Perencanaan ASKEP
MAKALAH KONSEP DASAR KEPERAWATAN II
(KDK
II)
KONSEP PROSES KEPERAWATAN
PERENCANAAN ASKEP
Dosen Pengampu:
Alvin Abdillah, S.Kep., Ns. M.A.P.
Disusun
Oleh:
Kelompok
5
Ainul Yaqin (16142010045)
Deva Musarrofah (16142010055)
Noer Iqbal
Wahyu S. (16142010073)
Rikayatul Huda (16142010075)
Yuliani Firdaus (16142010087)
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NGUDIA HUSADA MADURA
2017/2018
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kehadirat
Allah SWT. Robbal-‘izzati karena Dia-lah Tuhan yang Maha Pengasih yang
kasih-Nya tak pernah terbilang. Berkat kasih sayang-Nya jualah penulis mampu
merampungkan karya sederhana yang kini berada dalam genggaman para pembaca yang
budiman.
Di era globalisasi saat ini, segala teknologi canggih telah berkembang
untuk memberikan kemudahan bagi manusia dlam memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Pola hidup masyarakat yang menginginkan
kemudahan, efisiensi dan efektifitas dalam segala hal harus ditunjang oleh
ketersediaansumber daya alam dan sumber daya manusia yang memadai. Untuk itu
semua profesi dituntut untuk senantiasa mengembangkan dan membenah diri agar
dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan kebutuhan masyarakat, termasuk
profesi perawat.
Meskipun telah berusaha untuk
menghindarkan kesalahan, kami menyadari juga bahwa makalah ini masih mempunyai
kelemahan sebagai kekurangannya. Karena itu, kami berharap agar pembaca
berkenan menyampaikan kritikan. Dengan segala pengharapan dan keterbukaan, kami
menyampaikan rasa terima kasih dengan setulus-tulusnya. Akhir kata, kami
berharap agar makalah ini dapat membawa manfaat kepada pembaca.
Bangkalan, 22-02- 2017
Kelompok
5
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1 : PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang........................................................................................... 3
1.2. Rumusan Masalah...................................................................................... 4
1.3. Tujuan........................................................................................................ 4
1.4. Manfaat...................................................................................................... 5
BAB 2 : PEMBAHASAN
2.1
Definisi
PerencanaanAsuhan Keperawatan............................................... 6
2.2
Tujuan
Perencanaan................................................................................... 7
2.3
Pentingnya
Dokumentasi Perencanaan...................................................... 8
2.4
Tipe
Rencana Intervensi............................................................................ 8
2.5
Komponen
Rencana Intervensi................................................................ 11
2.6
Langkah-langkah
perencanaan ................................................................ 16
2.7
Perencanaan
Dengan Intervensi NIC Dan NOC .................................... 20
2.8
Tipe
Dokumentasi Rencana Tindakan .................................................... 23
2.9
Prinsip
& Pedoman Penulisan Rencana Tindakan .................................. 24
2.10 Metode Dokumentasi Rencana Tindakan ............................................... 24
2.11 Petunjuk Penulisan Rencana Tindakan
Keperawatan Yang Efektif ...... 25
BAB3 : PENUTUP
3.1. Kesimpulan.............................................................................................. 27
3.2. Saran........................................................................................................ 27
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
LATAR BELAKANG
Proses keperawatan sebagai alat bagi perawat untuk melaksanakan asuhan keperawatan yang dilakukan pada pasien memiliki
arti penting bagi kedua belah pihak yaitu perawat dan klien.
Sebagai seorang perawat proses keperawatan dapat digunakan sebagai pedoman
dalam pemecahan masalah klien, dapat menunjukkan profesi yang memiliki
profesionalitas yang tinggi, serta dapat memberikan kebebasan kepada klien untuk
mendapatkan pelayanan yang cukup sesuai dengan kebutuhannya, sehingga dapat
dirasakan manfaatnya baik dari perawat maupun klien, manfaat tersebut antara
lain dapat meningkatkan kemandirian pada perawat dalam melaksanakan tugasnya
karena didalam proses keperawatan terdapat metode ilmiah keperawatan yang
berupa langkah-langkah proses keperawatan, akan dapat meningkatkan kepercayaan diri perawat dalam melaksanakan tugas.
Karenaklien akan merasakan kepuasan setelah dilakukan asuhan keperawatan
dengan pendekatan proses keperawatan, akan dapat selalu meningkatkan kemampuan
intelektual dan teknikal dalam tindakan keperawatan karena melalui proses
keperawatan dituntut mampu memecahkan masalah yang baru sesuai dengan masalah
yang dialami klien, sehingga akan timbul perasaan akan kepuasan kerja. Dengan
proses keperawatan, rasa tanggung jawab dan tanggung gugat bagi perawat itu
dapat dimiliki dan dapat digunakan dalam tindakan-tindakan yang merugikan atau
menghindari adanya tindakan yang legal.
1.2.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa
definisiperencaan Askep?
2.
Apa
pentingnya dokumentasi perencaan Askep?
3.
Bagaimanakonsepperencanaankeperawatandanbentukpendokumentasiannya
?
4.
Bagaimana
petunjuk penulisan rencana tindakan keperawatan yang efektif?
1.3.
TUJUAN
a. Tujuan
Umum
Mampu mendapatkan informasi secara
lengkap dan runtut tentang perencanaan Askep.
b. Tujuan
Khusus
1.
Dapat menyajikan informasi dengan
sistematis tentang perencanaan Askep.
2.
Mampu memahami hasil diskusi kelompok dan menyampaikan dalam forum tentang
perencanaan Askep.
3.
Mampu untuk berdiskusi tentang
perencanaan Askep
4.
Mampu untuk menganalisa kasus yang telah
diberikan dan mencari penyelesaian tentang perencanaan Askep.
1.4.
MANFAAT
1.
Dapat meningkatkan konsentrasi melalui
kegiatan berdiskusi.
2.
Dapat mendengarkan dan menerima usulan dari
anggota kelompok ataupun anggota dari kelompok lain tentang apa yang telah
didiskusikan.
3.
Dapat menyimpulkan hasil dari apayang
telah didiskusikan.
4.
Mampu untuk berfikir kritis melalui
kegiatan berdiskusi.
5.
Saling menghargai antar anggota kelompok
ataupun dari anggota kelompok lain melalui kegitan berdiskusi.
6.
