Three days, I Can Love You
Pagi yang cerah membukakan pintu jendela rumah yang awalnya tertutup rapat. Fajar mulai memancarkan wajah dunia, akupun bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Lupa, aku lupa menyiapkan buku mata pelajaran hari ini. Ku persiapkan semuanya dan ku masukkan ke dalam tas. Sekarang hari senin “upacara” aku sengaja berangkat pagi karna akau takut terlambat masuk sekolah. Setiap berangkat sekolah aku always together go to school with my bset friend, Deby. Aku berangkat sekolah dengan mengendarai sepedaa motor hadiah ulang tahunku dari Abah. Begitulah aku memanggil ayahku dengan sebutan Abah. Aku beruntung mempunyai ayah seperti Abah yang perhatian dan selalu mengerti apa yang diinginkan oleh anaknya.Jam 06.20 aku berangkat sekolah, sekolahku tidak terlalu jauh dari rumah. Setibanya di sekolah, aku menaruk sepedaku terlebih dahulu ke tempat parkir. Aku berjalan dengan santai menuju kelas, tanpa sengaja aku berhenti pas di depan cowok keren yang sedang lewat depan kelasku. Tanpa ku sadari, aku jadi tontonan teman-temanku yang asyiknya melihatku bengong melihat cowok keren.
“Della. . . Ehem-ehem, lagi liatin sapa tuh? Serius amat sampek gak ngajak-ngajak” (seorang temanku menegorku sambil memukul pundakku)
“Eemm....ini loh aku lagi liatin tanaman di depan kelas kita bagus banget” (aku mengalihkan pembicaraan)
“Sudahlah gak usah mengalihkan pembicaraanku, aku mengerti dengan gerak gerik matamu. Sudah ayoo masuk kelas dari pada disini kamu jadi tontonan anak-anak semua.” (sambil menarik tanganku ke dalam kelas).
Tak seperti biasanya aku melihat cowok sperti itu. Setelah beberapa saat kemudian, cowok keren tadi pagi yang aku liat masuk ke dalam kelasku dan mengumumkan ke anak-anak semua untuk bagi yang berminat ikut osis. “Ternyata dia kakak kelas, aku kira teman seangkatan” (bisikku dalam hati). Dengan jailnya, teman-teman kelasku mengolok-ngolokku “sapa tuh yang masuk Del? Cowok yang kamu pandang tadi pagi yaa?” Aku malu dan pipiku merah merona. Aku tak tahu harus jawab aja, aku hanya bisa diam dan menundukkan kepala seolah-olah tak mengerti apa-apa.
Bel berbunyi menunjukkan waktu istirahat tiba, aku langsung keluar kelas dan menuju kopsis. Dengan tidak sengaja aku menabrak seorang cowok yang ternyata cowok itu adalah cowok keren yang tadi pagi.
“Maaf kak gak sengaja.” (sambil menundukkan kepala)
“Iyaa gak papa koq dek, oh yaa adek gak berminat ikut osis kah?” (basa basi kakak tadi)
"Hmmm... enggak kak, aku gak berminat. Ikut osis itu terlalu sibuk dan tidak ada waktu luang untuk belajar dan bersama keluarga.” (jawabku seperti orang yang sudah akrab)
“Oh, yasudah kalo gtu.” (tersenyum dan pergi meninggalkanku)
Aku langsung mengambil bukuku yang terjatuh tadi, begitu pula kakak cowok yang keren tadi. Tanpa kusadari bukuku dengan buku kakak yang keren tadi tertukar. Dengan lancangnya aku membuka buku itu. Anugrah Wahyu Pratama XI IPA 3, bagus sekali nama itu. Teringat dengan nama Anugrah yang dulu pernah menjadi kenangan terindah dalam hidupku. Seseorang yang pernah mengisi ruang hati ini, seseorang yang membuatku nyaman didekatnya, seseorang yang tempatku mencurahkan semua keluh kesahku, akan tetapi telah meninggalkan ku dengan alasan karena wanita lain.
"Ahhhh kenapa jadi ingat dia (gumamku dalam hati)"
Sambil menunggu bel pulang berbunyi, aku membaca buku itu. Buku itu berisi cerpen yang sangat bagus dan aku kagum dengan kak Anugrah karna cerpen itu karangan dia sendiri. Bel pulangpun berbunyi aku langsung menuju kelasnya dan berniat mengembalikan buku. Sebelum aku sampai ke kelas XI IPA 3, ternyata kak Anugrah pun juga berniat mengembalikan bukuku tadi yang tertukar.
