yang diinginkan dari kriteria hasil. Tuntutan perbaikan intervensi tidak perlu mencerminkan validitas intervensi asli atau intervensi praktisi. Banyak variabel yang memengaruhi klien; beberapa diantisipasi dan diharapkan, dan lainnya tidak. Melalui evaluasi dan refleksi-diri, perawat menentukan apakan variabel tersebut yang menyebabkan perubahan situasi telah (atau sudah) diprediksikan. Pengkajian mendalam terhadap komponen proses keperawatan sebelumnya dapat menjelaskan perubahan dan urutan kebutuhan untuk memodifikasi intervensi.
9.      Intervensi keperawatan mencantumkan rencana terminasi layanan keperawatan. Rencana terminasi layanan keperawata dimasukkan ke dalam hasil peningkatan, pemeliharaan, dan pemulihan klien. Dari permukaan layanan, perawat dan klien mempertimbangkan kerangka waktu untuk pencapaian kriteria hasil dalam hal kesinambungan perawatan.  Intervensi keperawatan mencerminkan antisipasi kebutuhan akan pengetahuan, rujukan, insturksi khusus, tindak lanjut, dan jaringan komunitas. Antisipasi ini memfasilitasi transisi transisi ke peningkatan kemandirian dan kepercayaan diriklien. Apakah klien mendapatkan layanan residensial, sepanjang malam, klinik, day care,atau konsultasi, kriteria hasil daninervensi keperawatan yang mencerminkan  periode layanan tersebut biasanya diperlukan.

2.6.             LANGKAH-LANGKAH PERENCANAAN ASKEP
Langkah dalam rencana asuhan keperawatan adalah menentukan prioritas, menetapkan tujuan jangka panjang, tujuan jangka pendek, dan menentukan kriteria hasil:
1.      Penilaian prioritas
Proses menilai priorias  dimulai dengan daftar  penyusunan diagnosis keperawatan. Penusunan diagnosis yang berdasarkan prioritas ini mencakup memikirkan dan memutuskan urutan prefensi masalah klien. Akan tetapi, pengambilan keputusan ini tidak beerarti bahwa satu masalah harus dipecahkan secara tuntas sebelum masalah lainditindak  lanjuti. Biasanya beberapa diagnosis dilakukan secara bersama. Memperioritaskan diagnosis keperawatan yakni sebagia berikut:
a.    Masalah yang mengancam jiwa baik aktual maupun yang mungkin terjadi dipertimbangkan sebelum masalah yang mengancam kesehatan baik aktual mapun potensial.
b.   Sumber-sumber materi, manusia, dan waktu kajian secara teliti.
c.    Klien dilibatkan dalam menentukan priortas masalah.
d.   Prinsip ilmiah dan praktik memberikan rasional untuk pengambilan keputusan.
Jangka waktu kriteria hasil berhubungan dengan sifat dari masalah kesehatan, ketersediaan sumber, tipe lembaga tempat asuhan diberikan, karakteristik klien. Pada Perencanaan Askep terdapat tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek, yaitu sebagai berikut :
2.      Tujuan jangka panjang
Pencapaian tujuan jangka panjang menghasilkan resolusi  masalah kesehatan yang ditunjukkan dengan diagnosis keperawatan. Penetapan tujuan  jangka panjang yaitu :
a.       Tujuan jangka panjang adalah berfokus-klien dan mencerminkan dengan bersamaan dengan klien.
b.      Tujuanjangka pnjang harus sesuai dengan diagnosis yang berurutan.
c.       Tujuan jangka panjang harus realistis, yang mencerminkan kamampuan dan keterbatasan klien.
d.      Tujuan jangka panjang mencakup indikator penampilan yang luas dan abstrak.
e.       Prinsip ilmiah dan praktiss memandu penetapan  tujuan jangka  panjang.
3.      Tujuan jangka pendek
Pencapaian jangka pendek mengarah pada pencapaian urutan tujuan jangka panjang. Terdapat tiga  karakteristik tujuan jangka pendek maksudnya tersebut adalah penampilan, kondisi, dan kriteria (Mager, 1984). Penetapan tujuan  jangka pendek yaitu :
a.       Tujuan jangka pendek berfokus pada klien dan mencerminkan kebersamaan dengan klien.
b.      Tujuan jangka pendek harus sesuai dengan tujuan yang berurutan.
c.       Tujuanjangkapendekharus realisstis, yang mencerminkan kemampuan dan keterbatan klien.
d.      Tujuan jangka pendek mencakup indikator penampilan yang spesifik.
e.       Tujuan jangka panjang diberikan nomor sesuai dengan urutan untuk mencapai tujuan jangka panjang.
f.       Prinsip ilmiah dan praktis memandu penyusunan tujuan jangka pendek.
4.      Menentukan kriteria hasil
Tujuan klien dan tujuan keperawatan adalah standar atau ukuran yang digunakan untuk mengevaluasi kemajuan klien atau ketrampilan perawat. Menurut Alfaro (1994), tujuan klien merupakan pernyataan yang menjelaskan suatu perilaku klien, keluarga, atau kelompok yang dapat diukur setelah intervensi keperawatan diberikan. Tujuan keperawatan adalah pernyatan yang menjelaskan suatu tindakan yang dapat diukur berdasarkan kemampuan dan kewenangan perawat.
Kriteria hasil untuk diagnosa keperawatan untuk mewakili status kesehatan klien yang dapat dicapai atau dipertahankan melalui rencana tindakan yang mandiri, sehingga dapat membedakan antara diagnosa keperawatan dan masalah kolaburatif. Menurut Gordon (1994), komponen kriteria hasil yang penting dalam kriteria hasil adalah apakah intervensi keperawatan dapat dicapai. Pedoman penulisan kriteria hasil :
1)      Berfokus pada klien
Kriteria hasil ditujukan pada klien yang harus menunjukkan apa yang akan dilakukan klien, kapan, dan sejauh mana tindakan yang akan bisa dilaksanakan.
S : Spesifik (tujuan harus spesifik dan tidak menimbulkan arti ganda)
M : Measurable (harus dapat diukur, dilihat, didengar, diraba, dirasakan, dan dibau)
A : Achievable (tujuan harus dapat dicapai)
R : Reasonable (tujuan harus dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah)
T : Time (batasan waktu/tujuan keperawatan)