Mampu menuangkan dan menyampaikan
pendapat tentang apa yang telah didiskusikan.
7.
Mampu bekerja sama dengan anggota
kelompok ataupun anggota kelompok lain
melalui kegiatan berdiskusi.
8.
Mampu menciptakan jiwa leadership
melaluikegiatan berdiskusi.
BAB
2
PEMBAHASAN
2.1.
DEFINISI
PERENCANAAN ASKEP
Rencana asuhan keperawatan merupakan
alat untuk mendokumentasikan dan
mengomunikasikan diagnosis keperawatan
klien, kriteria hasil, strategi, intervensi keperawatan, dan evaluasi. Contoh : (Paula,2009)
|
Tanggal
|
Diagnosis
keperawatan
|
Kriteria
hasil
|
Intervensi keperawatan
|
evaluasi
|
|
|
|
|
|
|
Rencana
asuhan berfungsi sebagai sarana utama untuk meningkatkan pendekatan asuhan
keperawatan yang individual dan konsisten. Melalui dokumentasi masalah utama
klien dan melalui rencana untuk mengurangi atau memodifikasi masalah, perawat
memfasilitasi koordinasi seluruh anggota tim tim perawat kesehatan. Jika
rencana tertulis berdasarkan panduan yang dianjurkan maka tujuan jangka panjang
dan jangka pendek memberikan arahan perawatan yang diinginkan dan menjadi
landasan akhir evaluasi. Selain itu, strategi dan intervensi keperawatan
memandu dan mengoordinasi klien, perawat, dan individu lain dalam tindakan
mereka untuk meningkatkan pencapaian hasil. Rencana asuhan yang lengkap perlu digunakan untuk memnuhi tujuan ini.
Rencana yang disusun dengan baik trial
and error yang menghabiskan banyak waktu, menghindari duplikasi upaya, dan
menurunkan kegagalan perawatan yang mahal dan membutuhkan banyak waktu.
Perawat profesional
bertanggung jawab dan dapat diandalkan
untuk menyusun rencna asuhan keperawatan. Idealnya, perawat primer, manajer
kasus, atau perawat yang bertanggung jawab terhadap perawatan yang
bersinambungan melengkapi rencana asuhan klien. Banyak implikasi yang dibuat
dalam menusun suatu rencana. Pengkajian yang akurat dan multiforal adalah
landasan rencana yang penting. Diagnosis keperawatanberkembang dari analisis
dan sintesis data, yang membutuhkan dasar pengetahuan yang komperehensif
dankemampuan berpikir kritis. Diagnosis diurutkan berdasarkan prioritas
intervensi, tujuan jangka panjang, yang
ditetapkan, tujuan jangka pendek yang
disusun, strategi yang diidentifikasi, dan intervensi keperawatan yang
diuraikan dengan menggunakan rsional ilmiah.
Anggotatim lainnya dapat memberikan input
dan umpan balik mengenai pendekatan kepada klien, tetapi perawat profesional
bertanggung jawab terhadap penyusunan asuhan keperawatan tersebut.
Asuhan
keperawatan dimulai pada permulaan
layanan keprawatan. Setelah pengkajian awal stuasi klien sudah lengkap, perawat
mengonsolidasikan informasi tersebut untuk digunakan saat ini atau atau dimasa mendatang.
2.2.
TUJUANPERENCANAAN
ASKEP
Rencana
asuhan keperawatan mempunyai dua tujuan, yaitu tujuan administrasi dan tujuan
klinik (Carpenito,2000). Penjelasan tentang tujuan–tujuan rencana asuhan
keperawatan tersebut adalah sebagai berikut.
a.
Tujuan administratif
1. Mengidentifikasi
fokus keperawatan : klien (individu) atau kelompok
2. Membedakan
tanggung jawab perawat dengan profesi kesehatan lainnya.
3. Menyususn
kriteria guna pengulangan asuhan keperawatan dan evaluasi keberhasilan asuhan
keperawatan.
4. Menyediakan
kriteria klasifikasi klien.
b.
Tujuan klinik
1.
Menjadi suatu pedoman dalam penulisan
2.
Mengomunikasikan asuhan keperawatan yang
akan diimplementasikan dengan perawat lainnya seperti apa yang akan diajarkan,
apa yang harus diobservasi, dan apa yang akan dilaksanakan.
3.
Menyusun kriteria hasil (outcomes) guna
pengulangan asuhan keperawatan dan evaluasi keberhasila asuhan keperawatan.
4.
Rencana intervensi yang spesifik dan
langsung bagi perawat untuk melaksanakan intervensi kepada klien (individu) dan
keluarganya.
2.3.
PENTINGNYA
DOKUMENTASI PERENCANAAN ASKEP
Dokumentasi perencanaan keperawatan merupakan
catatan tentang penyusunan “Rencana Tindakan Keperawatan” yang hendak
dilakukan. Hal ini dilakukan untuk menanggulangi masalah dengan mencegah.,
mengurangi, dan menghilangkan masalah.
Selain itu, untuk memberikan kesempatan pada perawat, klien, keluarga,
serta orang terdekat dalam merumuskan rencana tindakan.
2.4.
TIPE
RENCANA INTERVENSI
Terdapat tiga intervensi keperawatan
yaitu intervensi yang di prakarsai oleh perawat, dokter, dan intervensi
kolaboratif. Kategori pemilihan di dasarkan pada kebutuhan klien. Satu klien
mungkin saja membutuhkan semua dari kerja kategori, sementara klien lainnya
mungkin hanya membutuhkan intervensi yang diprakarsai oleh perawat dan dokter.
a.
Intervensi Perawat
Intervensi perawat adalah respon perawat tehadap kebutuhanperawatan
kesehatan dan diagnosa keperawatan klien. Tipe intervensi ini adalah “Suatu
tindakan autonomi berdasarkan rasional ilmiah yang dilakukan untuk kepentingan
klien dalam cara yang diprediksi yang berhubungan dengan diagnosa keperawatan
dan tujuan klien (Bulechek & McCloskey, 1994).
Intervensi ini tidak membutuhkan
supervisi atau arahan dari orang lain. Sebagai contoh, intervensi untuk
meningkatkan pngetahuan klien tentang aktifitas kehidupan sehari-hari yang
berhubungan dengan hygiene adalah tindakan keperawatan mandiri.