“Keyla Adelliya yaa..??”
“Kak Anugrah Wahyu Pratama yaaa...??” “Haha.. iyaa dek. Buku kita tertukar yaa? Niih aku kembalikan bukumu.”
“kakak kok tau kalau namaku Keyla Adelliya? Iyaa ini kak aku juga mau mengembalikan buku kakak.”
“Yaiyalah kan tadi aku buka bukumu, maaf yaa kakak lancang.”
“Iyaa gak papa kok kak, aku juga minta maaf sudah lancang buka buku kakak. Kakak hebat yaa bisa buat cerpen, cerpennya bagus.”
“Makasii dek. Yasudah aku pulang duluan karna ada kepentingan mendadak. Basa basinya kita lanjutkan lain hari ya, aku masih bisa ketemu kamu kan?”
“hmmmm iyaa boleh kok kak, Okee kak.”
Sesampainya di rumah aku langsung makan, mandi, dan sholat. Setelah itu kebiasaanku tidur siang. Tapi tak tau kenapa hari ini aku tidak bisa tidur siang. Otakku penuh dengan bayangan kak Anugrah. Aku paksakan mataku untuk bisa tertidur lelap. Setelah beberapa menit kemudian, hapeku bergetar menandakan ada sms masuk. Aku langsung buka sms itu dan ternyata. . . . . . . .kak Anugrah yang sms. Dia memberitahu ku kalau nomer barusan yang masuk itu adalah nomernya, entahlah dia tahu nomerku dari siapa. Aku semakin tidak bisa tertidur lelap.
Waktu terus berputar, jam 05.00 menunjukkan waktu sudah pagi aku pun langsung mengambil air wudhu dan menyegerakan sholat subuh. Hari ini hari minggu yaitu hari libur. Bagiku hari libur ini hari yang membosankan, di rumah aku hanya bisa terdiam di kamar dan hanya bisa menonton tv. 1 smspun tak ada yang masuk di hapeku, sungguh-sungguh membosankan.
Tanpa kusadari hapeku berbunyi dan kagetnya aku ternyata kak Anugrah sms aku untuk yang kedua kalinya. Senangnya hatiku bisa smssan sama kakak yang aku idam-idamkan. Pada hari itu dirumahku lagi tidak ada orang satupun kecuali bibi Mina pembantuku, kedua ortuku lagi ada pekerjaan diluar kota, saudara-saudaraku juga sibuk dengan tugas kuliah -_- . Tapi untungnya hari ini aku mempunyai teman. Kak Anugrah mengajakku untuk bermain basket di lapangan sekolah, kita janjian langsung ketemuan di lapangan basket sekolah. Aku sungguh bingung, harus seperti apakah penampilanku hari ini? Maklum, hati ini sungguh menjadi kacau dan berdebar-debar seolah-olah sedang menghadapi ujian Nasional.
Sesampainya disana, ternyata kak Anugrah sudah datang terlebih dahulu. Kak Anugrah tahu kalau aku jago main basket. Kita berdua bermain bersama dengan deselingi canda tawa layaknya orang yang sudah lama kenal. Kak Nugrahpun berniat untuk membuatkan ku cerpen dengan kisah hidupku yang aku ceritakan padanya. Tak terasa hari sudah senja, kak Anugrahpun mengajakku untuk pulang. Hari ini entahlah kenapa aku lagi tidak enak badan, tak biasanya seperti ini.
Malam hari telah tiba, aku sengaja keluar rumah dan duduk-duduk di halaman belakang utnuk melihat bulan dan bintang. Badanku tambah terasa tidak enak, kulihat bajuku ada bintik-bintik merah. Oh my god, hidungku mimisan. Aku langsung cepat-cepat mengusap hidungku dengan bajuku. Kepalaku pusing, aku langsung pingsan dihalaman belakang tanpa ada seorangpun yang tau.