2)      Singkat dan jelas
Menggunakan kata-kata yang singkat dan jelas sehingga akan memudahkan perawat untuk mengidentifikasi tujuan dan rencana tindakan.
3)      Ada Batas Waktunya.
Dapat di observasi dan di ukur untuk menentukan keberhasilan atau kegagalan.
Tujuan yang dapat diobservasi dan diukur meliputi pertanyaan “apa” dan “sejauh mana”. Contoh kata kerja yang bisa diukur meliputi : melaksanakan, mengidentifikasi, tidak adanya..., adanya peningkatan pada....
Contoh kata kerja yang tidak dapat diukur melalui penglihatan dan suara adalah : menerima, mengetahui, menghargai dan memahami.
4)      Realistik.

2.7.       PERENCANAAN DENGAN INTERVENSI NIC DAN NOC
a.      Intervensi NIC
NIC (Nursing Intervention Classification) adalah suatu daftar isi intervensi diagnosa keperawatan yang menyeluruh dan di kelompokkan berdasarkan label yang mengurai pada aktifitas yang dibagi menajdi tujuh belas bagian dan tiga puluh kelas. Sistem yang digunakan dalam berbagai diagnosa keperawatan dan mengatur pelayanan kesehatan. NIC digunakan perawat pada semua spesialis dan semua area keperawatan (McClockey and Blucheck, 1996).
NIC diperkenalkan untuk pertama kali pada tahun 1987 dan menyusul Nursing Outcomes Classification (NOC) pada tahun 1991. NIC digunakan di semua area keperawatan dan spesialis. Intervensi keperawatan merupakan tindakan yang berdasarkan kondisi klinik dan pengetahuan yang dilakukan perawat untuk membantu pasien mencapai hasil yang diharapkan. Perawat dapat memberikan alasan ilmiah yang terbaru mengapa tindakan itu yang diberikan. Alasan ilmiah yang terbaru mengapa tindakan itu yang diberikan. Alasan ilmiah dapat merupakan pengetahuan berdasarkan literature, hasil penelitian atau pengalaman praktik. Rencana tindakan berupa : tindakan konseling atau psikoterapeutik, pendidikan kesehatan, perawatan mandiri dan aktivitas hidup sehari-hari, terapi modalitas keperawatan, perawatan berkelanjutan (continuity care), tindakan kolaborasi (terasi somatic dan psikofarmaka). Bulecheck dan McClokey (1996) menyatakan bahwa keuntungan NIC adalah sebagai berikut :
1)        Membantu menunjukkan aksi perawat dalam sistem pelayanan kesehatan.
2)        Menstandarisasi dan mendefinisikan dasar pengetahuan untuk kurikulum dan praktik keperawatan.
3)        Memudahkan memilih intervensi keperawatan yang tepat.
4)        Memudahkan komunikasi tentang perawat kepada perawat lain dan penyedia layanan kesehatan yang tepat.
5)        Memperbolehkan peneliti untuk menguji keefektifan dan biaya perawatan.
6)        Memudahkan pengajaran pengambilan keputusan klinis bagi perawat baru.
7)        Membantu tenaga administrasi dalam perencanaan staf dan peralatan yang dibutuhkan lebih efektif.
8)        Memudahkan perkembangan dan penggunaan sistem infromasi perawat.
9)        Mengkomunikasikan kealamiahan perawat kepada publik.