Intervensi perawat tidak membutuhkan
instruksi dokter atau lainnya. Dokter seringkali dalam instruksi tertulisnya
mencakup intervensi keperawatan mandiri. Namun demikian berdasarkan
undang-undang praktik keperawatan di sebagian besar negara bagian, tindakan
keperawatan yang berkaitan dengan aktifitas kehidupan sehari-hari, penyuluhan
kesehatan, promosi kesehatan, dan konseling berada dalam domain praktik
keperawatan.
b.
Intervensi Dokter
Intervensi
dokter didasarkan pada respon terhadap diagnosa medis dan 0perawat
menyelesaikan instruksi tertulis dokter (Bulechek & McCloskey, 1994).
Memberikan medikasi, mengimplementasikan suatu prosedur invasif, menggant
balutan dan menyiapkan klien untuk pemeriksaan diagnostik adalah contoh-contoh
dari intervensi tersebut.
Intervensi
tidak selalu berada dalam praktik legal keperawatan bagi perawat untuk
meresepkan atau menginstruksikan tindakan ini, tetapi intervensi tersebut
berada dalam praktik keperawatan bagi perawat untuk menyelesaikan instruksi
tersebut dan untuk mengkhususkan pendekatan tindakan.
Sebagai
contoh, dokter menginstruksikan untuk mengganti balutan 2x sehari, medikasi
intravena setiap enam jam, dan pemindaian tulang untuk Tn. X. Perawat
meamadukan setiap instruksi ini ke dalam rencana perawatan Tn.X sehingga
instruksi ini diselesaikan secara aman dan efisien.
Setiap
intervensi dokter membutuhkan tanggung jawab keperawatan spesifik dan
pengetahuan keperawatan teknik spesifik. Ketika memberikan obat-obatan, perawat
bertanggung jawab untuk mengetahui klasifikasi dari obat, kerja fisiologinya,
dosis normal, efek samping, dan intervensi keperawatan yang berhubungan dengan
kerja obat atau efek sampingnya. Intevensi keperawatan yang berkaitan dengan
pemberian medikasi bergantung pada instruksi tertulis dokter.
c.
Intervensi Kolaboratif
Intervensi kolaboratif adalah terapi
yang membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan keahlian dari berbagai
profesional perawatan kesehatan.
Jadi, intervensi perawat, intervensi
dokter, dan intervensi kolaboratif membutuhkan penilaian keperawatan yang
kritis dan pembuatan keputusan. Ketika menghadapi intervensi dokter atau
intervensi kolaboratif, perawat tidak secara otomatis mengimplementasikan
terapi, tetapi harus menentukan apakah intervensi yang diminta sesuai untuk
klien.
Menurut Carpenito dan Moyet (2007) ,
ada dua tipe intervensi keperawatan :Intervensi perawat yaitu intervensi yang
dibuat oleh perawat dan akan dilaksanakan oleh tim perawat lain.
Intervensi medis / intervensi
delegasi yaitu intervensi yang dibuat oleh medis/perawat senior dan akan
dilaksanakan oleh perawat lain. Instruksi dokter bukan meupakan instruksi untuk
perawat, melainkan untuk klien yang akan dibantu oleh perawat jika ada indikasi.
Sedangkan menurut Potter dan Perry
(2006) ada tipe intervensi keperawatan :
Intervensi perawat adalah respons
perawat terhadap kebutuhan klien terhadap perawatan kesehatan dan diagnosis
keperawatan. Tindakan memiliki otonomi yang berdasarkan pada rasional ilmiah.
Intervensi ini tidak membutuhkan instruksi dokter atau profesi.
2.5.
KOMPONEN
RENCANA TINDAKAN
Komponen rencana tindakan keperawatan ada beberapa hal
pentingyang harusdiperhatikan, yaitu: diagnosa keperawatan, criteria hasil,
strategi, dan rencana intervensi keperawatan.
1.
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan harus merupakan
prioritas utama untuk merawat klien. Hal tersebut harus menyangkut langsung
kearah situasi yang mengancam kehidupan klien.
2.
KriteriaHasil
Setiap diagnosa keperawatan harus
mempunyai sedikitnya satu kriteria hasil. Kriteria hasil dapat diukur dengan
tujuan yang diharapkan yang mencerminkan masalah klien.
3.
Strategi
Bagianpenting
dari komponen keperawatan adalah pemilihan strategi. Seperti yang sudah
didiskusikan, starategi adalah
keseluruhan metode atau pendekatan yang memberikan panduan untuk intervensi
keperawatan individu. Strategi berasal dari disiplin ilmu dan praktik, termasuk
psikoliogi, sosiologi, pendidikan, dan keperawatan.
a. Identifikasi
strategi utama untuk implementasi.
b. Startegi
sesuai dengan kriteria hasil.
c. Strategi
didasarkan pada rasional yang ilmiah.
d. Strategi
ditentukan bersama-bersama dengan klien.
4.
Intrervensi
keperawatan
Intervensi keperawatan adalah
perilaku yang diprogramkan yang sifatnya tersendiri yang berasal dari strategi
yang teridentifikasi dan mengarah pada hasil klien yang dapat diprediksi. Klien dan perawat dilibatkan
dalam tindakan, bersama-sama dengan
kebutuhan lain untuk mencapai hasil yang diinginkan. Intervensi keperawatan
yaitu sebagai berikut :
1.
Intervensi
keperawatan sesuai dengan masing-masing hasil dan strateginya.
Sifat tujuan tujuanjangka pnjang dan tujuan jangka pendek menentukan sifat
intervensi. Intervensi mencerminkan pemeliharaan, peningkatan dan, dan
pemulihan kesehatan, yang bergantung pada fokus darihasil yang diinginkan.
Contoh
Pemeliharaan:
Balik klien setiap 2 jam selama siang dan malam hari, yang mempertahankan
kesejajaran tubuh klien yang benar.
Peningkatan: Ajarkan klien pola nutrisi dasar, dengan
menjelaskan piramida pedoman makanan menggunakan pamflet dangambar, gunakan
ahli diet dan ahli nutrisi sebagai
narasumber.
Pemulihan: Bantu klien dengan
latihan rentang pergerakan sendi kaki dan
tangan yang mengalami gangguan selama 2 jam pada siang hari; pertahankan
tungkai dalam posisi anatomis dan dalam kegarisan yang baik sepanjang malam
dengan menggunakan bantal dan bidai.