Tiba-tiba disaat aku membuka mata, aku sudah berada di kamarku. Aku tak tau siapa yang membawaku ke tempat tidurku. Terlihat di depan mataku ada bik Mina dan. . . . . . . . . . . kak Anugrah. Dari mana dia tau rumahku?? Aku bingung dan penuh dengan seribu tanda tanya.
“Kak Anugrah. . . kakak tau dari mana rumahku?”
“Dari bik Mina, bik Mina lah yang menelfonku kalau kamu mimisan dan jatuh pingsan.” (dengan raut muka cemas)
"Bik, tahu darimana nomer kak Anugrah?"
"Maafkan saya non, saya lancang membuka hp non. Disitu ada panggilan terakhir dari salah satu teman non bernama Kak Anugrah, jadi bibik langsung telpon saja non, bibik bingung harus bagaimana lagi."
“Maafkan aku yaa kak aku sudah ngerepotin kakak.”
“Sudah jangan seperti itu, aku ikhlas menolongmu. Aku pulang dulu yaa sudah malam, nanti kalo ada perlu apa-apa sms aku. Jaga diri baik-baik, aku gak mau kamu seperti tadi lagi. Jangan buat aku khawatir.”
“Iyaa kak, makasii yaa.”
Kak Anugrah hanya membalas dengan senyuman dan dia langsung pulang ke rumahnya. Ini sudah kali keduanya aku mimisan. Entah kenapa setiap aku merasa lelah sekali, badanku terasa panas dan langsung mimisan. Aku harap ini hanya mimisan biasa.
Keesokan harinya aku masuk sekolah, terdengar kak Anugrah memanggil namaku dari kejauhan.
“Della. . . . .” (berlari dengan nafas yang tersendat-sendat)
“Iyaa kak, ada perlu apa yaa sepertinya penting.”
“2 hari lagi aku akan ikut kedua orang tuaku ke Jerman. Aku akan melanjutkan sekolahku disana.” “Haaa? Jerman? Kakak yakin? Sampai berapa lama kakak akan tinggal disana?” (jawabku dengan kaget)
“2 tahun sampai pekerjaan kedua ortuku selesei."
Tak sadar pipiku sudah dibasahi oleh air mata.
“Sudahlah jangan menangis. Aku akan pasti kembali untuk dirimu. Oh, yaa kalau nanti aku sudah pulang dari Jerman, aku langsung menuju lapangan basket dan bertemu dengamu. Jangan lupa yaa...” (sambil mengusap air mataku)
Padahal aku baru mengenalnya, tapi kenapa hati ini sangat berbeda? Kenapa Tuhan? Apa ini yang dinamakan cinta? Jika benar ini cinta, bagaimana caraku mengutarakannya? Aku belum menyatakan cintaku kepada kak Anugrah. Aku langsung menuju kelas dan mataku tak henti-hentinya meneteskan air mata.
Hari demi hari aku lewati, hari ini kedua orang tuaku datang dan selesei mengerjakannya tugasnya di luar kota.
“Della. . . . .sudah tidur nak?” (sambil mengetuk pintu kamarku”
“Belum ummi, abah.” (jawabku dengan singkat)
“Ayoo kita makan dulu, abah sama ummi membelikan makanan kesukaanmu sate kambing.”
“Engga ummi, Della gak laper. Ummi aja yang makan sama abah.”
Sudah seminggu ini aku jarang makan, aku hanya makan roti di pagi hari dan tidak menyentuh nasi sedikitpun. Aku tak nafsu makan, mana bisa aku nafsu makan sedangkan kak Anugrah pergi meninggalkanku untuk sekolah di Jerman?. Malangnya nasibku ditinggalkan oleh pria yang aku cintai. Sudah 2 tahun ini kak Anugrah tak pernah mengirimkan sepucuk suratpun untukku. Apakah iyaa aku harus menunggunya? Aku selalu bertanya kepada hati kecilku. Apa iya lelaki itu akan menepati janjinya? Tapi entahlah apa jawaban yang sebenarnya.
Oh, iyaa aku baru ingat pesan kak Anugrah kalau dia langsung menuju lapangan basket untuk bertemu denganku. Aku baru ingat kalau sekarang sudah tepat 2 tahun kak Anugrah meninggalkanku ke Jerman. Oh Tuhan, jalan mana yang harus aku pilih? Apa aku harus kesana dan percaya dengan kata-katanya atau aku diam saja di rumah dengan kepastian yang..... Ahhh Tanpa berpikir panjang, aku langsung bergegas-gegas menuju lapangan basket. Tapi. . . . . . . . . .sesampainya disana ternyata tidak ada seorangpun di lapangan basket kecuali pak Tamin tukang sapu sekolah.