Adapun kelebihan NIC :
1)        Komprehensif.
2)        Berdasarkan riset.
3)        Dikembangkan lebih didasarkan pada praktek yang ada
4)        Mempunyai kemudahan untuk menggunakan struktur organisasi (domain, kelas, intervensi, aktivitas).
5)        Bahasa jelas dan penuh arti klinik.
6)        Dikembangkan oleh tim riset yang besar dan bermacam-macam tim.
7)        Menjadi dasar pengujian.
8)        Dapat diakses melalui beberapa publikasi.
9)        Dpat dihubungkan Diagnosa Keperawata NANDA.
10)    Dapat dikembangkan bersama NOC.
11)    Dapat diakui dan diterima secara nasional
(Bulechek dan McClokey, 1996).

b.      Intervensi NOC
NOC (Nursing Outcome Classification) adalah proses memberitahukan status klien setelah dilakukan intervensi keperawatan. Standar kriteria hasil dikembangkan untuk mengukur hasil dari tindakan keperawatan yang digunakan pada semua area keperawatan dan semua klien (individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat). NOC mempunyai tujuh domain yaitu fungsi kesehatan, fisiologi kesehatan, kesehatan psikososial, pengetahuan dan perilaku kesehatan, persepsi kesehatan, kesehatan keluarga dan kesehatan masyarakat.
NOC menggambarkan respon pasien terhadap tindakan keperawatan. NOC mengevaluasi hasil pelayanan keperawatan sebagai bagian dari pelayanan kesehatan. Standar kriteria hasil pasien sebagai dasar untuk menjamin keperawatan sebagai partisipan penuh dalam evaluasi klinik bersama dengan disiplin ilmu kesehatan lain. Klasifikasi berisi 190 kriteria hail yang diberi label, definisi dan indikator atau ukuran untuk menentukan kriteria hasil yang diterima (Johnson dan Mass, 1997).
Manfaat NOC dalam keperawatan adalah :
1)        Memberikan label dan ukuran-ukuran untuk kriteria hasil yang komprehensif.
2)        Sebagai hasil dari intervensi keperawatan.
3)        Mendefinisikan kriteria hasil yang berfokus pada pasien dan dapat digunakan perawat-perawat dan disiplin ilmu lain.
4)        Memberikan informasi kriteria hasil yang lebih spesifik dari status kesehatan yang umum.
5)        Menggunakan skala untuk mengukur kriteria hasil dan memberikan informasi kuantitatif (Bulecheck dan McClokey, 1996)