2. Prinsip ilmiah dan praktik
memberikan rasional untuk intervensi. Teori, konsep, model,
dan prinsip adalah dasar ilmiah untuk intervensi keperawatan. Literatur dan
temuan penelitian terbaru dan keperawatan dan disiplin lain memberikan arahan bagi tindakan. Perawat perlu memiliki
dasar pengetahuan ilmiah yang luas untuk membenarkan variasi intervensi
keperawatan yang luas.
3. Intervensi keperawatan memadukan
otonami dan individualitas klien. Keunikan individu
ditunjukkan dalan intervensi keperawatan. Berdasarkan pengkajian yang
komprehensif dan multifokal,perawat harus mengidentifikasi kekuatan,
keterbatasan, dan sumber internal dan
eksternal klien. Informasi ini membantu perawat memutuskan apa yang realistis yang diharapkan dari klien. Perawat
menolong partisipasi dan tanggung jawab klien untuk meningkatkan rasa kendali
personal danharga diri mereka. Akan
tetapi, kekuatan klien menentukan
tingkat partsipasi dan jumlah tanggung jawab yang dapat diharapkan. Sebagai
contoh, tingkat kognitif klien menentukan banyaknya materi dan cara perawat
menyampaikan informasi dalam situasi belajar. Aspek budaya danperkembangan juga
dipertimbangkan dalam menguraikan intervensi keperawatan. Informasi
historis terkait pola perilaku
memberikan arahan untuk mengidividualkan pendekatan asuhan.
4. Intervensi keperawatan menunjukkan
perilaku khusus yang diinginkan, yang
memberikanarahan bagi perawat, klien, dan yang lain. Intervensi
keperawatan adalah pernyataan detail mengenai siapa yang akanmelakukan apa dan kapan (dalam kerangka waktu tertentu). Setiap
intervensi keperawatan mencakup subjek, kata kerja, dan kondisi atau kriteria
penyelesaian. Setiap intervensi menunjukkan tanggal implementasi yang diperkirakan.
Contoh
Intervensi keperawatan khusus
rujukan :
Klien
akan menggunakan walker untuk
ambulasi sepanjang 150 cm empat kali sehari, mulai tanggal 7/2/94.
Perawat
akan menemani klien selama ambulasi untuk
memberikan dukungan verbal dan memantau keamanan serta respons
terhadapambulasi.
5. Intervensi keperawatan mencerminkan
pertimbangan terhadap sumber daya manusia, waktu, dan material yang tersedia. Pengkajian
sumberdaya yang tersedia penting dilakukan sebelum menguraikan intervensi
keperawatan. Seperti menilai prioritas,
banyak variabel dipertimbangkan untuk menentukan sarana yang realistis
guna pencapaian kriteria hasil klien.
Prawat mmprtimbangkan sumber daya manusia, atau orang-orang dapat
berpartisipasi dalam perawatan klien. Jumlah dan tipe layanan, pekerja, staf, dan anggota keluarga
serta kualifikasi dan keahlian meerka dianalisis. Selain itu, kemampuan,
motivasi, dan kesediaan untuk terlibat juga akan terus memengaruhi.
6. Intervensi keperawatan diberi nomor
dengan urutan yang sesuai untuk mencapai
tujuan jangka pendek. Pengurutan daftar interverensi keperawatan
yang dianjurkan memberikan arahan bagi perawat, klien, dan staf lainnya. Serupa dengan pengurutan tujuan
jangka pendek yang sesuai untuk mencapai
tujuan jangka panjang, intervensi keperawatan harus berurutan guna mencapai
setiap tujuan jangka pendeknya. Urutan ini digukan oleh perawat untuk meninjau
kemajuan klien guna mencapai kriteria hasil.
7. Intervensi keperawatan diberi
tanggal dan mencantumkan tanda tangan perawat yang bertanggung jawab. Pemberian
tanggal pada intervensi keperawatansaat menulis memberikan perawat dan staf
lainnya acuan tindakan yang ditetapkan. Perawat menggunakan tanggal saat
meninjau ulang, memodifikasi, memperbarui, dan mengevaluasi efektifitas dan
sifat intervensi keperawatan yang
realistis. Penghentian intervensi tertentudan dimulainya intervensi lain
didasarkan pada ada atau tidak adanya
kemajuan dalam pencapaian hasil. Dengan kapan menggunakan intervensi dimulai,
perawat menentukan apakah pendekatan yang disebutkan memiliki waktu yang cukup
untuk memengaruhi perubahan.
8. Intervensi keperawatan dijaga
agar tetap sesuai dengan kondisi terbaru
dan diperbaiki jika diperlukan. Intervensi
keperawatan mencerminkan masalah,
kekuatan, dan keterbatasan klien pada waktu dan situasi tertentu. Karena
kesehatan adalah suatu pola perilaku dan fungsi dinamis, pola iini memang dapat
dan memang berubah. Perawat peka terhadap perubahan-perubahan tersebut melalui
pengkajian dan evaluasi berkelanjutan terhadap situasi dan kemajuan klien.
Perawat mengetahui saat intervensi tertentu tidak lagi sesuai dan perbaikan
dibutuhkan. Hal ini dapat terjadi sebelum pencapaian yang diinginkan dari
kriteria hasil. Tuntutan perbaikan intervensi tidak perlu mencerminkan
validitas intervensi asli atau intervensi praktisi. Banyak variabel yang
memengaruhi klien; beberapa diantisipasi dan diharapkan, dan lainnya tidak.
Melalui evaluasi dan refleksi-diri, perawat menentukan apakan variabel tersebut
yang menyebabkan perubahan situasi telah (atau sudah) diprediksikan. Pengkajian
mendalam terhadap komponen proses keperawatan sebelumnya dapat menjelaskan
perubahan dan urutan kebutuhan untuk memodifikasi intervensi.
9. Intervensi keperawatan mencantumkan
rencana terminasi layanan keperawatan. Rencana terminasi
layanan keperawata dimasukkan ke dalam hasil peningkatan, pemeliharaan, dan
pemulihan klien. Dari permukaan layanan, perawat dan klien mempertimbangkan
kerangka waktu untuk pencapaian kriteria hasil dalam hal kesinambungan
perawatan. Intervensi keperawatan
mencerminkan antisipasi kebutuhan akan pengetahuan, rujukan, insturksi khusus,
tindak lanjut, dan jaringan komunitas. Antisipasi ini memfasilitasi transisi
transisi ke peningkatan kemandirian dan kepercayaan diriklien. Apakah klien
mendapatkan layanan residensial, sepanjang malam, klinik, day care,atau konsultasi, kriteria hasil daninervensi keperawatan
yang mencerminkan periode layanan
tersebut biasanya diperlukan.
