Dibalik Pelangi Ada Bintang
Pagi yang cerah kian menyapaku pada pagi hari ini. Tapi, seperti ada yang aneh dalam tidurku tadi. Aku mimpi sangat buruk sekali. Tetapi aku tidak bisa mengartikan apa arti dalam mimpiku tersebut. “Sudahlah, kata orang mimpi itu hanya bunga tidur”. Kebiasaanku setelah bangun tidur yaitu sholat subuh berjemaah dengan keluargaku. Sebelum aku sholat berjemaah, terlebih dahulu aku mengambil air wudhu ke kamar mandi. Dingin sekali air itu, sampai-sampai aku tak berani untuk menyentuhnya. Perlahan-lahan aku mengambil air wudhu dan segera ke musholla untuk sholat berjemaah. Aku sholat dengan khusuk tanpa memikirkan segala sesuatu yang ada dalam otakku. Selesai sholat berjemaah, aku langsung ke kamarku dan akupun tidur kembali. Ku harap setelah aku tidur kembali tidak ada orang yang menggangguku tidur.
“Toook took took……!!!” (suara bunyi pintu). Ada seseorang yang mengetuk pintu rumahku. Tapi aku tak hiraukan bunyi itu dan aku tidur kembali. Setelah beberapa menit kemudian ibuku membangunkanku. “dian, ada bintang di depan rumah”. Aku terbangun dan aku baru ingat kalau hari ini aku punya janji dengan pacarku Bintang untuk melihat pelangi dan melukis nama dia di batu besar di pantai tepatnya di belakang rumahku. Aku pun langsung bangun dan ke depan rumah untuk menemui Bintang.
“Diana, apakah kau sudah lupa dengan janjimu hari ini untuk melihat pelangi dan memahat namaku di batu besar?” Tanya Bintang padaku.
Aku pun menjawab “Tidak, aku tidak lupa dengan janjiku, hanya saja aku tertidur sebentar”.
“Yasudah cepat sana kau ganti baju sebelum pelangi itu hilang”. Kebetulan pagi ini hujan deras tanpa mendung. Sebenarnya aku tidak menginginkan semua ini karena hari ini adalah hari terakhirku bertemu dengan Bintang. Dia akan meninggalkanku untuk 3 tahun ke depan karena dia ingin melanjutkan sekolahnya S2 ke Amerika.
“Dian, sudah apa belum yang ganti baju?”.
“Iya sudah”. (jawabku).
Bintang memuji ku “Cantik sekali kamu hari ini. Aku sampai pangling melihatmu.”
“Sudahlah pagi-pagi jangan ngegombal. Ayo cepat berangkat”. Di perjalanan mataku berkaca-kaca, aku tidak kuat untuk merelakan Bintang pergi meninggalkanku.
“Dian, kenapa kau menangis?”
“Enggak, aku gak nangis kok cuman mataku kelilipan saja.” Aku langsung memegang tangan Bintang dengan erat.
“Kenapa kamu memegang tanganku dengan erat sekali?”
“Mungkin hari ini adalah hari terakhirku bertemu denganmu.”
“Tidak Dian, aku hanya meninggalkanmu sebentar saja cuman 3 tahun.”
“3 tahun kamu bilang sebentar? 3 tahun adalah waktu yang lama.”
“Tenang saja aku pasti kembali dan sepulang dari Amerika, aku ingin langsung melamarmu.” Tak lama kemudian kami berdua sampai di pantai.
“Bintang, hari ini adalah hari terakhir kita berdua melihat pelangi bersama.”
“Aku tak suka kamu selalu bilang ini adalah hari terakhir kita berdua bertemu. Kita pasti bertemu kembali Dian, tenang saja aku akan tepati janjiku ini. Yasudah cepatlah kau pahat namaku di batu besar itu.”
Aku pun memahat nama Bintang di batu besar itu sambil melihat pemandangan pelangi diatas awan. “Sudahkah Dian kau memahat namaku di batu besar itu?”
“Sudah, tapi aku minta 1 permintaan” (Bintang tercengang dan bertanya padaku) “Apa permintaanmu itu Dian?”
“Pertama, kamu jangan lupa kabari aku setiap bulan lewat pesan facebook. Kedua, sepulang dari Amerika kamu harus memahat namaku juga di batu besar itu. Ketiga, Jika kita tidak bisa bertemu lagi ku harap kamu jangan pernah melupakan kenangan yang pernah kita lewati bersama selama ini.”
(Bintang menjawab) “Aku akan kabulkan semua permintaanmu itu Dian. Tapi…. Kenapa katamu kita tidak bisa bertemu lagi? Aku tak suka permintaan yang nomer 3 itu”
“Sudahlah jangan banyak tanya, yang penting kamu tepati semua permintaanku itu”. Aku tau mungkin Bintang bingung dengan permintaanku yang aneh itu. Tapi aku rasa suatu saat nanti Bintang pasti tau apa yang aku maksud.