2.8.       TIPE DOKUMENTASI RENCANA TINDAKAN
1.      Traditionally designed care plans
Tipe dokumentasi rencana keperawatan ini menggunakan tiga pendekatan yaitu diagnosa keperawatan, kriteria hasil, dan intervensi keperawatan atau instruksi keperawatan.
2.      Standarlized care plans
Tipe dokumentasi rencana keperawatan ini menggunakan standar praktik keperawatan dalam pendokumentasian, yaitu:
a.       Rencana perawatan dicetak berdasarkan diagnosa medik atau prosedur khusus seperti prosedur kateteriasi jantung, pembedahan, dan lain-lain. Tipe ini mengantisipasi respon terhadap prosedur yang dilakukan.
b.      Rencana perawatan dibuat berdasarkan diagnosa keperawatan. Hal ini digunakan berdasarkan pengkajian pasien yang mendukung diagnosa perawatan. Kemudian perawat menuliskan secara lengkap etiologi dan masalah.
c.       Rencana perawatn dibuat dengan menggunakan standar komputer. Perawat dapat menyeleksi masalah klien dari menu yang terdapat dalam komputer. Dalam pelaksanaannya, perawat hanya memberikan tanda terhadap tindakan yang di pilih dari daftar masalah yang ada.
3.      Traditionally designed care plans
Tipe dokumentasi rencana keperawatan ini menggunakan tiga pendekatan yaitu diagnosa keperawatan, kriteria hasil, dan intervensi keperawatan atau instruksi keperawatan.
4.      Standarlized care plans
Tipe dokumentasi rencana keperawatan ini menggunakan standar praktik keperawatan dalam pendokumentasian, yaitu:
a.       Rencana perawatan dicetak berdasarkan diagnosa medik atau prosedur khusus seperti prosedur kateteriasi jantung, pembedahan, dan lain-lain. Tipe ini mengantisipasi respon terhadap prosedur yang dilakukan.
b.      Rencana perawatan dibuat berdasarkan diagnosa keperawatan. Hal ini digunakan berdasarkan pengkajian pasien yang mendukung diagnosa perawatan. Kemudian perawat menuliskan secara lengkap etiologi dan masalah.
c.       Rencana perawatn dibuat dengan menggunakan standar komputer. Perawat dapat menyeleksi masalah klien dari menu yang terdapat dalam komputer. Dalam pelaksanaannya, perawat hanya memberikan tanda terhadap tindakan yang di pilih dari daftar masalah yang ada.

2.9.       PRINSIP &PEDOMAN PENULISAN RENCAN TINDAKAN
Secara umum pedoman untuk rencana keperawatan yang efektif adalah sebagai berikut:
a.              Sebelum menulis, cek sumber informasi data
b.             Buat rencana keperawatan yang mudah dimengerti. Gunakan gambar atau grafik kalau perlu
c.              Tulisan harus jelas, spesifik, dapat diukur, dan kriteria hasil sesuai dengan identifikasi masalah
d.             Memulai instruksi perawatan harus menggunakan kata kerja seperti : catat, informasikan, dan lain-lain
Gunakan pena tinta dalam menulis untuk mencegah.

2.10.   METODE DOKUMENTASI RENCANA TINDAKAN
          Fokus dari perencanaan adalah untuk menyusun cetak biru (blue print) dari rencana intervensi dengan memakai pendekatan penyelesaian masalah. Melalui proses ini, perawat memprioritaskan dan membuat daftar masalah klien yang memerlukan intervensi keperawatan, menyusun criteria hasil yang diharapkan, dan mengelola kondisi klien yang perlu segera diintervensi.
          Komponen penting dalam rencana asuhan keperawatan, Rencana asuhan keperawatan mempunyai tiga hal penting, yaitu diagnosis keperawatan, kriteria hasil yang diharapkan, dan rencana intervensi keperawatan.