2.6.
LANGKAH-LANGKAH
PERENCANAAN ASKEP
Langkah dalam rencana asuhan
keperawatan adalah menentukan prioritas, menetapkan tujuan jangka panjang,
tujuan jangka pendek, dan menentukan kriteria hasil:
1.
Penilaian
prioritas
Proses menilai priorias dimulai dengan daftar penyusunan diagnosis keperawatan. Penusunan
diagnosis yang berdasarkan prioritas ini mencakup memikirkan dan memutuskan
urutan prefensi masalah klien. Akan tetapi, pengambilan keputusan ini tidak
beerarti bahwa satu masalah harus dipecahkan secara tuntas sebelum masalah
lainditindak lanjuti. Biasanya beberapa
diagnosis dilakukan secara bersama. Memperioritaskan diagnosis keperawatan
yakni sebagia berikut:
a. Masalah
yang mengancam jiwa baik aktual maupun yang mungkin terjadi dipertimbangkan
sebelum masalah yang mengancam kesehatan baik aktual mapun potensial.
b. Sumber-sumber
materi, manusia, dan waktu kajian secara teliti.
c. Klien
dilibatkan dalam menentukan priortas masalah.
d. Prinsip
ilmiah dan praktik memberikan rasional untuk pengambilan keputusan.
Jangka waktu kriteria hasil
berhubungan dengan sifat dari masalah kesehatan, ketersediaan sumber, tipe
lembaga tempat asuhan diberikan, karakteristik klien. Pada Perencanaan Askep
terdapat tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek, yaitu sebagai berikut
:
2.
Tujuan
jangka panjang
Pencapaian tujuan jangka panjang
menghasilkan resolusi masalah kesehatan
yang ditunjukkan dengan diagnosis keperawatan. Penetapan tujuan jangka panjang yaitu :
a. Tujuan
jangka panjang adalah berfokus-klien dan mencerminkan dengan bersamaan dengan
klien.
b. Tujuanjangka
pnjang harus sesuai dengan diagnosis yang berurutan.
c. Tujuan
jangka panjang harus realistis, yang mencerminkan kamampuan dan keterbatasan
klien.
d. Tujuan
jangka panjang mencakup indikator penampilan yang luas dan abstrak.
e. Prinsip
ilmiah dan praktiss memandu penetapan
tujuan jangka panjang.
3.
Tujuan
jangka pendek
Pencapaian
jangka pendek mengarah pada pencapaian urutan tujuan jangka panjang. Terdapat
tiga karakteristik tujuan jangka pendek
maksudnya tersebut adalah penampilan, kondisi, dan kriteria (Mager, 1984).
Penetapan tujuan jangka pendek yaitu :
a. Tujuan
jangka pendek berfokus pada klien dan mencerminkan kebersamaan dengan klien.
b. Tujuan
jangka pendek harus sesuai dengan tujuan yang berurutan.
c. Tujuanjangkapendekharus
realisstis, yang mencerminkan kemampuan dan keterbatan klien.
d. Tujuan
jangka pendek mencakup indikator penampilan yang spesifik.
e. Tujuan
jangka panjang diberikan nomor sesuai dengan urutan untuk mencapai tujuan
jangka panjang.
f. Prinsip
ilmiah dan praktis memandu penyusunan tujuan jangka pendek.
4.
Menentukan
kriteria hasil
Tujuan klien dan tujuan keperawatan
adalah standar atau ukuran yang digunakan untuk mengevaluasi kemajuan klien
atau ketrampilan perawat. Menurut Alfaro (1994), tujuan klien merupakan
pernyataan yang menjelaskan suatu perilaku klien, keluarga, atau kelompok yang
dapat diukur setelah intervensi keperawatan diberikan. Tujuan keperawatan adalah
pernyatan yang menjelaskan suatu tindakan yang dapat diukur berdasarkan
kemampuan dan kewenangan perawat.
Kriteria hasil untuk diagnosa
keperawatan untuk mewakili status kesehatan klien yang dapat dicapai atau
dipertahankan melalui rencana tindakan yang mandiri, sehingga dapat membedakan
antara diagnosa keperawatan dan masalah kolaburatif. Menurut Gordon (1994),
komponen kriteria hasil yang penting dalam kriteria hasil adalah apakah
intervensi keperawatan dapat dicapai. Pedoman penulisan kriteria hasil :
1)
Berfokus pada klien
Kriteria hasil ditujukan pada klien yang harus menunjukkan
apa yang akan dilakukan klien, kapan, dan sejauh mana tindakan yang akan bisa
dilaksanakan.
S :
Spesifik (tujuan harus spesifik dan tidak menimbulkan arti ganda)
M : Measurable
(harus dapat diukur, dilihat, didengar, diraba, dirasakan, dan dibau)
A :
Achievable (tujuan harus dapat dicapai)
R :
Reasonable (tujuan harus dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah)
T :
Time (batasan waktu/tujuan keperawatan)
2)
Singkat dan jelas
Menggunakan kata-kata yang singkat
dan jelas sehingga akan memudahkan perawat untuk mengidentifikasi tujuan dan
rencana tindakan.
3)
Ada Batas Waktunya.
Dapat di observasi dan di ukur untuk
menentukan keberhasilan atau kegagalan.
Tujuan yang
dapat diobservasi dan diukur meliputi pertanyaan “apa” dan “sejauh mana”.
Contoh kata kerja yang bisa diukur meliputi : melaksanakan, mengidentifikasi,
tidak adanya..., adanya peningkatan pada....
Contoh kata kerja yang tidak dapat
diukur melalui penglihatan dan suara adalah : menerima, mengetahui, menghargai
dan memahami.
4)
Realistik.
2.7.
PERENCANAAN
DENGAN INTERVENSI NIC DAN NOC
a. Intervensi NIC
NIC (Nursing Intervention
Classification) adalah suatu daftar isi intervensi diagnosa keperawatan yang
menyeluruh dan di kelompokkan berdasarkan label yang mengurai pada aktifitas
yang dibagi menajdi tujuh belas bagian dan tiga puluh kelas. Sistem yang
digunakan dalam berbagai diagnosa keperawatan dan mengatur pelayanan kesehatan.