“Pak saya mau nanyak, apakah tadi disini ada cowok tinggi, keren, pakai sepeda megapro?”
“Tidak nenG. Dari tadi bapak tidak melihat orang disini.”
“Oh, yasudah pak makasii” “Iyaa sama-sama nenG.”
Mungkin bentar lagi kak Anugrah datang, jadi aku harus sabar menunggunya (bisikku dalam hati). Awan mulai mendung dan sepertinya akan turun hujan deras. Perkiraanku benar, hujan turun deras dengan ditemani petir yang menyambar-nyambar. Aku hanya tetap berdiam diri di lapangan basket menunggu kak Anugrah datang.
"Mustahil, sungguh mustahil. Kenapa aku harus berdiam diri menunggu sesuatu yang tidak pasti? Kenapa aku sebodoh ini? Seharusnya aku dirumah melanjutkan cerita mimpi di tidurku dan tidak seharusnya aku berada disini.!!!! Tuhan kenapa kau membuatku tak sadar? Aku benci cinta, aku benci semua iniiiii!!! (teriakku di tengah lapangan)
Beberapa saat kemudian, hujan berhenti dan ada seseorang yang memasangkan jaket ke punggungku sambil menutup mataku. Aku tak tau ini sapa, tapi. . . . . sepertinya aku kenal dengan suaranya.
"Jangan pernah salahkan Tuhan hanya karena tentang perasaanmu. Tuhan Maha Adil, Ia tak mungkin membiarkan makhluknya berada di jalan yang salah kecuali dengan suatu alasan yang hanya Tuhan yang tahu. Aku kembali Della, Aku kembali karena cinta tulusmu kepadaku meskipun kita hanya kenal selama 3 hari. Cinta tulusmu lah yang membawaku kembali ke Indonesia ini. Terimakasih sudah menunggu aku lama yang mungkin itu adalah hal yang bosan bagimu. Terimakasih karena sudah rela huja-hujanan di tengah lapangan basket.” (sambil melepaskan tangannya dari mataku)
“Kak Anugrah. . . . . aku kira kamu tidak akan menepati janjimu yang kamu ucapkan 2 tahun lalu.”
“Aku pasti tepati janjiku Della, aku tak akan pernah melupakanmu. Aku ingin mengucapkan sesuatu yang sudah lama aku pendam dan mungkin ini saatnya aku katakan padamu.”
“Makasi yaa kak udah mau nepati janjimu. Apa itu?”
“Aku mau bilang kalau aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu sejak pertama bertemu. Matamu yang membuat hatiku luluh Della. Sikapmu, senyummu, cinta tulusmu, tatapanmu, semuanya aku suka darimu. Mungkin aku adalah satu-satunya lelaki yang memiliki kePDan tingkat tinggi, padahal kamu belum pernah menyatakan perasaan cintamu padaku tapi aku sudah merasakan hal itu. Mungkin hanya lelaki bodoh, begok, buta, yang meninggalkan mu hanya karena wanita lain. Maaf aku telah lancang membaca bukumu yang sempat tertukar dengan bukuku 2 tahun yang lalu.”
“Sebenarnya aku juga suka sama kak Anugrah sudah sejak lama tapi aku malu yang mau mengatakannya. Aku tak tahu kak darimana rasa ini tumbuh. Aku tak pernah menginginkannya, jika aku bisa melupakanmu sudah pasti aku lupakan sejak kamu pergi meninggalkanku. Akan tetapi hati ini begitu yakin dengan rasa ini sehingga ruang hati ini tetap diisi oleh lelaki yang hanya aku kenal selama 3 hari.”
“Sekarang kita berdua sudah tau tentang perasaan kita masing-masing, Maukah kamu menjadi pendamping hidupku sampai kelak nanti?”
