Dibalik Kebencianmu
Cinta kita melukiskan sejarah
Menggelarkan cerita penuh suka cita
Sehingga siapapun insan Tuhan Pasti tau cinta kita sejati
Lagu itu yang selalu aku nyanyikan setiap hari. Seakan-akan lagu itu menjadi hal yang wajib untuk aku nyanyikan setiap hari. Aku suka lagu itu karena lagu itu menggambarkan bagaimana perasaanku. Ya benar, aku baru saja kehilangan cinta sejatiku. Dia meninggal karena kecelakaan setahun yang lalu. Saat itu hatiku hancur berkeping-keping. Aku tak percaya dengan semua itu. Sehari sebelum dia meninggal, dia mengirim pesan sms yang sampai saat ini aku tak pernah bosan untuk membacanya. Yang isinya :
“Neng, aku harap kamu jaga baik-baik cinta kita berdua. Jika nanti aku pergi jauh, aku ingin kamu tidak pernah melupakan aku meskipun nanti kamu sudah mendapatkan penggantiku. Doakan aku supaya aku tenang dan baik-baik saja. Ku harap kamu bisa mengerti.”
Nafiz Al-farabyi
Aku selalu menangis disetiap aku membaca surat itu. Hampir setiap hari aku datang ke kuburan untuk membacakan doa sekaligus menabur bunga. Dari itulah aku mulai patah semangat untuk belajar. Saat di kelas aku tak pernah mendengarkan guru yang sedang mengajar, melainkan aku melamun sambil memakai hadsat dengan mendengarkan sebuah lagu yang berjudul “Setelah kau tiada”. Sampai-sampai guruku menegorpun aku tak mendengarnya.
“Yuli. . .apa yang sedang kamu lamunkan?” (bentak bu guru) Teman sebangkuku menegorku, tapi tidak aku hiraukan.
“Yuli. . . !!!” (bu guru membentakku lagi) Akhirnya aku melepaskan hadsat dan aku berkata “Iyaa ibu 3 x 3 = 9, dan 9 itu akar dari 3”
Teman-temanku melihatku sambil tertawa. Aku tak mengerti mengapa mereka menertawakanku, padahal aku sudah menjawab pertanyaan guruku.
Bu guru bertanya “Apa yang sedang kamu fikirkan sehingga kamu melamun dan tidak mendengarkan ibu?”
“Tidak bu, saya mendengarkan ibu kok”
“Sudah jangan banyak alasan. Sekarang kamu keluar dan jangan masuk sampai nanti pelajaran kedua” Aku pun merasa kesal dengan tindakan guruku tersebut. Tapi setelah aku fikir-fikir ternyata aku juga yang salah. Akhirnyapun aku keluar kelas sampai menunggu pelajaran kedua.
Jam 08.20 bel berbunyi, akhirnya aku boleh masuk pelajaran selanjutnya. Jam dinding pun terus berputar. Kebiasaanku adalah sering melihat jam dinding untuk menunggu jam pulang sekolah. “Teeeettttttt......” hatiku senang karna waktu sudah menunjukkan waktu untuk pulang ke rumah. Hari ini adalah hari sial dalam hidupku, di gerbang sekolah aku ketemu sama kak Barky. Dia ketos di sekolahku. Dia itu orangnya super doble nyebelin. Gimana gak mau nyebelin coba’??? Pasti disetiap ketemu dia selalu mengejekku dengan kata “CEWEK BRANDAL” . Aku berharap aku gak akan pernah ketemu dia lagi. Eeeehhh...malah pulang sekolah ketemu dia . Hikssss “Heeiii....cewek brandal...mau pulang sekolah yaa?!” (sapa dia padaku) Aku jawab dengan suara keras dan muka marah “Apa siih mau kamu? Gak bisa yaa sehari aja gak ngejek aku !! Dasar ketos gila, cuman ngandalin pangkat doang!!” Aku langsung bergegas-begas pulang ke rumah tanpa menghiraukan perkataan dia lagi.
Aku sangat kesal dengan kak Barky. Setiap hari dia tidak pernah absen untuk mengejekku. Bumi terus berputar, haripun mulai berganti. Sudah seminggu ini aku merasakan kesepian. Aku tak tau mengapa aku seperti ini. Oh yaa aku baru ingat, sudah seminggu ini aku tidak pernah melihat kak Barky lewat depan kelasku. Biasanya dia selalu mengejekku dengan kata “cewek brandal”. Hatiku terketuk untuk bertanya kepada sahabat kak barky, namanya mbak Dina.
“Mbak, ngomong-ngomong seminggu ini aku udah lama gak liat kak Barky. Emangnya dia kemana yaa mbak?” (tanyaku dengan nyantai) (Mbak Dina menjawab)
“Kamu gak tau ya dek, Barky kan punya penyakit kanker pencernaan jadi untuk sementara ini dia gak masuk sekolah agar bisa ngejalanin terapi biar cepat sembuh”
Aku kaget dan aku langsung mengakhiri pembicaraanku dengan mbak Dina “Yasudah yaa mbak makasih buat infonya”
“Okee sama-sama adek”
Aku gak nyangka ternyata cowok kayak kak Barky yang tangguh dan tak pernah mengeluh punya penyakit parah juga. Aku segera mendatangi ruang TU untuk menanyakan alamat rumah kak Barky.