NIC digunakan perawat pada semua spesialis dan semua area keperawatan
(McClockey and Blucheck, 1996).
NIC diperkenalkan untuk pertama kali
pada tahun 1987 dan menyusul Nursing Outcomes Classification (NOC) pada tahun
1991. NIC digunakan di semua area keperawatan dan spesialis. Intervensi
keperawatan merupakan tindakan yang berdasarkan kondisi klinik dan pengetahuan
yang dilakukan perawat untuk membantu pasien mencapai hasil yang diharapkan.
Perawat dapat memberikan alasan ilmiah yang terbaru mengapa tindakan itu yang
diberikan. Alasan ilmiah yang terbaru mengapa tindakan itu yang diberikan.
Alasan ilmiah dapat merupakan pengetahuan berdasarkan literature, hasil
penelitian atau pengalaman praktik. Rencana tindakan berupa : tindakan
konseling atau psikoterapeutik, pendidikan kesehatan, perawatan mandiri dan
aktivitas hidup sehari-hari, terapi modalitas keperawatan, perawatan
berkelanjutan (continuity care), tindakan kolaborasi (terasi somatic dan
psikofarmaka). Bulecheck dan McClokey (1996) menyatakan bahwa keuntungan NIC
adalah sebagai berikut :
1)
Membantu menunjukkan aksi perawat dalam sistem pelayanan kesehatan.
2)
Menstandarisasi dan mendefinisikan dasar pengetahuan untuk kurikulum dan
praktik keperawatan.
3)
Memudahkan memilih intervensi keperawatan yang tepat.
4)
Memudahkan komunikasi tentang perawat kepada perawat lain dan penyedia
layanan kesehatan yang tepat.
5)
Memperbolehkan peneliti untuk menguji keefektifan dan biaya perawatan.
6)
Memudahkan pengajaran pengambilan keputusan klinis bagi perawat baru.
7)
Membantu tenaga administrasi dalam perencanaan staf dan peralatan yang
dibutuhkan lebih efektif.
8)
Memudahkan perkembangan dan penggunaan sistem infromasi perawat.
9)
Mengkomunikasikan kealamiahan perawat kepada publik.
Adapun kelebihan NIC :
1)
Komprehensif.
2)
Berdasarkan riset.
3)
Dikembangkan lebih didasarkan pada praktek yang ada
4)
Mempunyai kemudahan untuk menggunakan struktur organisasi (domain, kelas,
intervensi, aktivitas).
5)
Bahasa jelas dan penuh arti klinik.
6)
Dikembangkan oleh tim riset yang besar dan bermacam-macam tim.
7)
Menjadi dasar pengujian.
8)
Dapat diakses melalui beberapa publikasi.
9)
Dpat dihubungkan Diagnosa Keperawata NANDA.
10)
Dapat dikembangkan bersama NOC.
11)
Dapat diakui dan diterima secara nasional
(Bulechek dan McClokey, 1996).
b. Intervensi NOC
NOC (Nursing Outcome Classification) adalah proses
memberitahukan status klien setelah dilakukan intervensi keperawatan. Standar
kriteria hasil dikembangkan untuk mengukur hasil dari tindakan keperawatan yang
digunakan pada semua area keperawatan dan semua klien (individu, keluarga,
kelompok, dan masyarakat). NOC mempunyai tujuh domain yaitu fungsi kesehatan,
fisiologi kesehatan, kesehatan psikososial, pengetahuan dan perilaku kesehatan,
persepsi kesehatan, kesehatan keluarga dan kesehatan masyarakat.
NOC menggambarkan respon pasien terhadap tindakan keperawatan. NOC mengevaluasi
hasil pelayanan keperawatan sebagai bagian dari pelayanan kesehatan. Standar
kriteria hasil pasien sebagai dasar untuk menjamin keperawatan sebagai
partisipan penuh dalam evaluasi klinik bersama dengan disiplin ilmu kesehatan
lain. Klasifikasi berisi 190 kriteria hail yang diberi label, definisi dan
indikator atau ukuran untuk menentukan kriteria hasil yang diterima (Johnson
dan Mass, 1997).
Manfaat NOC dalam keperawatan adalah :
1)
Memberikan label dan ukuran-ukuran untuk kriteria hasil yang komprehensif.
2)
Sebagai hasil dari intervensi keperawatan.
3)
Mendefinisikan kriteria hasil yang berfokus pada pasien dan dapat
digunakan perawat-perawat dan disiplin ilmu lain.
4)
Memberikan informasi kriteria hasil yang lebih spesifik dari status
kesehatan yang umum.
5)
Menggunakan skala untuk mengukur kriteria hasil dan memberikan informasi
kuantitatif (Bulecheck dan McClokey, 1996)
2.8.
TIPE
DOKUMENTASI RENCANA TINDAKAN
1.
Traditionally
designed care plans
Tipe dokumentasi rencana keperawatan ini menggunakan
tiga pendekatan yaitu diagnosa keperawatan, kriteria hasil, dan intervensi
keperawatan atau instruksi keperawatan.
2.
Standarlized
care plans
Tipe dokumentasi rencana keperawatan ini menggunakan
standar praktik keperawatan dalam pendokumentasian, yaitu:
a. Rencana
perawatan dicetak berdasarkan diagnosa medik atau prosedur khusus seperti
prosedur kateteriasi jantung, pembedahan, dan lain-lain. Tipe ini
mengantisipasi respon terhadap prosedur yang dilakukan.
b. Rencana
perawatan dibuat berdasarkan diagnosa keperawatan. Hal ini digunakan
berdasarkan pengkajian pasien yang mendukung diagnosa perawatan. Kemudian
perawat menuliskan secara lengkap etiologi dan masalah.
c. Rencana
perawatn dibuat dengan menggunakan standar komputer. Perawat dapat menyeleksi
masalah klien dari menu yang terdapat dalam komputer. Dalam pelaksanaannya,
perawat hanya memberikan tanda terhadap tindakan yang di pilih dari daftar
masalah yang ada.
3.
Traditionally
designed care plans
Tipe dokumentasi rencana keperawatan ini menggunakan
tiga pendekatan yaitu diagnosa keperawatan, kriteria hasil, dan intervensi
keperawatan atau instruksi keperawatan.
4.