“Iyaa kak aku bersedia menjadi pendampingmu sampai kelak nanti. Tapi aku mau kakak mencintaiku karna Allah SWT bukan karna hawa nafsu. Karena aku trauma dengan kejadian yang pernah terjadi pada diriku kak”
“Jika aku mencintaimu hanya karena hawa nafsu, mungkin sejak pertama bertemu aku sudah menembakmu dan membawamu ke hotel untuk membuatku puas. Jangan ucapkan itu padaku, Aku tahu itu, Bantu aku untuk selalu mencintaimu hanya karnaNya."
Akupun tersenyum lepas setelah mendengar semua ucapan itu dari mulut kak Anugrah sendiri. Aku yakin kak Anugrah adalah Anugerah yang Tuhan berikan kepadaku dan akan menjadi pendamping diriku sampai akhir kelak nanti. Aamiiin
“Della. . . Ehem-ehem, lagi liatin sapa tuh? Serius amat sampek gak ngajak-ngajak” (seorang temanku menegorku sambil memukul pundakku)
“Eemm....ini loh aku lagi liatin tanaman di depan kelas kita bagus banget” (aku mengalihkan pembicaraan)
“Sudahlah gak usah mengalihkan pembicaraanku, aku mengerti dengan gerak gerik matamu. Sudah ayoo masuk kelas dari pada disini kamu jadi tontonan anak-anak semua.” (sambil menarik tanganku ke dalam kelas).
Tak seperti biasanya aku melihat cowok sperti itu. Setelah beberapa saat kemudian, cowok keren tadi pagi yang aku liat masuk ke dalam kelasku dan mengumumkan ke anak-anak semua untuk bagi yang berminat ikut osis. “Ternyata dia kakak kelas, aku kira teman seangkatan” (bisikku dalam hati). Dengan jailnya, teman-teman kelasku mengolok-ngolokku “sapa tuh yang masuk Del? Cowok yang kamu pandang tadi pagi yaa?” Aku malu dan pipiku merah merona. Aku tak tahu harus jawab aja, aku hanya bisa diam dan menundukkan kepala seolah-olah tak mengerti apa-apa.
Bel berbunyi menunjukkan waktu istirahat tiba, aku langsung keluar kelas dan menuju kopsis. Dengan tidak sengaja aku menabrak seorang cowok yang ternyata cowok itu adalah cowok keren yang tadi pagi.
“Maaf kak gak sengaja.” (sambil menundukkan kepala)
“Iyaa gak papa koq dek, oh yaa adek gak berminat ikut osis kah?” (basa basi kakak tadi)
"Hmmm... enggak kak, aku gak berminat. Ikut osis itu terlalu sibuk dan tidak ada waktu luang untuk belajar dan bersama keluarga.” (jawabku seperti orang yang sudah akrab)
“Oh, yasudah kalo gtu.” (tersenyum dan pergi meninggalkanku)
Aku langsung mengambil bukuku yang terjatuh tadi, begitu pula kakak cowok yang keren tadi. Tanpa kusadari bukuku dengan buku kakak yang keren tadi tertukar. Dengan lancangnya aku membuka buku itu. Anugrah Wahyu Pratama XI IPA 3, bagus sekali nama itu. Teringat dengan nama Anugrah yang dulu pernah menjadi kenangan terindah dalam hidupku. Seseorang yang pernah mengisi ruang hati ini, seseorang yang membuatku nyaman didekatnya, seseorang yang tempatku mencurahkan semua keluh kesahku, akan tetapi telah meninggalkan ku dengan alasan karena wanita lain.
"Ahhhh kenapa jadi ingat dia (gumamku dalam hati)"
Sambil menunggu bel pulang berbunyi, aku membaca buku itu. Buku itu berisi cerpen yang sangat bagus dan aku kagum dengan kak Anugrah karna cerpen itu karangan dia sendiri. Bel pulangpun berbunyi aku langsung menuju kelasnya dan berniat mengembalikan buku. Sebelum aku sampai ke kelas XI IPA 3, ternyata kak Anugrah pun juga berniat mengembalikan bukuku tadi yang tertukar.
“Keyla Adelliya yaa..??”
“Kak Anugrah Wahyu Pratama yaaa...??” “Haha.. iyaa dek. Buku kita tertukar yaa? Niih aku kembalikan bukumu.”
“kakak kok tau kalau namaku Keyla Adelliya? Iyaa ini kak aku juga mau mengembalikan buku kakak.”