2.11.   PETUNJUK PENULISAN RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN YANG EFEKTIF
1.      Sebelum menuliskan rencana asuhan keperawatan, kaji ulang semua data yang ada. Sumber data yang memuaskan, meliputi :
a.       Pengkajian awal pada saat pertama kali klien masuk rumah sakit.
b.      Diagnosis keperawatan pada saat pertama kali masuk rumah sakit.
c.       Keluhan utama klien atau alasan yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan.
d.      Hasil pemeriksaan laboratorium.
e.       Latar belakang sosial budaya.
f.       Riwayat kesehatan dan pemeriksaanfisik.
g.      Observasi dari profesi kesehatan lain.
2.      Daftar dan jenis masalah aktual, risiko, dan potensial.
Berikan prioritas utama pada masalah aktual yang mengancam jiwa, yang dihubungkan dengan masalah yang mengancam kesehatan, pertanyaan untukperawat.
a.       Apakah masalah cukup jelas dan ringkas?
b.      Apakah masalah tersebut mencerminkan data subjektif dan objektif yang telah diperoleh ?
c.       Apakah perawat lain mengerti apa yang telah ditulis ?
d.      Apakah faktor penyebab dan data penunjang cukup jelas dimengerti dan membantu menentukan prioritas masalah ?
e.       Apakah masalah potensial sudah valid ?
f.       Apakah setiap masalah telah terkaji ?
3.      Untuk mempermudah penyusunan rencana intervensi keperawatan berilah gambaran dan ilustrasi (contoh) khususnya diagnosis. Hal ini sangat membantu ketika teknologi canggih digunakan untuk perawatan klien atau ketika menggambarkan lokasi anatomi.
4.      Kriteria hasil yang diharapkan untuk menetapkan masalah harus ditulis dengan jelas, khusus, dan terukur. Keterampilan kognitif, afektif, dan psikomotor yang memerlukan perhatian ditentukan bersama dengan klien.
5.      Rencana intervensi keperawatan harus selalu ditandatangani dan diberitanggal. Hal ini penting karena seorang perawatan professional bertanggungjawab dan bertanggung gugat dalam melaksanakan rencana intervensi yang telah tertulis.
6.      Mulai rencana intervensi dengan menggunakan kata kerja (action verb) :
a.       Catat tanda-tanda vital setiap pergantian dinas.
b.      Timbang BB setiaphari.
c.       Informasikan kepada klien alas anisolasi.
7.      Alasan prinsip kekhususan (specificity) untuk menuliskan diagnosis keperawatan :
a.       Menjelaskan bagaimana prosedur akan dilaksanakan.
b.      Menjelaskan kapan dan berapa lama prosedur akan dilaksanakan.
c.       Menjelaskan secara singkat keperluan apa yang harus dipenuhi, termasuk tahapan-tahapan intervensi.
8.      Tuliskan rasionalisasi dari rencana intervensi. Hal sangat membantu perawat untuk membantu dalam mengevaluasi efektivitas intervensi dan bekerja secara rasional, tidak hanya berdasarkan kegiatan rutinitas.
9.      Rencana intervensi harus selalu tertulis dan ditandatangani.
10.  Rencana intervensi harus didokumentasikan sebagai hal yang permanen.
11.  Mengikut sertakan klien dan keluarganya dalam perencanaan, jika memungkinkan.
12.  Rencana intervensi harus sesuai dengan waktu yang ditentukan dan diusahakan untuk selalu diperbaharui. Misalnya setiap pergantian dinas, setiap hari, dan/atau sewaktu-waktu diperlukan.
Tanggal
Diagnosa
Intervensi
Implementasi
04 April 2017
Nyeri,
akut
1.    Pemberian Analgesik
a.    Cek perintah pengobatan meliputi obat, dosis, dan frekuensi obat analgesik yang diberikan.
b.    Tinggalkan narkotik dan obat-obat lain yang dibatasi, sesuai dengan aturan rumah sakit.
2.    Manajemen Nyeri
a.       Pastikan perawatan analgesik bagi pasien dilakukan dengan pemantauan yang ketat.
b.      Gunakan strategi komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri dan sampaikan penerimaan pasien terhadap nyeri.
3.    Bantuan pasien untuk mengontrol pemberian Analgesik.
a.       Berkolaborasi dengan dokter, pasien, dan anggota keluarga dalam memilih jenis narkotik yang akan digunakan.
b.      Pastikan bahwa pasien tidak alergi terhadap analgesik yang akan diberikan.
4.    Manajemen Sedasi
a.       Intruksikan klein atau keluarga mengenai efek pembiusan
b.      Evaluasi tingkat kesadaran klien dan refleks protektif sebelum pembiusan.
5.    Monitor Tanda-Tanda Vital
a.       Monitor tekanan darah, nadi, suhu, dan status pernafasan dengan tepat.
b.      Monitor warna kulit, suhu dan kelembaban.
1.    Pemberian Analgesik
a. Mengecek perintah pengobatan meliputi obat, dosis, dan frekuensi obat analgesik yang diberikan.
b. Meninggalkan narkotik dan obat-obat lain yang dibatasi, sesuai dengan aturan rumah sakit.
2.    Manajemen Nyeri
a.       Memastikan perawatan analgesik bagi pasien dengan melakukan pemantauan yang ketat.
b.      Menggunakan strategi komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri dengan menyampaikan penerimaan pasien terhadap nyeri.
3.    Bantuan pasien untuk mengontrol pemberian Analgesik.
a.         Melakukan kolaborasi dengan dokter, pasien, dan anggota keluarga dalam memilih jenis narkotik yang akan digunakan.
b.         Memastikan bahwa pasien tidak alergi terhadap analgesik yang akan diberikan.
4.    Manajemen Sedasi
a.         Mengintruksikan klein atau keluarga mengenai efek pembiusan
b.         Mengevaluasi tingkat kesadaran klien dan refleks protektif sebelum melakukan pembiusan.
5.    Monitor Tanda-Tanda Vital
a.       Memonitori tekanan darah, nadi, suhu, dan status pernafasan dengan tepat.
b.      Memonitori warna kulit, suhu dan kelembaban.