Standarlized
care plans
Tipe dokumentasi rencana keperawatan ini menggunakan
standar praktik keperawatan dalam pendokumentasian, yaitu:
a. Rencana
perawatan dicetak berdasarkan diagnosa medik atau prosedur khusus seperti
prosedur kateteriasi jantung, pembedahan, dan lain-lain. Tipe ini
mengantisipasi respon terhadap prosedur yang dilakukan.
b. Rencana
perawatan dibuat berdasarkan diagnosa keperawatan. Hal ini digunakan
berdasarkan pengkajian pasien yang mendukung diagnosa perawatan. Kemudian
perawat menuliskan secara lengkap etiologi dan masalah.
c. Rencana
perawatn dibuat dengan menggunakan standar komputer. Perawat dapat menyeleksi
masalah klien dari menu yang terdapat dalam komputer. Dalam pelaksanaannya,
perawat hanya memberikan tanda terhadap tindakan yang di pilih dari daftar
masalah yang ada.
2.9.
PRINSIP
&PEDOMAN PENULISAN RENCAN TINDAKAN
Secara umum pedoman untuk rencana
keperawatan yang efektif adalah sebagai berikut:
a.
Sebelum menulis, cek sumber informasi
data
b.
Buat rencana keperawatan yang mudah
dimengerti. Gunakan gambar atau grafik kalau perlu
c.
Tulisan harus jelas, spesifik, dapat
diukur, dan kriteria hasil sesuai dengan identifikasi masalah
d.
Memulai instruksi perawatan harus menggunakan
kata kerja seperti : catat, informasikan, dan lain-lain
Gunakan
pena tinta dalam menulis untuk mencegah.
2.10.
METODE
DOKUMENTASI RENCANA TINDAKAN
Fokus dari perencanaan adalah untuk menyusun cetak biru (blue print) dari
rencana
intervensi
dengan
memakai
pendekatan
penyelesaian
masalah.
Melalui proses ini, perawat
memprioritaskan
dan
membuat
daftar
masalah
klien yang memerlukan
intervensi
keperawatan, menyusun
criteria hasil yang diharapkan, dan mengelola kondisi klien yang perlu
segera
diintervensi.
Komponen penting dalam rencana asuhan keperawatan, Rencana asuhan keperawatan mempunyai tiga hal penting, yaitu diagnosis keperawatan, kriteria hasil yang diharapkan, dan
rencana
intervensi
keperawatan.
2.11.
PETUNJUK
PENULISAN RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN YANG EFEKTIF
1. Sebelum menuliskan rencana asuhan keperawatan, kaji
ulang
semua data yang ada. Sumber
data yang memuaskan, meliputi :
a. Pengkajian awal pada saat pertama kali klien
masuk
rumah
sakit.
b. Diagnosis keperawatan
pada
saat
pertama kali masuk
rumah
sakit.
c. Keluhan utama klien atau alasan yang berhubungan
dengan
pelayanan
kesehatan.
d. Hasil pemeriksaan laboratorium.
e. Latar belakang sosial budaya.
f. Riwayat kesehatan dan pemeriksaanfisik.
g. Observasi dari profesi kesehatan lain.
2. Daftar dan jenis masalah aktual, risiko, dan
potensial.
Berikan prioritas utama pada masalah aktual yang mengancam
jiwa, yang dihubungkan
dengan
masalah yang mengancam
kesehatan, pertanyaan
untukperawat.
a. Apakah masalah cukup jelas dan ringkas?
b. Apakah masalah tersebut mencerminkan data subjektif
dan
objektif yang telah
diperoleh
?
c. Apakah perawat lain mengerti
apa yang telah
ditulis
?
d. Apakah faktor penyebab dan data penunjang
cukup
jelas
dimengerti
dan
membantu
menentukan
prioritas
masalah
?
e. Apakah masalah potensial sudah valid ?
f. Apakah setiap masalah telah terkaji ?
3. Untuk mempermudah penyusunan rencana intervensi keperawatan berilah gambaran dan ilustrasi (contoh) khususnya diagnosis. Hal ini
sangat
membantu
ketika
teknologi
canggih
digunakan
untuk
perawatan
klien
atau
ketika
menggambarkan
lokasi
anatomi.
4. Kriteria hasil yang diharapkan
untuk
menetapkan
masalah
harus
ditulis
dengan
jelas, khusus, dan
terukur. Keterampilan
kognitif, afektif, dan
psikomotor yang memerlukan
perhatian
ditentukan
bersama
dengan
klien.
5. Rencana intervensi keperawatan harus selalu ditandatangani
dan
diberitanggal. Hal ini
penting
karena
seorang
perawatan professional bertanggungjawab
dan
bertanggung
gugat
dalam
melaksanakan
rencana
intervensi yang telah
tertulis.
6. Mulai rencana intervensi dengan menggunakan kata kerja (action verb) :
a. Catat tanda-tanda vital setiap
pergantian
dinas.
b. Timbang BB setiaphari.
c. Informasikan kepada klien alas anisolasi.
7. Alasan prinsip kekhususan (specificity)
untuk menuliskan diagnosis keperawatan :
a. Menjelaskan bagaimana prosedur akan dilaksanakan.
b. Menjelaskan kapan dan berapa lama prosedur
akan
dilaksanakan.
c. Menjelaskan secara singkat keperluan apa yang harus
dipenuhi, termasuk
tahapan-tahapan
intervensi.
8. Tuliskan rasionalisasi dari rencana intervensi. Hal sangat
membantu
perawat
untuk
membantu
dalam
mengevaluasi
efektivitas
intervensi
dan
bekerja
secara
rasional, tidak
hanya
berdasarkan
kegiatan
rutinitas.
9. Rencana intervensi harus selalu tertulis dan ditandatangani.
10. Rencana intervensi harus didokumentasikan
sebagai
hal yang permanen.
11. Mengikut sertakan klien dan keluarganya dalam perencanaan, jika
memungkinkan.
12. Rencana intervensi harus sesuai dengan waktu yang ditentukan
dan
diusahakan
untuk
selalu
diperbaharui. Misalnya
setiap
pergantian
dinas, setiap
hari, dan/atau
sewaktu-waktu
diperlukan.
|
Tanggal
|
Diagnosa
|
Intervensi
|
Implementasi
|
|
04 April 2017
|
Nyeri,
akut
|
1.