“Besok kamu mau ikut mengantarkan aku ke Bandara?”
“Tidak, aku tidak mau menangis melihat kamu pergi dariku. Aku hanya mengantarmu sampai depan rumah saja.”
“Baiklah kalau ini mau kamu.” Kami pun pulang dari pantai karena hari sudah mulai panas. Sesampai di rumah, aku tak lupa untuk sholah dzhuhur dan mandi. Dari pagi sampai sekarang aku belum makan, karena aku tidak nafsu makan.
Waktu pun bergerak dengan cepat, hari mulai gelap dan aku tertidur lelap sekali. Hari pun sudah mulai pagi, aku tau hari ini Bintang akan berangkat ke Bandara dan melanjutkan sekolah S2nya di Amerika. Sebulan, dua bulan, tiga bulan Bintang tidak lupa untuk mengirim pesan lewat facebook untuk menanyakan kabarku. Pagi yang indah dan suasana yang dingin sekali. Yaaa benar sekali hari ini aku ada di Korea, Negara yang aku idam-idamkan dari dulu untuk bisa datang ke Negara ini. Disini aku melakukan terapi sekaligus pengobatanku karena aku mengidam penyakit kanker. Bintang tidak pernah tau soal ini karena aku tak pernah bercerita tentang ini semua kepadanya. Aku tak mau kuliah dia terganggu cuman hanya karena memikirkan penyakitku ini. Biarlah hanya aku dan orang tuaku yang tau tentang semua ini. 3 tahun lamanya aku berada di Korea, tapi……. Sepertinya terapi ini tidak ada hasilnya. Semakin hari rambutku semakin tidak ada dan badanku terlihat kurus sekali. Bintang selalu mengirim pesan lewat facebook tapi aku tidak pernah membalas pesan itu Karena jari-jariku tidak kuat untuk mengetik di atas keyboard. Tanganku penuh dengan jarum suntik yang di tusuk setiap hari oleh dokter. Aku juga sulit untuk bernafas, oleh karena itu aku diberi bantuan oksigen. Aku pun meminta bantuan ibuku untuk membalas pesan dari Bintang.
“Toook took took……!!!” (suara bunyi pintu). Ada seseorang yang mengetuk pintu rumahku. Tapi aku tak hiraukan bunyi itu dan aku tidur kembali. Setelah beberapa menit kemudian ibuku membangunkanku. “dian, ada bintang di depan rumah”. Aku terbangun dan aku baru ingat kalau hari ini aku punya janji dengan pacarku Bintang untuk melihat pelangi dan melukis nama dia di batu besar di pantai tepatnya di belakang rumahku. Aku pun langsung bangun dan ke depan rumah untuk menemui Bintang.
“Diana, apakah kau sudah lupa dengan janjimu hari ini untuk melihat pelangi dan memahat namaku di batu besar?” Tanya Bintang padaku.
Aku pun menjawab “Tidak, aku tidak lupa dengan janjiku, hanya saja aku tertidur sebentar”.
“Yasudah cepat sana kau ganti baju sebelum pelangi itu hilang”. Kebetulan pagi ini hujan deras tanpa mendung. Sebenarnya aku tidak menginginkan semua ini karena hari ini adalah hari terakhirku bertemu dengan Bintang. Dia akan meninggalkanku untuk 3 tahun ke depan karena dia ingin melanjutkan sekolahnya S2 ke Amerika.
“Dian, sudah apa belum yang ganti baju?”.
“Iya sudah”. (jawabku).
Bintang memuji ku “Cantik sekali kamu hari ini. Aku sampai pangling melihatmu.”
“Sudahlah pagi-pagi jangan ngegombal. Ayo cepat berangkat”. Di perjalanan mataku berkaca-kaca, aku tidak kuat untuk merelakan Bintang pergi meninggalkanku.
“Dian, kenapa kau menangis?”
“Enggak, aku gak nangis kok cuman mataku kelilipan saja.” Aku langsung memegang tangan Bintang dengan erat.
“Kenapa kamu memegang tanganku dengan erat sekali?”
“Mungkin hari ini adalah hari terakhirku bertemu denganmu.”
“Tidak Dian, aku hanya meninggalkanmu sebentar saja cuman 3 tahun.”
“3 tahun kamu bilang sebentar? 3 tahun adalah waktu yang lama.”
“Tenang saja aku pasti kembali dan sepulang dari Amerika, aku ingin langsung melamarmu.” Tak lama kemudian kami berdua sampai di pantai.
“Bintang, hari ini adalah hari terakhir kita berdua melihat pelangi bersama.”
“Aku tak suka kamu selalu bilang ini adalah hari terakhir kita berdua bertemu. Kita pasti bertemu kembali Dian, tenang saja aku akan tepati janjiku ini. Yasudah cepatlah kau pahat namaku di batu besar itu.”