Tanggal
Diagnosa
Intervensi
Implementasi
04 April 2017
Hipertermia
1. Perawatan demam
a. Pantau suhu dan tanda-tanda vital.
b. Monitor asupan dan keluaran, sadari perubahan kehilangan cairan yang tak dirasakan.
2. Peresepan Obat
a. Evaluasi tanda dan gejala dari masalah kesehatan saat ini.
b. Identifikasi alergi yang diketahui.
3. Pengaturan Suhu : perioperatif
a. Identifikasi pada pasien adanya faktor risiko mengalami suhu tubuh yang abnormal, (misalnya, anastesi general, umur, trauma besar, pasien dengan luka bakar, berat badan rendah, faktor pribadi atau risiko keluarga mengalami hepetermi maligna).
b. Sebelumnya hangatkan pasien dengan peralatan penghangat yang aktif (misalnya, penghangat dorongan udara) paling tidak 15 menit sebelum mulai anastesi, sesuai kebutuhan.
1. Perawatan demam
a. Memantau suhu dan tanda-tanda vital.
b. Memonitori asupan dan keluaran, sadari perubahan kehilangan cairan yang tak dirasakan.
2. Peresepan Obat
a. Mengevaluasi tanda dan gejala dari masalah kesehatan saat ini.
b. Mengidentifikasi alergi yang diketahui.
3. Pengaturan Suhu : perioperatif
a. Mengidentifikasi pada pasien adanya faktor risiko mengalami suhu tubuh yang abnormal, (misalnya, anastesi general, umur, trauma besar, pasien dengan luka bakar, berat badan rendah, faktor pribadi atau risiko keluarga mengalami hipertermi maligna).
b. Sebelumnya menghangatkan pasien dengan peralatan penghangat yang aktif (misalnya, penghangat dorongan udara) paling tidak 15 menit sebelum mulai anastesi, sesuai kebutuhan.














BAB 3
PENUTUP

3.1.       KESIMPULAN
Perencanaan adalah bagian dari fase pengorganisasian dalam memproses keperawatan yang meliputi tujuan perawatan, menetapkan pemecahan masalah, dan menentukan tujuan perencanaan untuk mengatasi masalah pasien.
Dari makalah yang kami buat di atas dapat disimpulkan bahwa  perencanaan asuhan keperawatan penting dilakukan karena kita sebagai perawat dalam mengetahui apa itu perencanaan asuhan keperawatan, tujuanperencanaan dan pentingnyaperencanaan, kitabisa mengerti dalam bagaimana untuk memecahkan masalah, dan menentukan tujuan perencanaan untuk mengatasi masalah kesehatan pada pasien.

3.2.       SARAN
Kami menyadari bahwa kekurangan dalam makalah yang kami buat di atas merupakan kelemahan dari pada kami, karena terbatasnya kemampuan kami untuk memperoleh data dan informasi karena terbatasnya pengetahuankami.
Jadi yang kamiharapkan kritik dan saran yang membangun agar kami dapat membuat makalah yang lebih baik lagi.







DAFTAR PUSTAKA
Paula, 2009, Proses Keperawaatan Aplikasi Model Konseptual, Jakarta:EGC.
Bulechek, G., Buthcher. H., & Dochterman, J. (Eds). 2008. Nursing Interventions Classification (NIC). St.Louis, MO: Mosby
Craven, R. F. & Hirnle, C.J (2009). The body’s defense against infection. In fundamentals of nursing: Human health and function. Philadelpia: Lippincott Williams & Wilkins.
Smith, S. F., Duell, D. J., & Martin, B. C. (2008). Clinical nursing skills: Basic to adventure skills. Upper Saddle River, NJ: Pearson Prentice Hall.

Nursalam, 2009, Pendidikan Dalam Keperawatan, Jakarta: Salemba Medika.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Transcultural Nursing

SAP Manajemen Laktasi

Bakteriologi Enterobacteriaceae (Escherichia Coli, Salmonella, Shigella)