“Yaiyalah kan tadi aku buka bukumu, maaf yaa kakak lancang.”
“Iyaa gak papa kok kak, aku juga minta maaf sudah lancang buka buku kakak. Kakak hebat yaa bisa buat cerpen, cerpennya bagus.”
“Makasii dek. Yasudah aku pulang duluan karna ada kepentingan mendadak. Basa basinya kita lanjutkan lain hari ya, aku masih bisa ketemu kamu kan?”
“hmmmm iyaa boleh kok kak, Okee kak.”
Sesampainya di rumah aku langsung makan, mandi, dan sholat. Setelah itu kebiasaanku tidur siang. Tapi tak tau kenapa hari ini aku tidak bisa tidur siang. Otakku penuh dengan bayangan kak Anugrah. Aku paksakan mataku untuk bisa tertidur lelap. Setelah beberapa menit kemudian, hapeku bergetar menandakan ada sms masuk. Aku langsung buka sms itu dan ternyata. . . . . . . .kak Anugrah yang sms. Dia memberitahu ku kalau nomer barusan yang masuk itu adalah nomernya, entahlah dia tahu nomerku dari siapa. Aku semakin tidak bisa tertidur lelap.
Waktu terus berputar, jam 05.00 menunjukkan waktu sudah pagi aku pun langsung mengambil air wudhu dan menyegerakan sholat subuh. Hari ini hari minggu yaitu hari libur. Bagiku hari libur ini hari yang membosankan, di rumah aku hanya bisa terdiam di kamar dan hanya bisa menonton tv. 1 smspun tak ada yang masuk di hapeku, sungguh-sungguh membosankan.
Tanpa kusadari hapeku berbunyi dan kagetnya aku ternyata kak Anugrah sms aku untuk yang kedua kalinya. Senangnya hatiku bisa smssan sama kakak yang aku idam-idamkan. Pada hari itu dirumahku lagi tidak ada orang satupun kecuali bibi Mina pembantuku, kedua ortuku lagi ada pekerjaan diluar kota, saudara-saudaraku juga sibuk dengan tugas kuliah -_- . Tapi untungnya hari ini aku mempunyai teman. Kak Anugrah mengajakku untuk bermain basket di lapangan sekolah, kita janjian langsung ketemuan di lapangan basket sekolah. Aku sungguh bingung, harus seperti apakah penampilanku hari ini? Maklum, hati ini sungguh menjadi kacau dan berdebar-debar seolah-olah sedang menghadapi ujian Nasional.
Sesampainya disana, ternyata kak Anugrah sudah datang terlebih dahulu. Kak Anugrah tahu kalau aku jago main basket. Kita berdua bermain bersama dengan deselingi canda tawa layaknya orang yang sudah lama kenal. Kak Nugrahpun berniat untuk membuatkan ku cerpen dengan kisah hidupku yang aku ceritakan padanya. Tak terasa hari sudah senja, kak Anugrahpun mengajakku untuk pulang. Hari ini entahlah kenapa aku lagi tidak enak badan, tak biasanya seperti ini.
Malam hari telah tiba, aku sengaja keluar rumah dan duduk-duduk di halaman belakang utnuk melihat bulan dan bintang. Badanku tambah terasa tidak enak, kulihat bajuku ada bintik-bintik merah. Oh my god, hidungku mimisan. Aku langsung cepat-cepat mengusap hidungku dengan bajuku. Kepalaku pusing, aku langsung pingsan dihalaman belakang tanpa ada seorangpun yang tau.
Tiba-tiba disaat aku membuka mata, aku sudah berada di kamarku. Aku tak tau siapa yang membawaku ke tempat tidurku. Terlihat di depan mataku ada bik Mina dan. . . . . . . . . . . kak Anugrah. Dari mana dia tau rumahku?? Aku bingung dan penuh dengan seribu tanda tanya.
“Kak Anugrah. . . kakak tau dari mana rumahku?”
“Dari bik Mina, bik Mina lah yang menelfonku kalau kamu mimisan dan jatuh pingsan.” (dengan raut muka cemas)
"Bik, tahu darimana nomer kak Anugrah?"
"Maafkan saya non, saya lancang membuka hp non. Disitu ada panggilan terakhir dari salah satu teman non bernama Kak Anugrah, jadi bibik langsung telpon saja non, bibik bingung harus bagaimana lagi."