Aku pun memahat nama Bintang di batu besar itu sambil melihat pemandangan pelangi diatas awan. “Sudahkah Dian kau memahat namaku di batu besar itu?”
“Sudah, tapi aku minta 1 permintaan” (Bintang tercengang dan bertanya padaku) “Apa permintaanmu itu Dian?”
“Pertama, kamu jangan lupa kabari aku setiap bulan lewat pesan facebook. Kedua, sepulang dari Amerika kamu harus memahat namaku juga di batu besar itu. Ketiga, Jika kita tidak bisa bertemu lagi ku harap kamu jangan pernah melupakan kenangan yang pernah kita lewati bersama selama ini.”
(Bintang menjawab) “Aku akan kabulkan semua permintaanmu itu Dian. Tapi…. Kenapa katamu kita tidak bisa bertemu lagi? Aku tak suka permintaan yang nomer 3 itu”
“Sudahlah jangan banyak tanya, yang penting kamu tepati semua permintaanku itu”. Aku tau mungkin Bintang bingung dengan permintaanku yang aneh itu. Tapi aku rasa suatu saat nanti Bintang pasti tau apa yang aku maksud.
“Besok kamu mau ikut mengantarkan aku ke Bandara?”
“Tidak, aku tidak mau menangis melihat kamu pergi dariku. Aku hanya mengantarmu sampai depan rumah saja.”
“Baiklah kalau ini mau kamu.” Kami pun pulang dari pantai karena hari sudah mulai panas. Sesampai di rumah, aku tak lupa untuk sholah dzhuhur dan mandi. Dari pagi sampai sekarang aku belum makan, karena aku tidak nafsu makan.
Waktu pun bergerak dengan cepat, hari mulai gelap dan aku tertidur lelap sekali. Hari pun sudah mulai pagi, aku tau hari ini Bintang akan berangkat ke Bandara dan melanjutkan sekolah S2nya di Amerika. Sebulan, dua bulan, tiga bulan Bintang tidak lupa untuk mengirim pesan lewat facebook untuk menanyakan kabarku. Pagi yang indah dan suasana yang dingin sekali. Yaaa benar sekali hari ini aku ada di Korea, Negara yang aku idam-idamkan dari dulu untuk bisa datang ke Negara ini. Disini aku melakukan terapi sekaligus pengobatanku karena aku mengidam penyakit kanker. Bintang tidak pernah tau soal ini karena aku tak pernah bercerita tentang ini semua kepadanya. Aku tak mau kuliah dia terganggu cuman hanya karena memikirkan penyakitku ini. Biarlah hanya aku dan orang tuaku yang tau tentang semua ini. 3 tahun lamanya aku berada di Korea, tapi……. Sepertinya terapi ini tidak ada hasilnya. Semakin hari rambutku semakin tidak ada dan badanku terlihat kurus sekali. Bintang selalu mengirim pesan lewat facebook tapi aku tidak pernah membalas pesan itu Karena jari-jariku tidak kuat untuk mengetik di atas keyboard. Tanganku penuh dengan jarum suntik yang di tusuk setiap hari oleh dokter. Aku juga sulit untuk bernafas, oleh karena itu aku diberi bantuan oksigen. Aku pun meminta bantuan ibuku untuk membalas pesan dari Bintang.
“Assalamualaikum. Maaf aku baru bisa membalas pesanmu hari ini karena aku lama tidak buka facebook lagi. Bagaimana kabarmu hari ini? Aku harap kabarmu hari ini baik-baik saja. Oh iyaa bagaimana dengan kuliahmu? Tentunya sekarang kamu sudah S2. Selamat ya atas keberhasilanmu. Oh yaa kapan kamu pulang ke Indonesia? Aku harap kamu akan kabulkan semua permintaanku. Jika kamu sudah sampai di Indonesia tidak bertemu denganku lagi, jangan pernah lupakan aku yaaa. Disini aku selalu sayang sama kamu. Jangan lupa juga dengan kenangan yang kita lewati bersama. Hanya itu saja yang bisa aku ucapkan. Aku selalu sayang kamu Bintang. Miss you. . . . . :*”
To : Bintang Ariyawan
From : Diana Firdaus Bulan
Aku yakin Bintang akan mengabulkan semua permintaanku itu. Aku pun langsung pulang ke Indonesia karena aku kasihan kepada orang tuaku yang membiayai pengobatanku selama 3 tahun di Korea. Sepulang dari Korea, aku kaget karena melihat Bintang ada di depan rumahku. Perlahan-lahan nafasku semakin habis. “Aku yakin kamu akan kabulkan semua permintaanku” “Aku janji Dian aku akan tepati semua itu” (Bintang pun menangis dihadapanku) Aku senang mendengar semua itu. Mereka berpelukan dengan melepas rasa rindu mereka yang selama 3 tahun tak pernah ketemu. Kini mereka bersatu dengan ikrar dalam janji suci.
Komentar
Posting Komentar