Pemberian Analgesik
a. Cek perintah
pengobatan meliputi obat, dosis, dan frekuensi obat analgesik yang diberikan.
b. Tinggalkan
narkotik dan obat-obat lain yang dibatasi, sesuai dengan aturan rumah sakit.
2.
Manajemen Nyeri
a.
Pastikan perawatan analgesik bagi pasien dilakukan
dengan pemantauan yang ketat.
b.
Gunakan strategi komunikasi terapeutik untuk
mengetahui pengalaman nyeri dan sampaikan penerimaan pasien terhadap nyeri.
3.
Bantuan pasien untuk
mengontrol pemberian Analgesik.
a.
Berkolaborasi dengan dokter, pasien, dan anggota
keluarga dalam memilih jenis narkotik yang akan digunakan.
b.
Pastikan bahwa pasien tidak alergi terhadap
analgesik yang akan diberikan.
4.
Manajemen Sedasi
a.
Intruksikan klein atau keluarga mengenai efek
pembiusan
b.
Evaluasi tingkat kesadaran klien dan refleks
protektif sebelum pembiusan.
5.
Monitor
Tanda-Tanda Vital
a.
Monitor tekanan darah, nadi, suhu, dan status
pernafasan dengan tepat.
b.
Monitor warna kulit, suhu dan kelembaban.
|
1. Pemberian Analgesik
a. Mengecek perintah pengobatan
meliputi obat, dosis, dan frekuensi obat analgesik yang diberikan.
b. Meninggalkan narkotik dan obat-obat
lain yang dibatasi, sesuai dengan aturan rumah sakit.
2. Manajemen Nyeri
a. Memastikan
perawatan analgesik bagi pasien dengan melakukan pemantauan yang ketat.
b. Menggunakan
strategi komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri dengan
menyampaikan penerimaan pasien terhadap nyeri.
3. Bantuan pasien untuk mengontrol pemberian Analgesik.
a.
Melakukan kolaborasi dengan dokter, pasien, dan
anggota keluarga dalam memilih jenis narkotik yang akan digunakan.
b.
Memastikan bahwa pasien tidak alergi terhadap
analgesik yang akan diberikan.
4. Manajemen Sedasi
a.
Mengintruksikan klein atau keluarga mengenai efek
pembiusan
b.
Mengevaluasi tingkat kesadaran klien dan refleks
protektif sebelum melakukan pembiusan.
5. Monitor Tanda-Tanda Vital
a.
Memonitori tekanan darah, nadi, suhu, dan status
pernafasan dengan tepat.
b.
Memonitori warna kulit, suhu dan kelembaban.
|
|
Tanggal
|
Diagnosa
|
Intervensi
|
Implementasi
|
|
04 April 2017
|
Hipertermia
|
1.
Perawatan demam
a. Pantau suhu
dan tanda-tanda vital.
b. Monitor
asupan dan keluaran, sadari perubahan kehilangan cairan yang tak dirasakan.
2.
Peresepan Obat
a. Evaluasi
tanda dan gejala dari masalah kesehatan saat ini.
b.
Identifikasi alergi yang diketahui.
3.
Pengaturan Suhu : perioperatif
a. Identifikasi
pada pasien adanya faktor risiko mengalami suhu tubuh yang abnormal,
(misalnya, anastesi general, umur, trauma besar, pasien dengan luka bakar,
berat badan rendah, faktor pribadi atau risiko keluarga mengalami hepetermi
maligna).
b. Sebelumnya
hangatkan pasien dengan peralatan penghangat yang aktif (misalnya, penghangat
dorongan udara) paling tidak 15 menit sebelum mulai anastesi, sesuai
kebutuhan.
|
1.
Perawatan demam
a. Memantau
suhu dan tanda-tanda vital.
b. Memonitori
asupan dan keluaran, sadari perubahan kehilangan cairan yang tak dirasakan.
2.
Peresepan Obat
a. Mengevaluasi
tanda dan gejala dari masalah kesehatan saat ini.
b.
Mengidentifikasi alergi yang diketahui.
3.
Pengaturan Suhu : perioperatif
a. Mengidentifikasi
pada pasien adanya faktor risiko mengalami suhu tubuh yang abnormal,
(misalnya, anastesi general, umur, trauma besar, pasien dengan luka bakar,
berat badan rendah, faktor pribadi atau risiko keluarga mengalami hipertermi
maligna).
b.
Sebelumnya menghangatkan pasien dengan peralatan penghangat yang aktif
(misalnya, penghangat dorongan udara) paling tidak 15 menit sebelum mulai
anastesi, sesuai kebutuhan.
|
BAB
3
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN
Perencanaan
adalah bagian dari fase pengorganisasian dalam memproses keperawatan yang
meliputi tujuan perawatan, menetapkan pemecahan masalah, dan menentukan tujuan perencanaan
untuk mengatasi masalah pasien.
Dari
makalah yang kami buat di atas dapat disimpulkan bahwa perencanaan asuhan keperawatan penting
dilakukan karena kita sebagai perawat dalam mengetahui apa itu perencanaan
asuhan keperawatan, tujuanperencanaan dan pentingnyaperencanaan, kitabisa
mengerti dalam bagaimana untuk memecahkan masalah, dan menentukan tujuan
perencanaan untuk mengatasi masalah kesehatan pada pasien.
3.2. SARAN
Kami
menyadari bahwa kekurangan dalam makalah yang kami buat di atas merupakan
kelemahan dari pada kami, karena terbatasnya kemampuan kami untuk memperoleh
data dan informasi karena terbatasnya pengetahuankami.
Jadi
yang kamiharapkan kritik dan saran yang membangun agar kami dapat membuat makalah
yang lebih baik lagi.
Paula, 2009, Proses Keperawaatan Aplikasi
Model Konseptual, Jakarta:EGC.
Bulechek, G., Buthcher. H., & Dochterman, J. (Eds). 2008. Nursing Interventions Classification (NIC).
St.Louis, MO: Mosby
Craven, R. F. & Hirnle, C.J (2009). The body’s defense against
infection. In fundamentals of nursing:
Human health and function. Philadelpia: Lippincott Williams & Wilkins.
Smith, S. F., Duell, D. J., & Martin, B. C. (2008). Clinical nursing skills: Basic to adventure
skills. Upper Saddle River, NJ: Pearson Prentice Hall.
Nursalam, 2009, Pendidikan Dalam
Keperawatan, Jakarta: Salemba Medika.
Komentar
Posting Komentar