“Maafkan aku yaa kak aku sudah ngerepotin kakak.”
“Sudah jangan seperti itu, aku ikhlas menolongmu. Aku pulang dulu yaa sudah malam, nanti kalo ada perlu apa-apa sms aku. Jaga diri baik-baik, aku gak mau kamu seperti tadi lagi. Jangan buat aku khawatir.”
“Iyaa kak, makasii yaa.”
Kak Anugrah hanya membalas dengan senyuman dan dia langsung pulang ke rumahnya. Ini sudah kali keduanya aku mimisan. Entah kenapa setiap aku merasa lelah sekali, badanku terasa panas dan langsung mimisan. Aku harap ini hanya mimisan biasa.
Keesokan harinya aku masuk sekolah, terdengar kak Anugrah memanggil namaku dari kejauhan.
“Della. . . . .” (berlari dengan nafas yang tersendat-sendat)
“Iyaa kak, ada perlu apa yaa sepertinya penting.”
“2 hari lagi aku akan ikut kedua orang tuaku ke Jerman. Aku akan melanjutkan sekolahku disana.” “Haaa? Jerman? Kakak yakin? Sampai berapa lama kakak akan tinggal disana?” (jawabku dengan kaget)
“2 tahun sampai pekerjaan kedua ortuku selesei."
Tak sadar pipiku sudah dibasahi oleh air mata.
“Sudahlah jangan menangis. Aku akan pasti kembali untuk dirimu. Oh, yaa kalau nanti aku sudah pulang dari Jerman, aku langsung menuju lapangan basket dan bertemu dengamu. Jangan lupa yaa...” (sambil mengusap air mataku)
Padahal aku baru mengenalnya, tapi kenapa hati ini sangat berbeda? Kenapa Tuhan? Apa ini yang dinamakan cinta? Jika benar ini cinta, bagaimana caraku mengutarakannya? Aku belum menyatakan cintaku kepada kak Anugrah. Aku langsung menuju kelas dan mataku tak henti-hentinya meneteskan air mata.
Hari demi hari aku lewati, hari ini kedua orang tuaku datang dan selesei mengerjakannya tugasnya di luar kota.
“Della. . . . .sudah tidur nak?” (sambil mengetuk pintu kamarku”
“Belum ummi, abah.” (jawabku dengan singkat)
“Ayoo kita makan dulu, abah sama ummi membelikan makanan kesukaanmu sate kambing.”
“Engga ummi, Della gak laper. Ummi aja yang makan sama abah.”
Sudah seminggu ini aku jarang makan, aku hanya makan roti di pagi hari dan tidak menyentuh nasi sedikitpun. Aku tak nafsu makan, mana bisa aku nafsu makan sedangkan kak Anugrah pergi meninggalkanku untuk sekolah di Jerman?. Malangnya nasibku ditinggalkan oleh pria yang aku cintai. Sudah 2 tahun ini kak Anugrah tak pernah mengirimkan sepucuk suratpun untukku. Apakah iyaa aku harus menunggunya? Aku selalu bertanya kepada hati kecilku. Apa iya lelaki itu akan menepati janjinya? Tapi entahlah apa jawaban yang sebenarnya.
Oh, iyaa aku baru ingat pesan kak Anugrah kalau dia langsung menuju lapangan basket untuk bertemu denganku. Aku baru ingat kalau sekarang sudah tepat 2 tahun kak Anugrah meninggalkanku ke Jerman. Oh Tuhan, jalan mana yang harus aku pilih? Apa aku harus kesana dan percaya dengan kata-katanya atau aku diam saja di rumah dengan kepastian yang..... Ahhh Tanpa berpikir panjang, aku langsung bergegas-gegas menuju lapangan basket. Tapi. . . . . . . . . .sesampainya disana ternyata tidak ada seorangpun di lapangan basket kecuali pak Tamin tukang sapu sekolah.
“Pak saya mau nanyak, apakah tadi disini ada cowok tinggi, keren, pakai sepeda megapro?”
“Tidak nenG. Dari tadi bapak tidak melihat orang disini.”
“Oh, yasudah pak makasii” “Iyaa sama-sama nenG.”