“Tookkk...toookkk...tookk.. Permisi pak boleh saya nanyak-nanyak gag pak?”
Guru TU menjawab “Iya tentu boleh, mau nanyak apa yaa nak?”
“Begini pak, saya dengar-dengar kalo kak Barky sedang sakit. Jadi saya ingin minta alamat rumahnya untuk menjenguk kak Barky”
“Oh, iyaa tunggu bentar masih bapak carikan” Beberapa menit kemudian, akhitrnya bapak TU memberikan alamat kak Barky dan tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepada bapak TU.
Pulang sekolah aku langsung menuju rumah kak Barky.
“Tookk..tookk..tookk.. Assalamualaikum”
Seorang ibu-ibu keluar dari dalam rumah “Waalaikumsalam, cari siapa yaa nak?”
“Mohon maaf sebelumnya, apa benar ini rumah kak Barky?”
Ibu itu menjawab “Iyaa betul nak. Pacarnya Barky yaa? Saya ini ibunya”
Aku kaget dengan pertanyaan ibu kak Barky dan aku langsung menjawab “Bukan bu, tapi saya adik kelasnya."
“Oh, mari silahkan masuk” Ibu itu mempersilahkan aku masuk dan duduk di ruang tamu. Sesampai di ruang tamu, ibu kak Barky bertanya kembali kepadaku.
“Kalau boleh saya tau nama kamu siapa yaa nak?”
“Saya Yuli bu, apa sebelumnya ibu pernah melihat saya?” Ibu kak Barky tersenyum dan menjawab
“Yuli?? Ternyata kau cantik dan baik. Pantesan Barky sering sekali bercerita tentang kamu kepada ibu. Asal kamu tau yaa nak, Barky itu suka sama kamu sudah lama tapi dia malu untuk mengatakannya kepada kamu. Dia takut cintanya tidak diterima karna dia trauma sama yang namanya pacaran. Dulu Barky pernah pacaran, tapi pacarnya meninggal karna kecelakaan. Jadi sampai sekarang dia truma sama yang namanya pacaran.”
Aku terkejut mendengar cerita Ibu kak Barky, ternyata diam-diam dalam kebencian kak Barky padaku, dia juga memendam rasa cinta padaku. Aku sedikit tidak percaya. Tapi.....ternyata aku juga memendam rasa cinta itu. Semenjak Nafis meninggalkanku, Kak Barky lah yang mengisi hari-hariku meskipun sedikit mengesalkan. Tiba-tiba kak Barky keluar dari kamarnya dengan muka pucat. Kak Barky mendengar percakapan antara aku dan ibunya, Kak Barky pun merasa malu.
“Maukah kamu besok aku antar ke kuburan Nafis? Bukankah setiap malam jumat kamu selalu ke kuburan Nafiz?”
“Dari mana kakak tau? Sudahlah tak usah, mending kakak istirahat saja”
“Sudahlah jangan menolak, besok aku jemput kamu jam 4 sore.” Akupun tidak bisa menolak. Aku pamit pulang karna aku sudah cukup lama berada di rumah kak Barky. Keesokan harinya tepat jam 4 sore kak Barky menjemputku untuk pergi ke makam. Sesampainya di kuburan Bang Nafiz, aku dan Kak Barky membacakan doa untuk Bang Nafiz. Beberapa menit kemudian kak Barky langsung berlutut di hadapanku.
“Yuli.. Jujur, sedari awal aku melihatmu aku merasa ada yang berbeda dengan dirimu. Kamu sesosok perempuan yang spesial dalam hidupku. Kalau boleh, Maukah kamu menjadi perempuan terakhir dalam hidupku? Dan maukah kamu menerima aku apa adanya meskipun aku punya banyak kekurangan dan bahkan aku mempunyai penyakit yang bisa di bilang parah? Maafkan diri ini yang tidak tahu diri, seharusnya aku tidak menyatakan ini padamu. Mana mungkin kamu mau denganku yang jelas-jelas aku berpenyakitan seperti ini”
Aku menjawab dengan tersenyum “Sssst... Jangan berkata seperti itu, Tidak ada makhluk Tuhan yang sempurna kak. dibalik kekuranganmu masih banyak kelebihan yang kakak punya. Jangan pernah jadikan penyakit ini sebuah penyesalan hidup.Yaa aku mau jadi pacar kakak asalkan kakak mau setia denganku sampai akhir khayatku.”
Kak Barky menjawab “Pasti, aku akan berjanji padamu!” Aku balas dengan senyuman dan dalam hati aku berkata “Bang Nafiz, akhirnya aku mendapatkan penggantimu yang bisa menerima aku dengan apa adanya. Tapi aku janji, aku tidak akan pernah melupakan cinta kita dahulu.” Aku menangis sambil tersenyum. Kak Barky pun mengusap air mataku dan berkata “Love you”
“Love you too” Akhirnya kami berdua jadian tepat di samping kuburan bang Nafis. Kita berdua senang dan hubungan kita berdua terus berlanjut sampai ke pelaminan.
Komentar
Posting Komentar