Mungkin bentar lagi kak Anugrah datang, jadi aku harus sabar menunggunya (bisikku dalam hati). Awan mulai mendung dan sepertinya akan turun hujan deras. Perkiraanku benar, hujan turun deras dengan ditemani petir yang menyambar-nyambar. Aku hanya tetap berdiam diri di lapangan basket menunggu kak Anugrah datang.
"Mustahil, sungguh mustahil. Kenapa aku harus berdiam diri menunggu sesuatu yang tidak pasti? Kenapa aku sebodoh ini? Seharusnya aku dirumah melanjutkan cerita mimpi di tidurku dan tidak seharusnya aku berada disini.!!!! Tuhan kenapa kau membuatku tak sadar? Aku benci cinta, aku benci semua iniiiii!!! (teriakku di tengah lapangan)
Beberapa saat kemudian, hujan berhenti dan ada seseorang yang memasangkan jaket ke punggungku sambil menutup mataku. Aku tak tau ini sapa, tapi. . . . . sepertinya aku kenal dengan suaranya.
"Jangan pernah salahkan Tuhan hanya karena tentang perasaanmu. Tuhan Maha Adil, Ia tak mungkin membiarkan makhluknya berada di jalan yang salah kecuali dengan suatu alasan yang hanya Tuhan yang tahu. Aku kembali Della, Aku kembali karena cinta tulusmu kepadaku meskipun kita hanya kenal selama 3 hari. Cinta tulusmu lah yang membawaku kembali ke Indonesia ini. Terimakasih sudah menunggu aku lama yang mungkin itu adalah hal yang bosan bagimu. Terimakasih karena sudah rela huja-hujanan di tengah lapangan basket.” (sambil melepaskan tangannya dari mataku)
“Kak Anugrah. . . . . aku kira kamu tidak akan menepati janjimu yang kamu ucapkan 2 tahun lalu.”
“Aku pasti tepati janjiku Della, aku tak akan pernah melupakanmu. Aku ingin mengucapkan sesuatu yang sudah lama aku pendam dan mungkin ini saatnya aku katakan padamu.”
“Makasi yaa kak udah mau nepati janjimu. Apa itu?”
“Aku mau bilang kalau aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu sejak pertama bertemu. Matamu yang membuat hatiku luluh Della. Sikapmu, senyummu, cinta tulusmu, tatapanmu, semuanya aku suka darimu. Mungkin aku adalah satu-satunya lelaki yang memiliki kePDan tingkat tinggi, padahal kamu belum pernah menyatakan perasaan cintamu padaku tapi aku sudah merasakan hal itu. Mungkin hanya lelaki bodoh, begok, buta, yang meninggalkan mu hanya karena wanita lain. Maaf aku telah lancang membaca bukumu yang sempat tertukar dengan bukuku 2 tahun yang lalu.”
“Sebenarnya aku juga suka sama kak Anugrah sudah sejak lama tapi aku malu yang mau mengatakannya. Aku tak tahu kak darimana rasa ini tumbuh. Aku tak pernah menginginkannya, jika aku bisa melupakanmu sudah pasti aku lupakan sejak kamu pergi meninggalkanku. Akan tetapi hati ini begitu yakin dengan rasa ini sehingga ruang hati ini tetap diisi oleh lelaki yang hanya aku kenal selama 3 hari.”
“Sekarang kita berdua sudah tau tentang perasaan kita masing-masing, Maukah kamu menjadi pendamping hidupku sampai kelak nanti?”
“Iyaa kak aku bersedia menjadi pendampingmu sampai kelak nanti. Tapi aku mau kakak mencintaiku karna Allah SWT bukan karna hawa nafsu. Karena aku trauma dengan kejadian yang pernah terjadi pada diriku kak”
“Jika aku mencintaimu hanya karena hawa nafsu, mungkin sejak pertama bertemu aku sudah menembakmu dan membawamu ke hotel untuk membuatku puas. Jangan ucapkan itu padaku, Aku tahu itu, Bantu aku untuk selalu mencintaimu hanya karnaNya."
Akupun tersenyum lepas setelah mendengar semua ucapan itu dari mulut kak Anugrah sendiri. Aku yakin kak Anugrah adalah Anugerah yang Tuhan berikan kepadaku dan akan menjadi pendamping diriku sampai akhir kelak nanti. Aamiiin
Komentar
Posting Komentar